Trump Terjebak dalam 8 Faksi Kuat di Gedung Putih

0
87
Ilustrasi: Fivethirtyeight

Nusantara.news – Pencopotan Steve Bannon dari jabatannya sebagai Kepala Dewan Keamanan Nasional (NSC) pada Rabu (5/4) menarik perhatian sejumlah kalangan di Amerika Serikat. Peristiwa ini menguatkan dugaan adanya saling berebut pengaruh antara faksi-faksi kepentingan di Gedung Putih.

Sebagai negara besar dengan berbagai kepentingan, baik politik, ideologi maupun bisnis, wajar dalam istana kepresidenan AS muncul faksi-faksi. Desas-desus beredar, dicopotnya jabatan Bannon terkait persaingan antar faksi. Bannon dianggap sebagai faksi tersendiri di lingkungan Istana. Dia merupakan lokomotif dari gerbong “sayap kanan” yang mengusung populisme dan nasionalisme sempit.

Media AS, Fivethirtyeight, pernah mengulas setidaknya terdapat delapan faksi utama di dalam tim Donald Trump yang berkantor di Gedung Putih. Masing-masing faksi memiliki kekuatan dan kepentingan. Mereka bekerja sama, tetapi sekaligus juga bersaing satu sama lain.

Pertama, faksi Steve Bannon, telah tergeser posisinya dari Kepala Dewan Keamanan Nasional dan belum jelas posisi barunya. Di dalam faksi Bannon ada nama-nama: Jeff Sessions, Jaksa Agung; Stephen Miller, penasihat senior presiden untuk kebijakan; Sebastian Gorka, staf senior Gedung Putih untuk kontraterorisme dan keamanan nasional; Peter Navarro, kepala Dewan Dagang Nasional Gedung Putih.

Kelompok ini sebetulnya punya potensi mengubah kebijakan AS secara dramatis, karena pandangan-pandangannya di luar ortodoksi tradisional kedua partai Republik dan Demokrat. Bannon adalah kekuatan intelektual di balik kelompok ini. Kebijakan imigrasi, konfrontasi terhadap Cina, kekhawatiran terhadap Islam, resistensi terhadap globalisasi dan transaksi perdagangan internasional; serta sikap berlawanan terhadap sistem di Washington dan pers, berasal dari kelompok ini.

Kedua, faksi Mike Pence, anggotanya Direktur Urusan Legislatif Marc Short, Menteri Kesehatan dan Pelayanan Manusia Tom Price, Administrator EPA Scott Pruitt, Menteri Pendidikan Betsy DeVos.

Pada era pemerintahan Presiden Bush, Pence menjadi kepala Komite Studi Partai Republik, kelompok paling konservatif di Partai Republik waktu itu. Faksi Pence dalam posisi yang bagus untuk melakukan lobi dengan Kongres.

Pence tidak seperti Trump, dia bekerja pada isu nilai-nilai moral, seperti membatasi aborsi  sepanjang karirnya. Dia dan kelompoknya kemungkinan banyak mendorong kebijakan-kebijakan sosial yang konservatif.

Usulan Trump tentang USD 1 triliun untuk infrastruktur, misalnya, kemungkinan bukan ide dari faksi Pence, karena itu adalah ide besar pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja.

Ketiga, faksi McCain, anggotanya: Menteri Pertahanan Jim Mattis; Menteri Keamanan Dalam Negeri John Kelly; Penasihat keamanan H.R. McMaster.

John McCain yang untuk sementara ini bukan bagian dari pemerintah, sedang mencoba melakukan sesuatu yang tidak biasa yaitu meyakinkan seluruh dunia bahwa komentar Trump tentang NATO, Uni Eropa, Rusia dan isu-isu lain selama kampanye, tidak benar-benar mencerminkan kebijakan AS secara luas, meskipun Trump adalah presiden AS.

