Trump Sudah Menabuh Genderang “Perang Dagang” dengan Cina

0
73
Presiden AS Donald Trump setelah menandatangani memo yang mengarahkan Perwakilan Perdagangan AS menyelesaikan pemeriksaan permasalahan dagang dengan Cina di Gedung Putih, Senin (14/8). ANTARA FOTO/REUTERS

Nusantara.news – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai menabuh genderang “perang dagang” dengan Cina, saat dia menandatangani memo yang memerintahkan dimulainya penyelidikan tentang hak kekayaan intelektual terkait kerja sama perdagangan dengan negeri tirai bambu itu. Memo tersebut ditandatangani Trump pada Rabu (15/8), kemarin.

Memorandum eksekutif itu memerintahkan Robert Lighthizer, Direct Trade Representative atau perwakilan perdagangan AS, untuk mengeksplorasi cara-cara menghadapi Cina terkait aturan transfer teknologi secara paksa dan pencurian hak kekayaan intelektual AS.

Langkah Trump ini merupakan tindakan perdagangan pertama pemerintahan AS melawan Cina, terjadi di saat ketegangan meningkat atas ambisi nuklir Korea Utara, meskipun tidak mungkin melakukan perombakan kerja sama dalam jangka pendek.

Trump sejak dia berkampanye di pemilihan presiden AS 2016 lalu, sudah menunjukkan sikap menyalahan terhadap kerja sama perdagangan Cina. Dia mengatakan bahwa selama berpuluh-puluh tahun Cina tidak menguntungkan apa-apa bagi AS, hanya meninggalkan pabrik-pabrik di AS teronggok seperti kuburan dan membuat warga AS banyak kehilangan pekerjaan. Trump menyalahkan Cina sebagai mitra kerja sama yang tidak adil, manipulator mata uang, dan pembajak dan pelanggar hak intelektual.

Trump pun berjanji akan meninjau ulang kerja sama perdagangan dengan Cina, intinya apa pun harus menguntungkan Amerika. Trump sempat memainkan diplomasi politik menekan Cina dengan melakukan kontak Presiden Taiwan Tsai Ing-wen, hal yang tidak pernah dilakukan Amerika sebelumnya selama empat dekade terakhir karena terkait One State Two System Cina. Cina marah besar ketika itu. Tapi semua berlalu dan dapat diselesaikan di meja pertemuan antara Donald Trump dan Xi Jinping Mei lalu.

Setelah terpilih sebagai presiden AS sikap Trump perlahan mulai melunak terhadap Cina. Namun Cina mengingatkan, sejumlah pembatasan yang akan dilakukan Trump terkait kerja sama perdagangan dengan Cina melanggar kesepakatan organisasi perdagangan dunia (WTO).

Pemerintah Trump berkali-kali melakukan negosiasi dengan Cina terkait kerja sama perdagangan dengan isu utama defisit perdagangan AS yang masih besar, serta pelanggaran hak intelektual. Selain melalui pertemuan-pertemuan para lobyist, Trump juga mengencangkan negosiasi perdagangan dengan Cina lewat isu Korea Utara. Trump bilang, AS akan lentur dalam kerja sama perdagangan dengan Cina jika Cina mau mengendalikan program senjata nuklir Korea Utara.

Cina, meski sudah menyatakan pernyataan resmi di PBB yang mengecam program nuklir Korea Utara tapi enggan jika AS mengait-ngaitkan kerja sama perdagangan dengan masalah Korea Utara. “Itu dua masalah yang berbeda,” kata Cina.

Trump sempat menunda rencana untuk memulai penyelidikan atas pelanggaran hak intelektual dalam kerja sama perdagangan dengan Cina. Salah satunya disebabkan adanya pernyataan keras Cina terhadap Korea Utara di Dewan Keamanan PBB. Tapi, setelah melihat bahwa kecaman itu tidak mempengaruhi sikap Korea Utara, Trump akhirnya menanda tangani memo yang bisa memicu “perang dagang” Cina-AS.

