Trump Pusing, Mitra Strategisnya Dihajar Isu Boikot

0
197
Trump berjabat tangan dengan presiden NRA Wayne LaPierre di atas panggung di acara internal NRA/ AFP

Nusantara.news, Washington – Gerakan boikot terhadap Asosiasi Senjata-api Nasional (NRA/National Rifle Association) membuat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pusing. Aksi penembakan Parkland, Florida yang semula ingin dimanfaatkannya membenci FBI – kini justru berbalik menghajar mitra strategisnya di Partai Republik.

Di antara Presiden AS – setelah terakhir kali Ronald Reagan – hanya Trump yang berpidato di acara NRA. Maklum, NRA adalah pendukung utama Trump sejak dirinya ikut konvensi calon Presiden dari Partai Republik. Tidak mengherankan apabila NRA yang juga tempat berkumpulnya kaum konservatif disebut-sebut sebagai mitra strategisnya.

Gerakan boikot itu sendiri sebagai tindak lanjut dari aksi besar-besaran di Gedung Parlemen Florida pada Rabu (21/2) lalu yang melibatkan pelajar dan keluarga korban penembakan. Kalau boikot ini meluas – bukan saja merugikan partainya secara politik – akan mengurangi pembiayaan Partai Republik di masa depan. Maklum, NRA adalah donator tetap yang menyumbang kandidat senat Partai Republik 17 juta dolar AS.

Seruan boikot itu sudah bergaung ke sejumlah perusahaan yang tentu saja mengancam bisnis senjata api di AS. Di antara perusahaan itu tercatat – antara lain – raksasa rental mobil “Hertz and Enterprise” yang selama ini memberikan diskon gila-gilaan kepada anggota NRA. Seruan boikot paska penembakan Parkland yang menewaskan 17 orang itu bertujuan lahirnya kebijakan kontrol senjata yang lebih ketat.

Seruan Boikot

Gubernur Florida Rick Scott – yang juga anggota Partai Republik – terpaksa mendukung seruan untuk menaikkan batas usia minimum yang dibolehkan membeli senjata api dari usia 18 menjadi 21 tahun. Sebagaimana diberitakan, Nikolas Cruz pelaku penembakan Parkland yang menembak mati 17 orang itu saat beraksi menggunakan senjata legal.

Sebelumnya Scott yang dipandang sekutu NRA – seperti politisi Grand Old Party (GOP) atau Partai Republik lainnya – menentang keras diperlakukannya kontrol senjata yang ketat di wilayah kekuasaannya. Namun Scott tidak bisa berbuat apa-apa setelah mendapat tekanan tinggi dari pelajar, aktivis dan keluarga korban penembakan SMA Marjory Stoneman Douglas yang mendemo parlemen setempat.

Sejak terjadinya penembakan, para aktivis yang sejak awal berjuang untuk kontrol senjata langsung melakukan konsolidasi. Satu pekan setelah penembakan, tepatnya pada Rabu (21/2) lalu mereka turun ke jalan dengan kekuatan puluhan ribu orang – termasuk di dalamnya para pelajar dari SMA-SMA di negara bagian Florida.

Selain itu, mereka juga memberikan tekanan kepada NRA sejak penembakan itu – yang sering kali menjual senjata-api seperti menjual pakaian – agar menghentikan diskon besar-besaran kepada anggotanya untuk senjata mematikan yang dijualnya.

Mereka juga membanjiri mitra-mitra perusahaan produsen senjata dengan komentar di media sosial dengan hastag #BoycottNRA. Semua perusahaan yang bermitra dengan NRA diserbunya – antara lain perusahaan pengiriman FedEx dan raksasa teknologi seperti Amazon yang selama ini mendistribusikan program-program televisi NRA.

Serbuan komentar lewat media sosial itu tidak berakhir dengan tangan hampa. Pada Kamis (22/2) lalu, rekanan NRA di perbankan First National Bank of Omaha mengumumkan tidak akan memperbarui kartu kredit bermerk NRA sebagai bentuk kepeduliannya pada pelanggan.

Pada akun Twitter perusahaan, “First National Bank of Omaha” @FNBOmaha menulis “sebagai respon kepada pelanggan telah menyebabkan kami meninjau kembali hubungan kami dengan NRA. Oleh karenanya, First National Bank of Omaha tidak akan memperpanjang kontraknya dengan National Rifle Association untuk menerbitkan Kartu Visa NRA.”