McCain tidak melakukannya sendirian. Menhan Mattis, dalam perjalanan ke luar negeri, misalnya menuding intervensi Rusia dalam Pilpres dengan cara yang tidak dilakukan Trump. Lalu ketika presiden mengkritik wartawan, dia mengatakan tidak memiliki masalah dengan pers.

McMaster juga mengatakan kepada Trump dia harus menghindari menggunakan frase “terorisme Islam radikal.”

Keempat, faksi teman dan keluarga, anggota: Jared Kushner, menantu Trump, penasihat senior Gedung Putih dan Kepala Kantor Inovasi; Ivanka Trump; Michael Cohen, pengacara pribadi Trump; Omarosa Manigault, penasihat di Gedung Putih.

Kelompok ini memiliki hubungan pribadi dengan Presiden Trump dan melayani Trump adalah prioritas. Tidak seperti faksi lain, kelompok ini tidak memiliki hubungan dengan Partai Republik atau gerakan konservatif sebelum mereka mulai membantu kampanye Trump.

Ivanka dan Jared Kushner memiliki kontak langsung tang rutin dengan Trump. Pasangan ini juga  diduga pernah mempengaruhi Trump mengganti manajer kampanye pada 2016 lalu. Tapi kelompok memiliki kekuatan operasional terbatas.

Kelima, faksi Partai, anggotanya: Kepala Staf Reince Priebus; Katie Walsh, wakil kepala staf; Sekretaris pers Sean Spicer.

Kelompok ini mencoba mengarahkan Trump menuju pendekatan yang akan membantu partai: bekerja sama dengan GOP di Capitol Hill, mempertahankan peringkat persetujuan yang layak dan berpotensi memenangkan masa jabatan kedua.

Keenam, faksi Wall Street, anggotanya: Menteri Keuangan Steven Mnuchin; Gary Cohn, direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih. Trump terdengar seperti seorang yang sangat populis selama kampanye. Namun sejatinya kebijakan ekonomi Trump telah dibajak sejumlah tokoh bisnis besar dan Wall Street di posisi kunci. Mereka sudah mengatakan bahwa pemotongan pajak bagi perusahaan adalah ide yang sangat tidak populis dan merupakan prioritas besar pemerintah.

Mnuchin mungkin menjadi penghalang besar untuk anti-China dan pandangan anti-perdagangan dari faksi Bannon dan Navarro yang mengusulkan tarif besar pada barang-barang impor dari China.

Ketujuh, faksi birokrat, anggotanya sekitar 1,8 juta karyawan di badan-badan federal. Pegawai federal ini sekitar 48% tinggal di Washington, D.C, wilayah di mana Hillary Clinton memenangkan sekitar 91% suara pada Pilpres 2016.

Namun, menurut Kantor Manajemen Personalia federal, hanya sekitar 7% karyawan penuh waktu di agen-agen federal yang tinggal di Washington, DC,  22%  tinggal di Maryland dan Virginia. Sisanya, di negara-negara bagian di seluruh negeri.

Sebuah jajak pendapat pasca-Pilpres menyebut bahwa sekitar 62% karyawan federal menyukai Hillary Clinton, 28% mendukung Trump. Jadi, karyawan federal sangat anti-Trump.

Kedelapan, faksi tokoh penting lain, anggotanya: Kellyanne Conway, konselor untuk presiden; Konselor Gedung Putih Donald McGahn; dan Menteri Luar Negeri Rex Tillerson. Belum jelas pandangan mereka berseberangan atau mendukung faksi-faksi lain. Tillerson misalnya, sudah berada di beberapa konflik dengan faksi Bannon.

The New York Times melaporkan, Ivanka Trump dan Tillerson pernah mendesak presiden untuk tidak menarik AS dari kesepakatan perubahan iklim 2015 yang mencakup lebih dari 100 negara. Trump telah mendorong penarikan AS dari Perjanjian Paris, dan Bannon ada di balik ide tersebut. [] (Fivethirtyeight)

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here