Trump berkoar akan menghadapi negara mana pun yang secara tidak sah memaksa perusahaan-perusahaan Amerika untuk mentransfer teknologi berharganya sebagai syarat mengakses pasar. Peringatan keras yang sebetulnya lebih mengarah ke Cina.

Menurut pada pejabat Gedung Putih seminggu yang lalu, penyelidikan bisa memakan waktu hingga satu tahun yang akan mengarah pada: menegosiasikan kembali kesepakatan AS dengan Cina, baik secara sepihak dari AS atau melalui penyelesaian sengketa di WTO.

Memo penyelidikan Trump merupakan bagian dari penerapan Pasal 301, Undang-undang Perdagangan AS tahun 1974.

Respon Cina

Cina merespon keras keputusan Trump. Beijing mengatakan akan mempertahankan kepentingan ekonominya setelah Trump memberi sinyal bahwa dia akan bertindak atas “pencurian” kekayaan intelektual perusahaan Amerika.

Dilaporkan South China Morning Post, Cina akan bertindak untuk membela kepentingan negaranya jika AS merusak hubungan perdagangan, demikian dikatakan Kementerian Perdagangan Cina pada hari Selasa, setelah Presiden Trump memerintahkan penyelidikan tentang hak intelektual.

Menurut Beijing, AS harus menghormati fakta objektif, bertindak hati-hati, dan mematuhi perjanjian WTO serta tidak menghancurkan prinsip-prinsip multilateralisme, kata seorang juru bicara  di Kementerian Perdagangan Cina.

“Jika  AS mengabaikan fakta dan tidak menghormati prinsip perdagangan multilateral dalam mengambil tindakan yang merugikan kepentingan perdagangan kedua belah pihak, Cina tidak akan tinggal diam. Mau tidak mau, Cina akan melakukan berbagai langkah yang tepat dan tegas untuk melindungi hak-hak Cina yang sah,” kata sumber dari Kementerian Perdagangan Cina.

Selama ini, Cina terus memperkuat perlindungan secara hukum dan administratif atas kekayaan intelektual.

Kebijakan Cina untuk memaksa perusahaan asing, termasuk AS, menyerahkan teknologinya kepada mitra usaha di Cina, serta kegagalannya mencegah pencurian kekayaan intelektual telah menjadi masalah yang lama dan akut.

Petugas terkait di pemerintahan Trump memperkirakan, pencurian kekayaan intelektual oleh Cina bisa mencapai nilai sebanyak USD 600 miliar.

Cina sendiri telah berulang kali menolak upaya pemerintah AS sebelumnya untuk mengambil tindakan atas kebijakannya dan telah menegaskan, Cina telah secara ketat melindungi kekayaan intelektual.

Kantor berita resmi Cina Xinhua mengatakan, penyelidikan di AS merupakan “penghambat” bagi kerja sama unilateral yang akan melukai kedua belah pihak.

Kerja sama perdagangan antara dua negara kekuatan ekonomi terbesar di dunia ini telah berlangsung lama, dan tidak bisa disimpulkan merugikan atau menguntungkan salah satu pihak. Toh, banyak perusahaan Amerika yang merasa diuntungkan dengan menempatkan perusahaannya di Cina untuk mendapatkan akses pasar di negara dengan penduduk 1,3 miliar itu.

Apa yang sebenarnya terjadi, AS saat ini merasa Cina semakin merajalela di panggung global, bukan hanya di bidang perdagangan dan ekonomi tetapi juga militer. Keterlibatan Cina di globalisasi sebetulnya juga atas keinginan AS. Masalahnya, Donald Trump, presiden AS sekarang merasa Amerika menjadi korban globalisasi, sebuah paham ekonomi yang sesungguhnya lahir dari rahim Amerika sendiri. Trump lalu ingin membawa Amerika menjadi proteksionis, lebih mengedepankan keuntungan dalam negeri sendiri ketimbang mengikuti sejumlah kesepakatan global atau multilateral.

Apakah Trump di jalur yang benar? Nyatanya, sekarang dia “dikucilkan” dari panggung global. Jadi, bukan tidak mungkin, “perang dagang” dengan Cina yang ditabuh Trump justru malah merugikan ekonomi Paman Sam sendiri. [ ]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here