Trump Tantang Shutdown Jika Tak Ada Kesepakatan Imigrasi

0
99
Presiden AS Donald Trump menantang Demokrat dengan pernyataan Ï don't care"atas terjadinya shutdown bila tidak tercapai kesepakatan di Kongres AS Foto VoA

Nusantara,news, Washington – Ancaman shutdown kembali membayang pegawai pemerintah federal setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuat pernyataan, dia akan senang melihat pemerintah ditutup apabila tidak ada kesepakatan imigrasi di Kongres.

“Jika kita tidak mengubahnya, mari kita melakukan shutdown, kita akan melakukan shutdown, dan itu layak dilakukan di negara kita,” tantang Trump kepada Kongres, Selasa (6/2) kemarin.

Reformasi Imigrasi 

Sebelumnya, pada hari yang sama, Kepala Staf Presiden John Kelly mengingatkan Presiden Trump tidak mungkin memperpanjang tenggat waktu ketika program DACA (Deferred Action for Childhood Arrivals) berakhir.

Program DACA sendiri ditandatangani Presiden Barrack Obama untuk melindungi imigran yang datang ke AS bersama orang tuanya saat usianya masih anak-anak. DACA acap kali disebut “Dreamer” dengan mengacu istilah Impian Amerika (American Dream).

Saat berbicara tentang penegakan hukum di Gedung Putih kemarin, Trump juga kembali menuding imigran atas banyaknya kasus pembunuhan, kejahatan jalanan, kekerasan geng dan peredaran narkoba. Kasus pembunuhan pemain sepakbola Amerika dijadikan contoh untuk membenarkan tindakannya.

“Jika kita tidak mengubah Undang-undang, jika kita tidak menyingkirkan celah-celah ini di mana pembunuh diizinkan masuk ke negara kita dan terus melakukan pembunuhan, jika kita tidak mau mengubahnya, ayo kita shutdown,” ujarnya dengan gaya khas kulit putih ortodoks Amerika.

Pemimpin Demokrat Senator Chuck Schumer tampaknya tak gentar menghadapi tantangan Donald Trump. Dengan dingin Senator yang dua pekan lalu dikecam faksi sayap kiri di tubuh partainya itu mengatakan, komentar Trump “berbicara untuk dirinya sendiri”.

Namun Juru Bicara Gedung Putih Sarah Sanders meluruskan pernyataan Trump. Dia menegaskan Presiden Trump “tidak menganjurkan terjadinya shutdown”. Sanders yang juga menjabat sekretaris pers itu menambahkan, Presiden menginginkan kesepakatan jangka panjang dan dia menginginkan kesepakatan tantang imigrasi.

Sebelumnya Trump memang bicara panjang lebar tentang kematian seorang pesepakbola Liga Sepakbola Nasional (NFL/National Football League) yang dibunuh oleh pemabuk. Trump juga mengungkap sopir pemabuk itu adalah seorang imigran yang masuk ke AS secara gelap – sekaligus menggarisbawahi pentingnya reformasi imigrasi.

Pernyataan Trump yang selalu berprasangka buruk terhadap imigran – khususnya imigran turunan Meksiko dan yang berkulit hitam itu memiliki sasaran agar pembangunan tembok perbatasan dengan anggaran 25 miliar dolar AS disetujui Kongres Amerika. Sedangkan Demokrat menginginkan para imigran yang dilindungi program DACA  tidak terusir dari AS.

Padahal untuk memuluskan rencananya, Trump memerlukan setidaknya 9 suara dari Partai Demokrat. Sebab untuk menyetujui rancangan Undang-Undang menjadi Undang-Undang setidaknya diperlukan 60 suara. Partai Republik hanya memiliki 51 suara dan Demokrat 49 suara. Alih-alih mendapatkan 9 suara Demokrat suara partainya sendiri satu dua kadang bergabung ke kubu lawan.

Program DACA memang sudah dicabut Trump tahun lalu. Dia memberikan tenggat waktu hingga 5 Maret 2018 dan minta Kongres mencarikan solusinya.

Kepala Staf Gedung Putih John Kelly pun mengungkapkan kepada wartawan, dirinya ragu apakah Presiden Donald Trump akan memperpanjang program DACA apabila tidak terjadi kesepakatan di Kongres. Bahkan dia sendiri “tidak begitu yakin Presiden memiliki wewenang untuk memperpanjangnya” sebab program asli DACA sendiri tidak legal.

