Trump-Putin Jadwalkan Pembicaraan Lewat Telepon

0
94
sumber foto: newstatesman.com

Nusantara.news, Moscow – Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump dijadwalkan melakukan pembicaraan lewat telepon pada hari Sabtu 28 Januari 2017. Informasi ini diumumkan pihak Kremlin.

Pembicaraan kedua pemimpin negara besar dan berpengaruh ini diperkirakan akan mengundang banyak perhatian para pemimpin negara dunia. Mengingat hubungan Amerika Serikat dan Rusia akan memasuki babak baru, di mana sebelumnya AS – Rusia pernah mengalami konflik yang cukup dalam dan lama.

“Ini langkah pertama menuju normalisasi hubungan (AS – Rusia) setelah tiga tahun ketegangan yang dipicu oleh konflik di Ukraina,” demikian kata pihak Kremlin sebagaimana dilansir Reuters (25/1).

Trump juga dikabarkan akan melakukan percakapan telepon dengan Kanselir Jerman Angela Merkel pada hari yang sama, kemungkinan akan fokus membahas Rusia, menurut sumber di Berlin yang mengetahui rencana itu.

Beberapa waktu lalu, Trump sempat menyatakan bahwa untuk memperbaiki hubungan AS dengan Rusia dia siap untuk meninjau ulang sanksi yang dikenakan Washington terhadap Rusia  terkait pencaplokan atas wilayah Crimea Peninsula di Ukraina.

Langkah Trump yang kontroversial ini pasti mengundang reaksi dari pemimpin negara-negara dunia, Merkel adalah salah satunya, yang berpendapat seharusnya AS tidak mencabut sanksi bagi Rusia. Pembicaraan Trump – Merkel kemungkinan akan membahas masalah tersebut.

Sebelum rencana pembicaraan dengan Putin, Trump sudah dikecam oleh sejumlah pengamat dalam negeri yang mencurigai dia terpilih dalam proses Pilpres AS atas bantuan Rusia, kendati tuduhan tersebut sudah dibantah Trump. Artinya, pembicaraan yang akan berlangsung esok itu dianggap make sense dengan tuduhan-tuduhan soal campur tangan Rusia yang diarahkan kepada Trump.

Trump dianggap sudah berencana dan siap untuk menerima tawaran dari negeri beruang merah yang oleh banyak pejabat AS sebetulnya dianggap sebagai ancaman.

Pembicaraan via telepon Trump – Putin bukan yang pertama. Sebelumnya, Trump-Putin  bertelepon pada bulan November tahun lalu setelah Trump dinyatakan menang dalam Pilpres AS. Putin mengucapkan selamat atas kemenangannya.

Juru bicara Putin Dmitry Peskov, mengatakan pemimpin Rusia itu akan bertelepon untuk mengucapkan selamat kepada Trump yang telah resmi berkantor di Gedung Putih sekaligus  bertukar pandangan mengenai hubungan terakhir AS-Rusia.

Namun demikian, Peskov meminta publik bersabar, karena momentum ini adalah momentum pertama Trump berbicara dengan Putin setelah resmi dilantik sebagai presiden AS.

“Ini adalah kontak telepon pertama sejak Presiden Trump menjabat, jadi jangan mengharapkan bahwa pembicaraan akan mengarah diskusi yang substantif pada berbagai isu, mari kita bersabar,” kata Peskov.

Peskov juga menegaskan, jika Putin dan Trump bisa menjalin hubungan, hal itu bisa membuka jalan bagi pemecahan masalah Ukraina dan Suriah, dua sumber gesekan antara AS-Rusia selama pemerintahan Barack Obama.

Trump dan Putin belum pernah bertemu secara fisik, khususnya sejak pengusaha properti itu menjadi presiden AS. Kedua sosok adalah pribadi yang berbeda. Trump adalah pengusaha dan pebisnis real estate yang sering membuat kesepakatan dengan insting, sementara Putin adalah mantan mata-mata Soviet yang selalu menghitung dengan cermat setiap langkah yang akan dilakukannya.

Namun yang jelas, kedua pemimpin dunia yang masuk dalam jajaran orang paling berpengaruh versi Forbes ini, telah berbicara soal mengakhiri permusuhan kedua negara adidaya itu, yang telah menyeret hingga titik terendah sejak Perang Dingin.

“Bukankah lebih baik jika kita benar-benar dapat bersama dengan orang lain? Bukankah lebih baik kita bersama-sama, sebagai contoh, dengan Rusia?,” kata Trump dalam konferensi pers bulan Juli tahun lalu .

Putin, pada bulan Desember juga membalas pernyataan Trump, “Saya setuju dengan dia. Bersama-sama kita akan berpikir tentang bagaimana untuk memperbaiki keadaan.”

Bagi Putin, hubungan baik dengan AS adalah sebuah keuntungan, mengingat dia diperkirakan akan maju lagi pada Pilpres tahun depan, tapi terkendala ekonomi Rusia yang lesu. Pengurangan atau penghapusan sanksi terhadap Rusia akan memungkinkan masuknya investasi dari Barat, mengangkat pertumbuhan ekonomi dan memperkuat peluang Putin pada Pilpres mendatang.

Sementara bagi Trump, kerja sama dengan Rusia akan membawa risiko politik dalam negeri. Kongres kemungkinan besar akan memblokir setiap langkah Trump untuk mencabut sanksi terhadap Rusia terkait Ukraina. Selain juga akan membuat hubungan AS dengan negara-negara Eropa menjadi tidak baik. Tapi inilah politik dunia, perubahan merupaka sesuatu yang niscaya. [ ]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here