Trump “Lolos Sensor” AIPAC

1
208

Nusantara.news, Jakarta – Langkah Trump untuk maju menjadi kandidat dalam capres Pilpres AS di 2016 ditanggapi secara beragam oleh warga Yahudi di AS. Retorika kampanyenya yang agak bernada rasis membuat komunitas Yahudi di AS kurang menyukai sosok ini. Sebagai kelompok masyarakat non ras putih dan berada pada posisi minoritas, komunitas Yahudi di AS mengkhawatirkan kebijakan Trump terhadap kaum minoritas seandainya ia terpilih menjadi presiden AS yang ke 45.

Isu rasial memang sensitif bagi komunitas Yahudi yang bermukim di luar “Tanah yang Dijanjikan” oleh Kitab Taurat itu.  Pembantaian Nazi di Jerman yang mengusung supremasi ras Aria di era Perang Dunia II terhadap kaum Yahudi agaknya masih menjadi memori hitam bagi mereka. Oleh karenanya, tampilnya Trump yang maju sebagai capres menimbulkan reaksi sengit dari komunitas Yahudi di AS.

Ketokohan David Friedman yang berdarah Yahudi tulen dan pembela Israel militan yang menjadi orang di lingkar pertama Trump rupanya belum dapat meyakinkan komunitas Yahudi di AS bahwa Trump benar-benar akan bersahabat dengan mereka.

Sebaliknya, tokoh-tokoh Yahudi sayap kanan merasa yakin bahwa Trump merupakan sosok yang tepat bagi kelangsungan hidup dan perlindungan bagi masyarakat Yahudi dan Israel. Kontroversi pun merebak di kalangan komunitas Yahudi di AS.

Perdebatan sengit di internal masyarakat Yahudi di AS dalam merespon seorang capres muncul ke permukaan. Muncul perdebatan sengit di internal komunitas Yahudi menyangkut sosok capres  belum pernah terjadi dalam sejarah pilpres di negeri Paman Sam itu. Lebih dari itu, kontroversi yang terjadi tampil secara terbuka di publik melalui sejumlah media.

Organisasi Lobby Israel Turun Tangan

Untuk mendudukkan persoalan itu, AIPAC (American Israel Public Affairs Committee), sebuah organisasi lobby Israel di AS pada 21 Maret 2016 mengundang Trump untuk memaparkan visi-misinya. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan arah dan rencana Trump ke depan menyangkut hubungan AS-Israel seandainya ia terpilih menjadi presiden, sekaligus untuk memastikan kebenaran terkait isu-isu yang berkembang di komunitas Yahudi tentang sikap rasis Trump.

Kelompok Yahudi penentang Trump menolak ide tersebut. Mereka beranggapan, sikap rasis yang sering diperlihatkan Trump melalui berbagai pernyataanya sudah cukup sebagai bukti. Oleh karenanya, kelompok ini menilai bahwa Trump tidak pantas untuk tampil dalam forum semacam itu. Mereka menyatakan, akan hadir dalam forum itu, namun dalam bentuk aksi protes.

Di luar dugaan, Trump yang tampil di forum AIPAC ternyata memperoleh applause meriah dari hadirin. Dalam pidatonya di hadapan para tokoh AIPAC itu Trump melontarkan berbagai kritik tajam terhadap pemerintahan AS yang dinilainya “kurang bersahabat dengan Israel.” Fokus utama yang ditekankan oleh Trump adalah soal kesepakatan nuklir dengan Iran yang dilakukan Presiden Obama. Trump menilai kebijakan itu “mengabaikan kepentingan Israel.” Apa yang dilakukan pemerintah Obama terhadap Israel menurut Trump, “Mungkin hal terburuk yang pernah terjadi pada Israel. Percayalah.” Pernyataan ini mendapat respon tepuk tangan bergemuruh dari peserta.

Trump berjanji di hadapan forum bahwa jika ia terpilih menjadi presiden, hubungan AS – Israel akan semakin diperkokoh, kesepakatan nuklir dengan Iran akan dibatalkan, dan akan bersikap “lebih keras” terhadap komunitas Muslim.

