Trump-Turnbull Bersitegang, Inikah Babak Baru Hubungan AS-Australia?

0
80
Foto: AP dan Bloomberg

Nusantara.news, Washington – Bagi presiden baru Amerika Serikat, seharusnya pembicaraan dengan Pimpinan Australia merupakan yang paling menyenangkan. Australia adalah sekutu AS yang paling dekat dan setia selama ini. Tapi tidak demikian halnya dengan presiden Donald Trump. Pembicaraan awalnya dengan PM Australia Malcolm Turnbull justru memicu ketegangan.

Masalah muncul setelah Trump menyebut kebijakan AS di masa Obama terkait masalah pengungsi dengan Australia adalah sebuah keputusan bodoh. Pernyataan  muncul beberapa hari setelah Trump menggelar pembicaraan telepon yang menegangkan dengan Turnbull.

Dalam pembicaraan telepon pada Sabtu (28/1), Trump mengatakan dia sudah berbicara dengan empat kepala negara.

“Ini adalah pembicaraan terburuk,” ujar Trump kepada Turnbull sebagaimana dilansir The Washington Pos, (1/2/2017).

Trump, yang mengecam kebijakan Australia terkait pengungsi, menyudahi pembicaraan itu setelah 25 menit. Padahal, pembicaraan dijadwalkan berlangsung satu jam.

Pembicaraan telepon Trump-Turnbull jauh lebih singkat ketimbang saat berbicara dengan PM Shinzo Abe dari Jepang, Kanselir Angela Merkel, Presiden Francois Hollande atau Presiden Rusia Vladimir Putin.

Trump membahas lagi topik pembicaraannya dengan Turnbull pada Rabu malam, dia menulis dalam pesan di Twitter: “Apakah Anda percaya itu? Pemerintahan Obama setuju untuk mengambil ribuan imigran ilegal dari Australia. Mengapa? Saya akan mempelajari kesepakatan bodoh ini!”

Para pejabat AS mengatakan, Trump berperilaku sama dalam percakapan dengan para pemimpin dari negara-negara lain, termasuk dengan Meksiko.

Tapi ketegangan dengan Turnbull menjadi sangat mencolok karena adanya ikatan erat antara AS dan Australia, negara yang selama ini selalu berbagi soal informasi intelijen, mendukung satu sama lain dalam bidang diplomasi, dan berjuang bersama dalam perang di Irak dan Afghanistan.

Gambaran ketegangan yang ditunjukkan Trump, bertentangan dengan apa yang sudah ditampilkan dalam akun Gedung Putih—yang telah dihapus—mengenai percakapan resmi Trump dengan Turnbull yang digambarkan bahwa keduanya “menekankan kekuatan abadi dan kedekatan hubungan AS-Australia yang sangat penting untuk perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran di kawasan Asia-Pasifik dan global.”

Seorang juru bicara Gedung Putih menolak berkomentar soal itu, dan hanya menjawab diplomatis bahwa pembicaraan Trump dengan para kepala negara lain berjalan produktif dan menyenangkan.

Pemerintah Australia sendiri membantah pembicaraan Trump dan Turnbull memanas, dan menyebut pembicaraan kedua pemimpin itu sangat hangat meski mengakui lebih pendek dari yang diperkirakan.

Dalam pembicaraan itu, Turnbull hendak menanyakan apakah Trump akan melanjutkan kesepakatan yang diteken pemerintahan Barack Obama yang menyatakan AS akan menerima 1.250 pengungsi yang kini berada di kamp-kamp penampungan di Australia.

Namun Trump bereaksi atas pertanyaan tersebut dengan menyatakan bahwa perjanjian itu adalah hal terburuk.

Trump juga mengatakan, kesepakatan itu akan membuatnya terbunuh secara politis dan menuduh Australia hendak mengekspor ‘pengebom Boston’ yang baru.

Akar masalahnya adalah penduduk berjumlah sekitar 2.500 orang yang saat ini sedang mencari suaka di Australia tapi dialihkan ke fasilitas lepas pantai negara itu di Nauru dan Pulau Manus di Papua New Guinea.

Kondisi mereka yang menyedihkan di tempat penampungan, diminta intervensi dari PBB dan janji dari AS untuk menerima sekitar setengah dari para pengungsi itu, asalkan mereka melewati pemeriksaan keamanan AS.

Namun, banyak pengungsi berasal dari Iran, Irak, Sudan dan Somalia, negara yang tercantum dalam perintah eksekutif yang ditandatangani Trump pekan lalu soal pembatasan imigran sementara ke AS. Perintah eksekutif tersebut dianggap dapat membuat batalnya kesepakatan awal soal pengungsi antara AS dan Australia.

Apakah ketegangan AS dan Australia menandai babak baru hubungan kerja sama keduanya? Mengingat, sebelumnya Australia juga sempat kecewa dengan keputusan Donald Trump untuk meninggalkan kerja sama Trans-Pasific Partnership (TPP), sebuah kerja sama perdagangan di kawasan Asia Pasifik yang ditujukan mengimbangi kekuatan perekonomian Cina di kawasan tersebut. [ ]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here