Trump Tawarkan Kewarganegaraan untuk 1,8 Juta Imigran

0
78
Pengunjuk rasa melakukan demonstrasi terhadap pernyataan terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai imigrasi dan Haiti di sepanjang Manhattan, New York, Amerika Serikat, Jumat (19/1). ANTARA FOTO/REUTERS/Lucas Jackson/cfo/18

Nusantara.news, Washington – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berencana membarter pendanaan pembangunan tembok perbatasan Meksiko dengan menawarkan status kewarganegaraan AS kepada sekitar 1,8 juta imigran.

Gagasan barter itu disarankan oleh seorang pembantu Trump menjelang perundingan legislatif dengan Partai Demokrat. Senin (29/1) lusa, Kongres akan kembali membahas rancangan Undang-Undang (RUU) tentang pembangunan tembok perbatasan dengan Meksiko yang memerlukan dana 25 miliar dolar AS. Partai Demokrat dianggap sebagai penghalang untuk mengesahkan RUU itu.

Konsesi Dramatis

Rencana barter kebijakan antara the Grand Old Party (GOP) alias Partai Republik yang mendukung kebijakan Trump tentang tembok perbatasan dan Partai Demokrat yang menentang pengusiran paksa imigran itu terungkap pada Konferensi Pers di Gedung Putih, Kamis (25/1) kemarin. Kepala Kebijakan Gedung Putih Stephen Miller menggambarkan rencana itu sebagai “konsesi dramatis”.

Berdasarkan “cetak biru” yang ditawarkan Gedung Putih itu diperlukan waktu 10-12 tahun bagi 1,8 juta imigran untuk memiliki status kewarganegaraan AS. Angka ini termasuk sekitar 700 ribu imigran yang datang ke AS bersama orang tuanya saat masih anak-anak.

Di bawah pemerintahan Barrack Obama 700 ribu imigran itu dilindungi dari deportasi melalui program Deferred Action for Childhood Arrivals (DACA). Sedangkan 1,1 juta imigran lainnya yang akan diikutkan dalam skema status kewarganegaraan AS adalah imigran yang tidak mengajukan permohonan untuk DACA pada era Obama.

Kerangka kerja yang ditawarkan oleh Gedung Putih itu berusaha mengakhiri dua inisiatif lain yang acap kali dikritik oleh Presiden Donald Trump. Dalam usulan itu terselip pernyataan untuk membatasi apa yang disebut migrasi berantai. Visa hanya berlaku bagi pasangan dan anak-anak mereka, dan tidak berlaku untuk anggota keluarga besar.

Gedung Putih juga ingin memilah-milah apa yang disebutnya “lotere keragaman” yang setiap tahunnya memasukkan sekitar 50 ribu orang dari seluruh dunia yang “memenangkan” Kartu Hijau secara acak. Kartu Hijau atau Green Card adalah persetujuan otoritas setempat untuk mendapatkan status penduduk permanen  (permanent resident) bagi warga negara asing.

Reaksi Kongres

Senator AS dari Partai Republik Tom Cotton yang dikenal sebagai pendukung paling konservatif dalam kebijakan imigrasi menyambut baik rencana yang ditawarkan Presiden Donald Trump. “Kerangka kerja presiden itu murah hati dan manusiawi, sekaligus bertanggung jawab,” puji Senator asal Arkansas itu dalam sebuah pernyataan.

Sebaliknya Partai Demokrat  kurang terkesan. “The Dreamer (sebutan bagi imigran yang memimpikan kehidupan lebih baik di AS) tidak boleh tersandera dengan perang salib Presiden Trump untuk menghancurkan keluarga demi pembiayaan tembok perbatasan yang tidak efektif senilai miliaran dolar yang didapat dari pajak warga Amerika,” kecam Senator dari Partai Demokrat Dick Durbin. Kecaman itu juga didukung oleh Senator asal New York Bob Menendez.

United We Dream, sebuah organisasi pemuda migran menyebut rencana Gedung Putih bernuansa barter yang menegaskan supremasi kulit putih.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, pada bulan September 2017 lalu Presiden Donald Trump secara sepihak mencabut program DACA dan memberikan batas hingga bulan Maret 2018 untuk membuat sebuah rencana baru. Presiden Trump juga menolak usulan bipartisan yang hendak mempertahankan warisan kebijakan yang tersisa dari Presiden Barrack Obama itu.

Kegagalan Kongres dalam merundingkan hak-hak imigran dengan opsi yang ditawarkan Republik perpanjangan selama 6 tahun sedangkan Demokrat menginginkan DACA permanen itu akhirnya menemui jalan buntu di Kongres. Kebuntuan itu memicu terjadinya penghentian sebagian pelayanan pemerintah federal (US Shutdown) yang berjalan selama 2,5 hari pada akhir pekan lalu.

Pada Rebu (24.1), saat pemerintahan kembali dibuka, Trump mengatakan optimis kesepakatan tentang imigrasi akan tercapai termasuk mempertahankan apa yang disebut The Dreamer di negaranya. Trump menambahkan ini sebagai insentif bagi imigran di negaranya untuk bekerja keras dan melakukan pekerjaan dengan baik.

Toh demikian Trump mengingatkan, persetujuan pihaknya atas keberadaan The Dreamer itu ada imbalan atau konsesi baginya untuk menepati janji kampanye yang telah ditanda-tanganinya, yaitu membangun tembok di perbatasan Meksiko. Namun Pemimpin Senat Demokrat Chuk Schumer hanya menawarkan dana 1,6 miliar dolar untuk pembangunan tembok yang jauh dari permintaan Trump sebesar 17 – 25 miliar dolar AS.

Cepat Berubah

Wartawan BBC News di Washington Anthony Zurcher menggambarkan tarik menarik Trump dan Senat dari Demokrat tentang imigrasi dengan menyitir pernyataan Mark Twain, jika anda tidak menyukai cuaca di New England maka tunggulah dalam waktu 5 menit. Artinya, cuacanya akan cepat berubah.  Begitu juga dengan kebijakan Presiden Trump tentang imigrasi.

Suatu hari dia akan menerima – dan menerima panasnya – kesepakatan bipartisan yang mungkin akan diadakan oleh Kongres, tulis Zurcher. Kemudian dia akan menegaskan kesepakatan harus mencakup pendanaan untuk dinding perbatasan dan perubahan menyeluruh terhadap imigrasi berdokumen.

Selama US Shutdown, Presiden Trump melukiskan upaya Demokrat untuk mendapatkan suara DACA sebagai dukungan untuk “imigrasi illegal yang tak terkendali”. Namun pada Rabu (24/1) lalu Trump menyatakan keterbukaan untuk memberi penerima DACA diberikan status kewarganegaraan AS yang oleh pendukung Trump sendiri dicemooh sebagai amnesti bagi pelanggar hukum.

Zurcher menggambarkan ini bisa menjadi bagian dari beberapa strategi kepresidenan dalam “Seni Berunding” atau art of deal yang hanya bisa terungkap dari balik layar.  Bisa jadi pula, senyampang Presiden Trump menghadiri Forum Ekonomi Dunia (WEF/World Economic Forum), partai-partai di Kongres memfokuskan kepada Kepala Staff Kepresidenan John Kelly yang tetap tinggal di Washington.

Namun cuaca politik akan terus berdetak menuju pertarungan anggaran lainnya. Apabila kebuntuan dalam hal mencapai titik temu persoalan imigrasi muncul maka perlu segera diatasi dengan solusi lain.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here