Selama wawancara yang tidak terjadwal dengan wartawan itu, Kelly menyebutkan pemegang izin DACA tidak akan menjadi prioritas untuk deportasi setelah tenggat waktu berlalu. Kelly juga membela rencana Trump yang menawarkan perlindungan permanen bagi 700 ribu imigran pemegang DACA dan 1,1 juta lainnya yang dianggap memenuhi syarat.

Negosiasi Alot

Tawaran Trump bagi hampir 2 juta imigran itu bukannya tanpa embel-embel. Sebab tawaran itu berlaku hanya apabila Kongres menyetujui dimasukkannya anggaran pembangunan tembok perbatasan AS – Meksiko sebesar 25 miliar dolar AS. Tapi Demokrat dianggap menghina Trump karena hanya menawarkan angka 1,8 miliar dolar AS untuk membangun tembok perbatasan.

Gedung Putih juga menolak rencana imigrasi bipartisan (dibicarakan oleh Republik dan Demokrat) yang akan memperluas perlindungan DACA dan meningkatkan keamanan di sepanjang perbatasan Meksiko tanpa sedikit pun menyinggung tembok perbatasan.

Senator John McCain yang meskipun Republik tapi suaranya acap kali berseberangan dengan Trump dan Christopher Coons telah mengusulkan sebuah anggaran bipartisan yang akan memberikan status hukum tetap kepada penerima DACA.

Presiden Trump sendiri bersikeras tentang pentingnya pembangunan tembok perbatasan. Pada akun Twitter miliknya, Trump mengingatkan “kesepakatan yang tidak termasuk cukup dana untuk keamanan perbatasan adalah buang-buang waktu”.

Bulan lalu Presiden Trump mengisyaratkan bahwa status yang dilindungi untuk  “the Dreamer” – yang diizinkan kerja di bawah perintah presiden – dapat diperpanjang melewati tenggat waktu yang sudah ditentukan.

“Kami melakukan yang benar dan kami akan terus melakukan yang benar, dan kami akan menyelesaikan masalah DACA,”ucap Trump di Forum Ekonomi Dunia di Davos bulan lalu.

Tarian Halus

Anthony Zurcher, wartawan Senior BBC di Washington menyebutkan, para Senator baik dari Republik maupun Demokrat sedang memainkan tarian yang halus. Dengan tarian yang akan dipentaskan di Capitol Hill mulai hari ini, kedua partai itu yakin Presiden Trump akan memanggilnya.

Presiden Donald Trump sendiri, ulas Zurcher, mengira dirinya berada di atas angin setelah shutdown pemerintahan beberapa pekan lalu. Hal itu dipertegas dengan menguatnya jajak pendapat orang-orang Republik yang berada di sisinya. Dan itu bukan kesimpulan yang tidak realistis.

Sekarang Trump condong ke konfrontasi lain – kecuali jika dia mendapat persetujuan di Kongres tentang reformasi imigrasi dan pendanaan keamanan yang diinginkannya.

Hal itu, papar Zurcher, mengurangi momentum di Kongres menuju lebih banyak ukuran pendanaan sementara dan – mungkin – sebuah kesepakatan untuk memberikan perlindungan terbatas kepada imigran yang tidak berdokumen dan dibarter dengan anggaran yang lebih banyak untuk keamanan perbatasan.

Jika Kongres mampu menyingkirkan hambatan di dalam perundingan, besar kemungkinan setelah Presiden mendapatkan program yang diinginkan akan dibarter dengan program imigrasi legal.

Demokrat akan menuai keuntungan dalam pemilihan paruh waktu di bulan November – terutama jika perlindungan DACA dijadikan isu kampanye – dan tindakan Kongres apa pun sepanjang tahun 2019 nanti tidak jauh berbeda dengan keinginan presiden.

Persetujuan atas Undang-undang, tandas Zurcher, akan menjadi “tiket besar”di tahun pemilihan yang akan selalu menjadi tantangan tersendiri. Bahkan di tahun 2018 ini tugas dasar – seperti menyetujui anggaran – tampaknya sudah menjadi keharusan.

Mengacu Analisa di atas, tampaknya pembahasan anggaran di Kongres akan jauh lebih lancar ketimbang pembahasan bulan lalu. Ancaman shutdown pun tampaknya juga tidak terjadi. Karena menjelang pemilu sela ini, Partai Demokrat sendiri akan merugi apabila dicitrakan sebagai biang keladi terjadinya shutdown. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here