Trump-Putin Diskusi Hangat Lewat Telepon

0
99
Presiden AS Donald Trump berbicara lewat telepon dengan Presiden Russia Vladimir Putin di Ruang Oval Gedung Putih (28/1/2017) REUTERS

Nusantara.news, Washington – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan diskusi lewat telepon selama hampir satu jam dengan presiden Rusia Vladimir Putin, Sabtu (28/1) waktu setempat. Apa saja detail pembicaraan antara keduanya, masih belum terbuka untuk publik. Namun, informasi dari kedua belah pihak, diskusi berjalan hangat dan mengarah kepada kerja sama yang positif bagi kedua negara.

Vladimir Putin juga mengucapkan selamat kepada Donald Trump atas pelantikannya sebagai presiden AS yang ke-45.

Jika menilik isu-isu yang telah berkembang sebelumnya, kemungkinan besar kedua pemimpin negara besar itu terlibat diskusi soal sanksi AS terhadap Moskow, dan kerja sama militer dalam mengatasi kelompok Negara Islam.

Sumber Gedung Putih memberikan sedikit bocoran soal pembicaraan antara Trump dan Putin. Dia mengatakan bahwa diskusi telepon itu adalah awal yang signifikan untuk meningkatkan hubungan AS dan Rusia yang membutuhkan perbaikan.

Kedua pemimpin membahas berbagai topik, “mulai soal kerja sama yang saling menguntungkan dalam mengatasi ISIS, hingga upaya kerja sama untuk mencapai perdamaian dunia termasuk di Suriah,” demikian pernyataan sumber Gedung Putih, sebagaimana dilansir AP (29/1).

Sumber yang merupakan pejabat Gedung Putih itu juga mengatakan, soal sanksi terhadap Rusia tidak dibicarakan dalam diskusi tersebut. Putin beberapa kali menggaris bawahi soal terorisme Islam yang merupakan “musuh bersama” bagi AS dan Rusia.

Namun demikian, pihak Kremlin mengatakan bahwa dalam diskusi telepon tersebut kedua pemimpin membahas soal pentingnya memulihkan kerja sama perdagangan dan ekonomi yang saling menguntungkan di antara kalangan bisnis kedua negara. Artinya, ini menyangkut soal sanksi AS kepada Rusia.

Menurut Kremlin, Putin dan Trump juga membicarakan soal isu-isu internasional, termasuk perang melawan terorisme, konflik Arab-Israel, program nuklir Iran, situasi di Semenanjung Korea dan krisis Ukraina.

Moskow tampaknya senang dengan janji Trump untuk membangun kembali hubungan AS-Rusia, yang belakangan telah terjerembab ke level hubungan terburuk sejak Perang Dingin terkait krisis Ukraina, perang di Suriah dan tuduhan campur tangan Rusia dalam pemilu AS.

Trump sendiri berikap datar ketika ditanya apakah dia sedang mempertimbangkan pencabutan sanksi ekonomi Rusia menjelang diskusi monumentalnya dengan Putin. Trump mengatakan kepada wartawan, “Terlalu dini untuk berbicara tentang itu.”

Dalam diskusi itu, bergabung Wakil Presiden Mike Pence dan penasihat senior lainnya, termasuk penasihat keamanan nasional, Michael Flynn, kepala staf Reince Priebus dan Steve Bannon. Selain berbicara telepon dengan Putin, Trump juga berbicara dengan pemimpin Jepang, Jerman, Perancis dan Australia pada hari yang sama. Trump mengundang PM Jepang Shinzo Abe untuk mengunjungi Gedung Putih pada 10 Februari mendatang.

Trump dan Putin dikabarkan telah sepakat untuk berkomunikasi secara reguler, menindaklanjuti pembicaraan awal. Keduanya juga akan segera menugaskan stafnya masing-masing untuk mengatur pertemuan bilateral, demikian menurut kantor media di Kremlin.

“Vladimir Putin dan Donald Trump sepakat untuk mengatur waktu dan lokasi pertemuan bilateral yang akan ditentukan di kemudian hari,” kata pihak kantor media di Kremlin dalam sebuah pernyataan.

Sementara itu, dua senator Partai Republik, John McCain dari Arizona, yang juga ketua Komite Angkatan Bersenjata, serta Rob Portman dari Ohio, juga sebagai anggota Komite Hubungan Luar Negeri mengingatkan Gedung Putih soal rencana melonggarkan sanksi bagi Rusia. Mereka berjanji mengubah sanksi itu menjadi undang-undang.

“Saya berharap Presiden Trump akan mengakhiri spekulasi ini,” kata McCain. “Jika dia tidak, saya dan rekan-rekan akan bekerja untuk menyusun sanksi terhadap Rusia ke dalam undang-undang.”

Kedekatan Trump dengan Presiden Rusia, termasuk rencananya mencabut sanksi bagi Rusia ditentang oleh sejumlah anggota kongres, tidak saja oleh senator dari partai lawannya, Partai Demokrat, tetapi oleh kalangan partai pendukungnya sendiri, Partai Republik. [ ]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here