Trump Memilih pro-Saudi, pro-Rusia, dan anti-Eropa

0
151

Nusantara.news – Kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump mengalami perubahan yang sangat mencolok. Dilihat dari hasil perjalanan luar negeri pertama presiden Trump selama 9 hari pekan lalu, dia terkesan mengabaikan Eropa, sekutu militer dan perdagangan AS selama kira-kira 70 tahunan itu. Trump lebih memilih membangun “kemesraan” dengan Arab Saudi, juga dengan Rusia, kedekatan yang sudah terbaca sejak awal pemerintahannya.

Kunjungan Trump ke Eropa, baik pada pertemuan puncak para pemimpin negara anggota NATO di Brussels Belgia maupun pada pertemuan negara-negara G-7 di Sisilia Italia dianggap mengecewakan oleh negara-negara Eropa, terutama Jerman yang paling menunjukkan kekecewaannya.

Kanselir Jerman Angela Merkel dalam kampanye untuk Pemilu Jerman di Munich, Minggu (25/5) menyatakan, “Eropa tidak bisa lagi bergantung dengan Amerika.” Kata Merkel, Eropa harus mulai berpikir untuk menentukan nasibnya sendiri, tanpa bergantung pada negara kekuatan ekonomi utama dunia itu. Pernyataan serupa kembali diulang oleh Merkel pada hari Selasa ketika di hadapan para wartawan.

Pernyataan yang bisa jadi menunjukkan kekecewaan amat dalam dari Kanselir yang pernah ditolak bersalaman oleh Trump di hadapan wartawan di Gedung Putih itu, saat dia diundang oleh Presiden AS tidak lama setelah dia dilantik. Tapi mungkin juga pernyataan itu sebagai strategi politik kampanye Merkel yang sudah memastikan bakal ikut pemilu Jerman untuk keempat kalinya, September mendatang. Merkel melihat orang-orang Eropa sudah mulai tidak suka dengan Trump. Seperti pada pemilu Prancis, dimana Marine Le Pen, politisi sayap kanan yang di-endorse oleh Trump akhirnya terjungkal.

Namun, tidak hanya Jerman sebagai representasi Eropa, antipati terhadap Trump rupanya juga dialami negara-negara Eropa lain. Pada hari Senin (26/5), sebuah foto muncul di akun Twitter resmi Norwegia yang menunjukkan perdana menteri Norwegia, Islandia, Swedia, Denmark, dan Finlandia yang mencengkeram sebuah bola sepak, sebagai sindiran terhadap foto Trump dan Raja Saudi Arabia, Salman Al-Saud saat peresmian pusat kontraterorisme di Riyadh, dimana keduanya memegang benda bulat seperti bola lampu.

Kekecewaan Kanselir Jerman ditulis majalah Jerman Der Spiegel, sebagaimana dilansir The Washington Post sebagai indikasi bahwa dia telah kehilangan harapan dapat bekerja sama secara konstruktif bersama dengan Trump.

Bagaimanapun, presiden AS telah menggunakan mimbar di markas besar NATO untuk memarahi para koleganya di Eropa karena dianggap tidak membayar bagian mereka secara adil. Trump juga tidak secara khusus menegaskan kembali komitmen AS untuk mempertahankan anggota aliansi jika oleh diserang pihak lain (Pasal 5).

Kemudian setelah itu, pada pertemuan G-7 di Sisilia, Trump menolak keras untuk mengulang dukungan AS untuk kesepakatan iklim Paris 2015. Sikap Trump menimbulkan teguran keras pada hari Senin-nya dari Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel, yang membandingkan soal kebuntuan kesepakatan iklim tersebut dengan kunjungan Trump yang lebih hangat ke Arab Saudi dan kesepakatan tentang penjualan senjata dari AS ke Saudi senilai USD 110 miliar.

“Siapa pun yang mempercepat perubahan iklim dengan melemahkan perlindungan terhadap lingkungan, yang menjual lebih banyak senjata di zona konflik dan yang tidak ingin menyelesaikan konflik agama secara politis telah membuat perdamaian di Eropa berisiko,” kata Gabriel, sebagaimana dilansir The Washington Post.

Trump kemudian melakukan “serangan balik” pada hari Selasa (27/5), dia membalas pernyataan Kanselir Merkel dengan menyebut kebijakan perdagangan Jerman yang tidak adil terhadap AS dan pengeluaran anggaran pertahanan Jerman yang tidak mencukupi.

“Kami memiliki defisit perdagangan yang massif dengan Jerman, ditambah mereka membayar jauh lebih rendah dari yang seharusnya pada NATO dan militer mereka. Ini sangat buruk bagi AS,” tegas Trump.

