Trump Kirim Invoice untuk Kanselir Merkel

0
96

Nusantara.news Presiden Amerika Serikat Donald Trump tak henti memicu sensasi. Setelah beberapa waktu lalu “berkicau” lewat akun twitternya tentang utang Jerman terhadap organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), berikutnya pemerintah Trump membuat daftar tagihan (invoice) untuk pemerintah Jerman sebesar USD 300 juta. Jumlah itu merupakan besaran utang plus bunga yang harusnya dibayar Jerman ke NATO, karena sejak 2002 anggaran pertahanan Jerman semestinya sudah 2% dari PDB negara tersebut, namun hingga saat ini masih 1,2%.

Sebagaimana dilansir surat kabar Inggris The Sunday Times, Minggu (26/3) menurut sumber pejabat kementerian Jerman yang tidak mau disebut namanya, Trump telah membuat invoice yang menguraikan perkiraan jumlah utang Jerman terhadap NATO. Hitungan dibuat oleh para pembantu Trump meliputi kontribusi yang seharusnya dibayar Jerman untuk bidang pertahanan.

Negara-negara NATO berjanji pada tahun 2014 untuk menghabiskan 2% dari PDB mereka pada bidang pertahanan, sesuatu yang baru dilakukan segelintir negara, yaitu Inggris, Yunani, Polandia dan Estonia.

Utang Jerman dihitung oleh tim Trump sejak tahun 2002, dimana pendahulu Merkel, Gerhard Schröder pernah berjanji untuk mengeluarkan lebih banyak anggaran untuk pertahanan. Trump memerintahkan untuk menghitung berapa banyak seharusnya pengeluaran Jerman yang selama 12 tahun terakhir masih di bawah 2%, kemudian ditambah bunga. Diperkirakan totalnya mencapai USD 300 juta dengan rincian USD 250 juta utang pokok ditambah bunga USD 50 juta.

Pejabat itu mengatakan bahwa langkah pemerintah Trump sungguh keterlaluan. “Di balik tuntutan tersebut tujuannya adalah mengintimidasi, tapi Kanselir (Merkel) merespon dengan tenang dan tidak menanggapi provokasi tersebut,” kata pejabat yang tak mau disebut namanya itu.

Invoice Trump tersebut menyusul insiden penolakan jabat tangan Trump pada saat konferensi pers dalam kunjungan Kanselir Jerman Angela Merkel ke Gedung Putih beberapa waktu lalu (baca: Proteksionisme AS Tak Terbendung: Presiden Trump Permalukan Kanselir Merkel Dua Kali).

Sehari setelah pertemuan, Trump juga terkesan “memprovokasi” Jerman dengan tweetnya, “Jerman berutang… sejumlah besar uang untuk NATO dan Amerika Serikat harus membayar lebih, dan sangat mahal, untuk memberikan pertahanan yang kuat bagi Jerman!”

Menanggapi klaim tersebut, menteri pertahanan Jerman Ursula Von der Leyen menolak anggapan bahwa bangsa Eropa berutang terhadap AS atau NATO.

“Tidak ada rekening utang di NATO,” katanya. “Belanja Pertahanan juga termasuk dalam misi penjaga perdamaian PBB, misi Eropa dan menjadi kontribusi kami untuk memerangi terorisme (ISIS).”

Komentar Leyen didukung Ivo Daalder, wakil tetap AS untuk NATO tahun 2009-2013 di bawah pemerintahan Obama, yang menanyakan pemahaman Presiden AS terhadap organisasi tersebut.

Daalder men-tweet, “Maaf Pak Presiden, itu bukan tentang bagaimana NATO bekerja. AS memutuskan bagi dirinya sendiri berapa kontribusi untuk NATO.”

“Ini bukan transaksi keuangan, di mana negara-negara NATO membayar AS untuk membela mereka. Ini adalah bagian dari komitmen perjanjian kami,” tambahnya.

Trump telah berulang kali menyuarakan kritik atas kontribusi anggota NATO, memunculkan keraguan soal komitmen AS terhadap organisasi NATO ke depan. AS, dalam hal ini Presiden Trump mengklaim, dipaksi untuk mengambil beban dalam membiayai pertahanan sejumlah anggota NATO, termasuk Jerman.

Gedung Putih membantah

Sementara itu, Gedung Putih membantah laporan media soal kiriman invoice Presiden Trump kepada Kanselir Merkel. Pihak Gedung Putih menyatakan itu sebagai klaim palsu. Bantahan-bantahan serupa juga sering dilakukan pihak Gedung Putih terkait berita di media yang dianggap merugikan Trump, seperti skandal hubungan Trump dengan Rusia, penolakan wartawan dalam briefing harian dan lain sebagainya.

Juru bicara Gedung Putih, Michael Short membantah laporan media tentang invoice Donald Trump kepada Angela Merkel dan menganggapnya sebagai laporan palsu.

Jerman merupakan penyandang dana terbesar kedua dalam anggaran sipil dan militer NATO, dengan jumlah hampir 14% , setelah itu Inggris dan Prancis dengan masing-masing 10,6% dan 9,8%. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here