Trump Tinggalkan TPP, Diantisipasi Perang Dagang AS-Cina

0
404
Protes tentang TPP di dekat hotel di Hawaii tempat acara pertemuan TPP diselenggarakan tahun 2015 (REUTERS)

Nusantara.news, Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat keputusan AS mundur dari Trans-Pasific Partnership (TPP), kemitraan perdagangan AS dengan 12 negara lainnya di kawasan Asia Pasific. Trump menganggap perjanjian perdagangan tersebut merugikan pekerja Amerika.

AS sebagai negara yang terlibat dalam perjanjian dagang tersebut memang berhak memutuskan untuk menarik diri dari kesepakatan dagang yang pernah ditandatangani oleh negara-negara anggota di Selandia Baru pada Februari 2016 itu.

Penarikan diri AS dari perjanjian perdagangan semacam TPP, dan nanti juga dengan negara-negara Amerika Utara, NAFTA semakin mempertegas kebijakan AS dengan Trump sebagai presiden yang mengarah proteksionis. Trump seolah ingin mengatakan, “saya sedang memikirkan keuntungan bagi negeri saya sendiri.”

Trump yang berlatar belakang pengusaha agaknya menginginkan model kerja sama dengan negara-negara lain secara langsung dan satu per satu. Kerja sama model ini dia anggap akan lebih memberikan keuntungan bagi Amerika.

Keputusan AS meninggalkan TPP dinilai banyak pihak bakal mengubah peta kerja sama perdagangan di kawasan Asia Pasifik. Pengaruhnya tentu saja akan terasa terhadap negara-negara di kawasan ini, termasuk kawasan Asia Tenggara dimana Indonesia ada di dalamnya.

TPP merupakan perjanjian dagang yang dirundingkan oleh Australia, Brunei, Chili, Kanada, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapura, Amerika Serikat, dan Vietnam. Indonesia baru berencana bergabung ke dalam kerja sama ini. Presiden Joko Widodo beberapa kali mengungkapkan keinginannya untuk bergabung dengan TPP.

Bagaimana sikap Indonesia?

Meski AS telah keluar dari TPP, namun Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong menyatakan perdagangan bebas TPP masih akan tetap berjalan, ia juga menilai Indonesia masih layak untuk bergabung.

“Pada dasarnya perundingan TPP sudah berjalan selama 9 tahun, dan sudah banyak upaya susah payah yang dituangkan untuk menyusun TPP ini. Jadi sayang cuma karena Amerika keluar, masa seluruhnya tidak jadi,” jelas Thomas Selasa (24/1/2017).

Tapi apakah strategi ini akan berdampak positif terhadap Indonesia?

Bisa ya bisa juga tidak. Dengan mundur dari TPP AS pasti punya strategi lain dalam mengungguli persaingan dagang di kawasan Asia Pasific. Trump sangat sadar ‘musuh besar’ di kawasan ini adalah Cina. Bukan tidak mugkin ke depan AS bakal lebih agresif dalam konteks ‘perang dagang’ dengan Cina di kawasan Asia. Sementara, Cina sudah dirayu oleh negara-negara anggota TPP untuk masuk pasca-AS keluar dari TPP.

Namun demikian, sebagian besar pelaku usaha di Tanah Air optimis dengan kebijakan Trump yang bakal lebih protektif terhadap sejumlah mitra dagangnya, terutama Cina. Dengan catatan, Pemerintah harus lebih agresif menjalin kerja sama bilateral dengan AS.

Hubungan perdagangan Indonesia dengan AS cukup besar terutama di bidang non migas, meskipun tak sebesar dengan Cina. Di era George W. Bush (2001-2009) ekspor Indonesia ke AS mencapai USD 72, 89 miliar, impor USD 31,79 miliar dengan rata-rata pertumbuhan ekspor 8,29%. Pada Masa pemerintahan presiden Barack Obama nilai ekspor USD 115,97 miliar, dan impor USD 70,19 miliar dengan rata-rata pertumbuhan ekspor 6,49%.

Era Donald Trump tentu saja menjadi tantangan bagi Indonesia karena kebijakan Trump yang cenderung proteksionis dan AS memilih mundur dari TPP.

Sejumlah industri Indonesia sebetulnya punya peluang untuk tetap meraih pasar di AS. Industri sepatu contohnya, produsen sepatu di Indonesia bisa mengambil peluang dengan keluarnya AS dari TPP yang selama ini menguntungkan pesaing utama industri sepatu, Vietnam. Tapi dengan catatan pemerintah harus cepat menangkap peluang dengan segera melakukan kerja sama bilateral dengan AS.

AS adalah tujuan ekspor utama Industri sepatu dan alas kaki Indonesia. Nilai ekspor sepatu dan alas kaki Indonesia ke negara tersebut mencakup 28,2% dari total nilai ekspor sepatu dan alas kaki Indonesia yang mencapai USD 4,5 miliar pada 2015.

Demikian pula dengan industri elektronik. Produsen Tanah Air bisa lebih fokus ke industri elektronik berteknologi rendah dan menyerahkan industri elektronik teknologi tinggi ke produsen di AS. Industri lain seperti mebel dan kerajinan juga masih melihat adanya peluang positif kerja sama dagang dengan AS pasca-keluarnya AS dari TPP. Terpenting, pemerintahan Joko Widodo bisa memperbaiki diplomasi dengan AS, di tengah Trump sedang mengurangi dominasi Cina dan memproteksi pasar domestiknya.

Namun demikian, Indonesia juga harus mewaspadai meningkatnya serbuan barang-barang impor dari Cina dan India sebagai ekses AS yang over-protektif.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga mengakui, arah kebijakan baru AS di bawah Presiden Trump akan memberikan pengaruh terhadap pasar. Oleh karena itu menurutnya, fokus Pemerintah adalah menjaga mementum investasi jangka panjang.

“Konsentrasi terhadap perhatian ini mengharuskan kita terus investasi untuk memperkuat ekonomi agar tidak mudah terombang-ambing,” jelas Menkeu di Jakarta, Senin (23/1/2017). [ ]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here