Namun, beberapa elemen masyarakat Yahudi di AS tetap melakukan protes atas tampilnya. Selain diwarnai oleh aksi walk out, ratusan pemuda Yahudi di luar forum berunjuk rasa memprotes Trump. Sosok pemilik Trump Plaza ini oleh sebagian warga Yahudi di AS dianggap terlalu ekstrim dalam bersikap dan berbahaya.

Di sisi lain, kritik keras Trump terhadap Presiden Obama ternyata juga punya implikasi tersendiri bagi AIPAC. Forum yang awalnya ingin melakukan klarifikasi tentang visi dan misi Trump terkait dengan kepentingan Israel ternyata berkembang sedemikian rupa menjadi “pengadilan” yang menjurus pada olok-olok terhadap kebijakan pemerintahan Obama. Kejadian ini kontan membuat para petinggi AIPAC sendiri merasa kurang nyaman.

Kejadian semacam itu oleh para petinggi AIPAC sendiri dinilai “kurang sopan” dan dapat menyinggung perasaan umum publik AS. Para boss AIPAC ternyata tidak mampu mengontrol jalannya acara. Bagaimanapun AIPAC—sebagai organisasi lobby yang mewakili orang-orang Israel—tidak ingin memberi kesan pada masyarakat AS bahwa organisasi ini ikut cawe-cawe dalam pilpres yang merupakan urusan dalam negeri AS.

Oleh karenanya, secara terbuka Presiden AIPAC Lillian Pinkus memohon maaf atas kejadian di forum AIPAC. Dengan nada rendah hati ia menyatakan, “Kita mungkin memiliki perbedaan dalam menilai kebijakan, namun kami sangat menghormati  presiden kami, Barack Obama. Sebenarnya ada orang-orang dalam keluarga AIPAC yang sangat terluka tadi malam dan kami sangat menyesal.”

Namun satu hal yang pasti adalah bahwa Trump secara politis telah “lolos sensor” dari AIPAC. Berkat pemaparan visi dan misinya di forum tersebut, AIPAC menganggap sosok ini layak didukung, bukan saja karena Trump tidak membahayakan bagi kepentingan Israel, tetapi juga karena ia akan memperkokoh kerjasama kedua negara dan siap membela Israel jika ia terpilih menjadi presiden AS.

Kelompok Yahudi di AS Demo Trump

Kuatnya antusiasme AIPAC terhadap Trump awalnya dilatarbelakangi oleh kekecewaan Israel terhadap Presiden Obama terkait dengan kesepakatan nuklir Iran yang telah berhasil dicapai oleh  negara-negara yang menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB, yakni AS, Inggris, Rusia dan Perancis ditambah dengan Jerman dan Uni Europa. Beberapa poin utama kesepakatan tersebut adalah para pihak menyetuji penghentian program pengembangan senjata nuklir oleh Iran, sekalipun negara ini masih diperbolehkan untuk melakukan pengayaan uranium.

Dari kesepakatan itu Iran memperoleh beberapa konsesi, yaitu: 1. Pencairan seluruh aset Iran yang dibekukan di luar negeri oleh AS pasca Revolusi Iran di tahun 1979 (yang besarnya diperkirakan mencapai U$150 miliar), 2. Mencabut sanksi ekonomi Iran, dan 3. Menghapus label “negara teroris” yang sebelumnya dilekatkan ke Iran.

Keberatan Israel atas kesepakatan ini didasarkan atas penilaian bahwa konsesi yang diperoleh Iran “terlalu besar”. Israel menghendaki agar kesepakatan nuklir Iran hanya tertuju pada satu poin: pelarangan pengembangan senjata nuklir, tanpa konsesi apapun bagi Iran.

Di mata Israel, sekalipun Iran setuju menghentikan program nuklirnya, namun konsesi yang diberikan kepada Iran dinilai berpotensi membuat negara itu semakin tumbuh menjadi super power di Timur Tengah. Menurut perspektif Israel, penghentian program nuklir Iran akan percuma jika negara itu mendapat kompensasi dalam bentuk lain tetapi memiliki bobot yang sama—bahkan lebih besar dibandingkan—dengan potensi tenaga nuklir.