Enterprise Holdings – pemilik rental mobil “Alamo, Enterprise and National” juga mengumumkan potongan harga yang ditawarkan kepada anggota NRA akan berakhir pada 26 Maret 2018. Pengumuman itu sebagai balasan atas komentar di Twitter sebagai bukti bahwa perusahaannya “tidak mensponsori, mendukung atau mengambil sikap politik terhadap organisasi manapun.”

Tanggapan itu disampaikan akun @enterprisecares untuk membalas @zfamilymn dengan pernyataan, “Kami tidak mensponsori, mendukung atau mengambil sikap politik pada organisasi manapun. Kami secara teratur meninjau penawaran diskon kami dan memutuskan mana yang tetap masuk akan untuk bisnis kami. Salam hormat, Michael.

Satu hari berikutnya, Jumat (23/2), sejumlah perusahaan juga mengumumkan menarik diri dari kemitraannya dengan NRA. Perusahaan-perusahaan itu antara lain Asuransi MetLife, Avis Budget Group, firma keamanan rumah SimpliSafe, Allied Van Lines, North American Van Lines, Symantec Group yang telah menawarkan diskon untuk produk pencurian identitas LifeLock.

Tercatat juga perusahaan asuransi Chubb juga menghentikan underwriting sebuah polis asuransi bermerk NRA tiga bulan lalu.

Di Florida, Presiden Asosiasi Pendidikan Florida – mewakili serikat guru – juga mendesak negara untuk meninjau ulang dana pensiunan yang dipinjamkan ke perusahaan senjata sebagaimana dikutip dari surat kabar Miami Herald.

Namun tidak semua sepakat dengan seruan boikot. Bahkan masih ada perusahaan yang menawarkan diskon kepada anggota NRA. Di situsnya, NRA menyebut maskapai penerbangan domestik “AS Delta and United” menawarkan potongan harga penerbangan khusus kepada anggota NRA yang melakukan perjalanan ke Dallas untuk menghadiri pertemuan tahunan organisasi di bulan Mei 2018 nanti.

Trump Pusing

Sejauh ini NRA yang mengklaim memiliki 5 juta anggota sama sekali tidak menanggapi saat diminta BBC News memberikan komentar atas dampak setelah serian boikot. Kelompok konservatif pendukung NRA justru menyarankan, kelompok yang kini sedang marah atas terjadinya penembakan itu mestinya fokus kepada penyimpangan yang dilakukan aparat penegak hukum.

“Alih-alih menempatkan kesalahan pada sebuah organisasi yang membela hak-hak setiap orang, mungkin orang-orang harus memperhatikan jumlah kegagalan FBI dan aparat penegak hukum setempat, atau apakah itu tidak sesuai dengan agenda anda?” tulis pendukung NRA yang mengacu pada amandemen konstitusi yang melindungi hak senjata.

Kepala Eksekutif NRA Wayne LaPierre pada Kamis lalu menuding para “oportunis” telah menggunakan momentum penembakan 14 Februari untuk memperluas kendali senjata dan menghapuskan hak memiliki senjata api di AS. “Mereka benci NRA, mereka benci amandemen kedua, dan mereka benci kebebasan individu,” tudingnya penuh retorika.

Senada dengan NRA, Trump yang posisi politiknya makin tergencet dari berbagai sisi – sebagai mitra strategis NRA yang sama-sama menganggap FBI sebagai musuh bersama – dalam akun Twitter miliknya memuji-muji NRA yang disebutnya sebagai Patriot yang akan membawa American Great Again.

@realDonaldTrump

“Apa yang orang tidak mengerti, atau tidak ingin mengerti, adalah bahwa Wayne, Chris dan orang-orang yang bekerja sangat keras di @NRA adalah Orang-orang hebat dan Patriot Kejayaan Amerika. Mereka mencintai negara kita dan akan melakukan hal yang benar. Make the GREAT AMERICAN AGAIN.”

Toh demikian, Trump mendukung kebijakan Gubernur Scott yang mendesak parlemen negara bagian untuk membatasi akses terhadap senjata api bagi kaum muda dan orang-orang yang memiliki masalah kesehatan mental untuk mendapatkan pistol. Bahkan Trump yakin, NRA juga akan mendukung usulan itu?

Tapi tampaknya seruan boikot tidak kunjung reda. Trump akan semakin pusing karena ternyata kasus penembakan Parkland tidak cukup baginya untuk menggerakkan masyarakat membenci FBI yang masih bekerja membongkar skadal mata-mata Rusia pada Pemilu Presiden AS 2016. Masyarakat justru menginginkan kontrol yang lebih luas terhadap kepemilikan senjata api – bahkan memboikot NRA – mitra strategisnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here