Trump Salah Tebak tentang Pemilu Prancis Putaran Pertama

1
85
Parade Donald Trump raksasa melintasi kota Nice Prancis pada bulan Februari. (Foto: Reuters)

Nusantara.news – Presiden Amerika Serikat Donald Trump salah menebak tentang hasil Pemilu Presiden Prancis 23 April. Trump memprediksi kandidat presiden Prancis dari partai sayap kanan Marine Le Pen bakal unggul dalam pemilu yang digelar hari Minggu itu. Trump mengaitkan keunggulan Le Pen dengan peristiwa serangan teroris di Paris tiga hari sebelum hari pemilihan.

Setelah serangan teroris pada hari Kamis (20/4) di Champs-Elysees Paris yang menewaskan seorang perwira polisi dan melukai dua lainnya, Presiden AS Donald Trump membuat sebuah prediksi.

“Akan berpengaruh besar pada pemilihan presiden!” kata Trump dalam cuitan Twitter-nya sebelum Pilpres Prancis dilangsungkan sebagaimana dilansir The Atlantic, Senin (24/4).

Sepertinya, dalam cuitan-nya presiden AS secara implisit mendukung salah satu kandidat dalam Pilpres Prancis, Marine Le Pen dari partai Front Nasional, yang selama ini telah berkampanye membasmi ‘ekstremisme Islam’ dari Prancis dan telah mengikuti gaya kampanye ‘populis-nativis’ ala Trump.

Berikutnya, Trump menyatakan dukungannya kepada Le Pen. Dia menyebutkan bahwa serangan teror yang diduga melibatkan ISIS, karena setelah itu mereka mengklaim bertanggung jawab, mungkin akan memberi peluang bagi Le Pen, kata Presiden AS itu kepada Associated Press.

“Karena dia adalah yang terkuat di masalah perbatasan (imigrasi) dan dia yang terkuat tentang apa yang telah terjadi di Prancis,” kata Trump. Meskipun faktanya penyerang dalam peristiwa teror Champs-Elysees adalah warga negara Prancis, bukan orang yang tinggal di luar Prancis.

Trump memang tidak secara eksplisit mendukung Le Pen. Tapi dia telah secara efektif mempromosikan Le Pen kepada pemilih Prancis.

“Saya percaya siapa yang paling menyentuh soal terorisme Islam radikal dan siapa yang paling kuat pada masalah perbatasan, akan melakukan dengan baik dalam pemilihan,” kata Trump memberikan endorsement untuk Le Pen.

Belum pernah terjadi sebelumnya, presiden AS  memberikan pertimbangan kepada pemilih dalam pemilu negara lain, kecuali Trump.

Komentar Trump menjadi sorotan sejumlah kalangan di Prancis. Pertama, Trump dianggap memuji Le Pen, seorang pemimpin partai sayap kanan dengan akar rasis dan anti-semit yang dengan antusias mendukung Presiden Rusia Vladimir Putin, dan dengan keras menentang perdagangan bebas dan Uni Eropa, dimana pemerintah AS dalam waktu lama telah keberatan dengan hal-hal tersebut.

Kedua, disoroti karena Trump menganggap bahwa peristiwa terorisme sebagai satu-satunya faktor yang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi jalannya pemilu sebuah negara dengan demokrasi paling tinggi di dunia.

Dan Trump telah terbukti salah. Pada hari Minggu, di putaran pertama pemilu Prancis, Macron ternyata berhasil meraih kemenangan. Meskipun, Le Pen masuk sebagai runner-up untuk bertarung di “babak final”, 7 Mei mendatang. Setidaknya, prediksi Trump bahwa serangan teroris pada hari Kamis akan memberikan kemenangan untuk Le Pen, tidak terbukti.

Terlalu dini, menyimpulkan bahwa isu terorisme tidak berpengaruh dalam pemilu Prancis, namun setidaknya “efek besar” yang diprediksi presiden AS itu tidak pernah nyata terjadi.

Hal ini mungkin dikarenakan bahwa skala serangan pada Kamis lalu itu terlalu kecil bagi warga Prancis yang terbiasa dengan serangan teroris yang lebih besar, setidaknya dalam beberapa tahun terakhir.

Banyak pemilih Prancis, yang telah terbiasa dengan berita tentang insiden terorisme, mungkin telah menempatkan kekerasan di Champs-Elysees dalam perspektif yang sama dengan isu-isu seperti lesunya ekonomi dan tingginya tingkat pengangguran kaum muda. Jadi, hanya menjadi isu yang biasa saja.

Selain itu, kaitan langsung antara kekhawatiran terhadap terorisme dan dukungan untuk Le Pen tidak sesederhana kelihatannya. Misalnya, sebagai akibat dari serangan terorisme hari Kamis, Emmanuel Macron mendesak orang Prancis untuk tidak takut dan tidak membiarkan teroris mengacaukan negara tersebut.

Sementara Le Pen bereaksi dengan mencela islamisme sebagai  ‘ideologi totaliter’ yang mengerikan, yang telah mengumandangkan perang.

Bagi masyarakat Prancis, ada lebih dari satu cara untuk mengalahkan terorisme, dan Trump tidak menyebutkannya.

Namun begitu, Trump mungkin salah menebak soal kemenangan Le Pen di putaran pertama pemilu Prancis. Tapi faktanya Le Pen masuk ke putaran kedua atau putaran final.

Secara kalkulasi politik, Le Pen kemungkinan akan kalah lagi di putaran kedua, sebagaimana hasil sejumlah jajak pendapat, serta fakta bahwa dukungan dari kandidat yang kalah banyak mengalir ke kubu Macron. Tapi, dalam politik segalanya bisa terjadi. Mungkin saja prediksi Trump terbukti di putaran kedua. []

1 KOMENTAR

  1. Semoga Macron bisa terpilih. Programnya tidak memberikan hp pada anak dibawah 15 tahun disekolah, perlu di didiskusikan pula di sekolah dan dirumah se nusantara. Bagi anak anak yang masih dibawah tanggunnga ortu, atau dibawah 18 tahun seyogianya dilarang bawa hp ke sekolah atau di rumah hanya boleh hidup bila ortu ada disamping. Perlu waskat lah untuk tujuan baik/belajar. Biar anak anak Indonesia mempunyai daya saing di luar negeri.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here