“Hubungan Amerika-Jerman, inti dari aliansi trans-atlantik selama lebih dari 70 tahun, baru saja mencapai titik terendah,” kata seorang kolumnis The Washington Post, Anne Applebaum.

Gesekan itu sangat mencolok, terutama jika membandingkan dengan kunjungan Trump yang tampak lebih menyenangkan di Riyadh Arab Saudi. Trump disambut seolah sebagai harapan baru untuk menyelesikan konflik di Timur Tengah yang tak berkesudahan. Sikap Trump yang keras dengan terorisme dan Iran (Syiah) menumbuhkan harapan bagi negara-negara Arab (Sunni) sekutu Saudi.

“Orang-orang Eropa menganggap mereka sekarang diperlakukan lebih buruk oleh Trump daripada negara-negara seperti Rusia atau Arab Saudi,” kata Stephan Bierling, seorang ahli Jerman terkait hubungan trans-atlantik di Universitas Regensburg, Jerman.

Sementara, di sisi lain Presiden Prancis Emmanuel Macron yang baru terpilih, membuat monentum  jabat tangan yang erat dengan Trump dan dia menyamakan presiden Amerika itu dengan penguasa otokratik di tempat lain. “Donald Trump, Presiden Turki atau Presiden Rusia memiliki pola pikir tentang hubungan kekuasaan, yang tidak (bisa) mengganggu saya,” kata Macron.

“Saya tidak mau membiarkannya. Begitulah cara seseorang membuat dirinya dihargai,” demikian penjelasan Macron soal jabat erat-nya dengan Trump dengan handshake yang cukup lama, yang sempat menjadi sorotan publik dunia. Seolah ingin mengatakan, bahwa presiden Prancis tidak mau diperlakukan seperti halnya Kanselir Jerman yang pernah dipermalukan oleh Trump terkait jabat tangan.

Pada Senin, setelah menyelesaikan serangkaian pertemuan NATO dan G-7, Macron menjamu Presiden Rusia Vladimir Putin di Paris. Pertemuan yang cukup menarik dan menimbulkan pertanyaan: Putin secara politik dilaporkan merupakan pendukung Marine Le Pen, rival Macron dalam Pilres Prancis. Di sisi lain, Rusia dan Prancis juga berbeda sikap politik dalam konflik Suriah. Rusia merupakan pendukung presiden Suriah Bashar Al-Assad, sementara Prancis sebaliknya.

Sejumlah analisa melihat Macron tampaknya mencoba membuka hubungan dengan Rusia untuk Eropa, pada saat pemerintahan AS yang tidak lagi dapat diandalkan. Tapi bukankah Putin (Rusia) juga sekarang dekat dengan Trump (AS)? Meskipun untuk sejumlah kebijakan politik masih terdapat perbedaan, misalnya dalam konflik Suriah, Rusia sempat marah ketika AS meluncurkan rudal ke Suriah atas dugaan penggunaan senjata kimia. Juga soal sikap terhadap Korea Utara, dimana Rusia tidak mendukung agresi militer AS ke Korea Utara.

Trump sendiri ketika pulang ke negaranya selepas perjalanan luar negerinya yang berakhir di Sisilia, mendapat “serangan” baru terkait skandal kampanyenya dengan Rusia. Laporan terbaru mengungkapkan, bahwa menantunya yang juga penasihat pribadinya, Jared Kushner, dituding sebagai aktor yang membuat saluran rahasia ke Kremlin, bahkan sebelum Trump mulai menjabat.

Pada Selasa lalu, terkait skandal tersebut, baik Trump maupun Putin membuat pernyataan yang sama, yaitu cenderung menuduh bahwa kontroversi itu dibuat oleh pihak Partai Demokrat yang masih belum menerima kekecewaan atas hasil pemilu tahun lalu itu.

Sejak Trump menjabat presiden AS, kontroversi tidak pernah ada habisnya dari mulai banyaknya kebijakan yang ditolak atau bahkan dibatalkan pengadilan, pemecatan pejabat kejaksaan dan pejabat lain termasuk direktur FBI, hingga pembocoran informasi rahasia ke Rusia. Sebab itu, terkait penjualan senjata AS ke Saudi yang merupakan terbesar dalam sejarah AS, kemungkinan AS bersekutu dengan Rusia dan meninggalkan Eropa, juga merupakan isu geopolitik yang menjadi perdebatan di kalangan internal AS, bahkan di kalangan Trump sendiri. Trump memang penuh kontroversi. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here