Sebagai catatan tambahah, Iran adalah negara yang memiliki deposit gas alam terbesar di Timur Tengah dan nomor dua terbesar di dunia setelah Rusia. Dengan kandungan gas sebesar  29,6 trilliun meter kubik atau sekitar 15% dari cadangan gas dunia Iran bersama Rusia kini tengah melaksanakan program pengembangan jaringan pipa gas di Asia Tengah yang terkoneksi dengan jaringan pipa gas di Eropa. Sanksi ekonomi terhadap Iran yang telah dicabut akan membuat negara ini leluasa untuk menjalin kerjasama ekonomi internasional, termasuk mengekspor gas alamnya.

Iran juga merupakan salah satu inisiator terbentuknya Gas Exporting Countries Forum (GECF). Di tengah pertarungan dan persaingan berskala global dalam memperebutkan sumber energi Iran jelas akan menjadi pemain kunci di sektor gas alam, tidak saja di Timur Tengah, tetapi juga di Asia Tengah dan Eropa Timur.

Israel tentu dapat membayangkan apa yang akan terjadi terhadap dirinya jika musuhnya tumbuh menjadi raksasa. Kekhawatiran Israel terhadap potensi Iran menjadi negara adi daya di Timur Tengah dan Asia Tengah jelas bukan omong kosong.

Oleh karenanya, tidak mengherankan jika Sejak awal AIPAC—sebagai wadah artikulasi kepentingan politik Israel di AS—selalu menentang rancangan kesepakatan nuklir Iran. Selama proses perundingan para pihak dan Iran berlangsung, AIPAC menyodorkan opsi rancangan “alternatif” (baca: penghentian program nuklir Iran, tanpa konsesi apapun) kepada pemerintah AS.

Namun, Presiden Obama sendiri juga terikat oleh berbagai pertimbangan para pihak yang terlibat dalam merancang kesepakatan tersebut. Akibatnya, ia cenderung mengabaikan opsi yang ditawarkan Israel. Di mata Obama kesepakatan nuklir Iran yang melibatkan banyak pihak di luar Israel akan jauh lebih adil, karena membuka ruang bagi berbagai pertimbangan, sementara AIPAC melihat persoalan ini melulu berdasarkan sudut pandangnya sendiri. Dengan kata lain, Obama sebenarnya mengabaikan sikap Israel yang terlalu egois dalam kasus nuklir Iran.

Dengan kondisi semacam itu AIPAC tampak kehilangan harapan pada Hillary Clinton, capres dari Partai Demokrat yang dinilai tidak akan banyak melakukan perubahan penting atas kesepakatan nuklir Iran jika ia terpilih menjadi presiden. Bagi AIPAC, mendorong tampilnya Hillary sebagai presiden AS sama artinya dengan menikam diri sendiri. Inilah salah satu faktor penting yang menjadi pertimbangan AIPAC yang akhirnya memutuskan untuk mendukung Trump ketimbang Hillary—sekalipun tidak dinyatakan secara terbuka.

Desas-desus politik di AS pasca kemenangan Trump sempat diwarnai spekulasi sesaat bahwa AIPAC “terjun secara total dengan mengerahkan berbagai sumber daya” untuk menghadang Hillary mencapai kemenangan melalui silent operation, hampir mirip dengan desas-desus atau spekulasi tentang keterlibatan dinas rahasia Rusia dalam memenangkan Trump. Namun, sejauh ini fakta-fakta terkait dengan spekulasi keterlibatan AIPAC belum dapat dikonfirmasi kebenarannya.

Setelah hampir dua pekan berkantor di Gedung Putih, Trump telah menandatangani 12 executive order, namun tak satupun yang berisi pembatalan kesepakatan nuklir dengan Iran. Soal ini agaknya tidak mudah dilakukan Trump, mengingat kesepakatan itu diteken bersama oleh banyak pihak. Namun, satu hal yang dapat dipastikan adalah bahwa AIPAC akan menagih janji Trump untuk membatalkannya atau setidak-tidaknya mengupayakan renegoisasi dengan para pihak untuk menekan Iran. [] (Disarikan dari beberapa sumber)

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here