Tuban Bangun Patung Dewa Perang Cina, Ada Apa?

4
2689
Patung Dewa Perang Cina Kwan Sing Tee Koen setinggi 30,4 meter di Kelenteng Kwan Sing Bio, Tuban Jawa Timur

Nusantara.news, Surabaya – Semakin banyak situs-situs kebudayaan di Jawa Timur yang bisa dikunjungi, seiring dengan berdirinya patung Dewa Perang Cina Kwan Sing Tee Koen setinggi 30,4 meter di Kelenteng Kwan Sing Bio, Tuban Jawa Timur. Bahkan Museum Rekor Indonesia (MURI) sempat memberikan penghargaan atas berdirinya patung yang menelan Rp2,5 miliar.

Pro dan kontra keberadaan patung Dewa Perang Cina sekamin bermunculan ke publik, apa maksud dan tujuan didirikan Patung Kwan Sing Tee Koen ini? Seperti diketahui bahwa patung Kwan Sing Tee Koen dinobatkan MURI sebagai salah satu patung terbesar se-Asia Tenggara, dan diresmikan pada Senin 17 Juli 2017.

Meski tidak ada ritual pemujaan dan tujuan tertentu, namun, kontroversi keberadaan patung ini dinilai sebagai sesuatu yang aneh. Guru besar Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI) Nazaruddin Sjamsudin mengingatkan bahwa bangsa Indonesia saat ini harus waspada kepada segala bentuk ancaman keutuhan bangsa baik dari dalam maupun dari luar negeri.

“Ini baru patung, sebentar lagi pangkalan AL Cina di Pontianak, Semarang, dan Palembang. Awas!” tulis Nazaruddin di akun Twitter @nazarsjamsuddin me-retwet akun @LUPUZTop1.

Bahkan, Nazaruddin menyebut ada rekayasa “lanjutan” setelah pembangunan patung Dewa Perang Cina di Tuban ini. Apa maksud dari “lanjutan” tersebut? Kabarnya, pihak Kelenteng Kwan Sing Bio akan kembali membangun patung Dewi Kwan Im yang rencananya besar dan tingginya hampir sama dengan yang ada saat ini.

Sebelumnya, pengamat politik Muslim Arbi mengingatkan kepada semua pihak untuk selalu menjaga keutuhan NKRI, menurutnya, bersandarnya kapal perang Angkatan Laut Cina Deng Jiaxian-874 di Dermaga JICT II Pelabuhan Tanjung Priok patut diwaspadai juga. Seperti diketahui bahwa Indonesai adalah negara yang kaya akan sumber daya alamnya, dan upaya-upaya untuk “menerobos” pertahanan dan menguras sumber alam hendaknya patut dicermati.

“Meskipun secara nyata-nyata kedatangan kapal perang Cina ke Indonesia adalah dalam rangka sebagai bentuk kerjasama dengan TNI-AL, namun kita harus waspada dengan segala kemungkinan-kemungkinan ada misi lain yang dibawa nanti. Dan tidak menutup kemungkinan melakukan kegiatan inteljen,” jelasnya.

Sementara itu Alim Sugiantoro, Ketua pemilik Kelenteng sekaligus pemakarsa pembangunan patung Dewa Perang ini menyebut bahwa patung ini dibangun bertepatan dengan hari lahir Kwan Sing Tee Koen ke 1857. “Untuk dana pembangunan berhasil dikumpulkan dari para jemaat yang sudah menjadi bagian Kelenteng sejak 1970. Kami juga akan membangun patung Dewi Kwan In yang melambangkan belas kasih dan penyayang,” ungkapnya.

Kwan Sing Tee Koen, Simbol Dewa Perang

Kongco Kwan Sing Tee Koen sangat dihormati sebagai leluhur yang diagungkan. Kan Sing Tee Koen atau Guan Di atau Guan yang berarti pasukan Guan adalah seorang Panglima perang pada jaman San Gue (221-269 M) merupakan dewa perang. Guan sendiri adalah penduduk asli Kabupaten hedong yang sekarang berganti menjadi Provinsi Shanxi, bentuk tubuhnya tinggi besar, berjenggot panjang dan berwajah merah.

Guan dipuji karena kejujuran dan kesetiaannya, Dia adalah lambang suri tauladan dan kesetiaan sejati yang selalu menepati janji dan setia pada sumpahnya. Sebab, itu Guan banyak dipuji di kalangan masyarakat, di samping kelenteng – kelenteng, patung Guan juga diabadikan di rumah, kantor sampai ke markas organisasi mafia, bisanya para anggota mafia melakukan sumpah setia dihadapan Guan.

Tak hanya dipuji sebagai lambang kesetiaan dan kejujuran, namun dipuji sebagai dewa pelindung perdagangan dewa kesusastraan dan dewa pelindung rakyat dari malapetaka. Julukan dewa perang sebagai umumnya dikenal dan dialamatkan ke Guan Di, harus diartikan sebagai Dewa untuk menghindarkan peperangan dan segala akibatnya yang mendengarkan rakyat, sesuai dengan wataknya yang budiman.

Satu pertanyaan paling penting untuk Pemrov Jawa Timur, atas alasan apa Pemerintah Provinsi Jawa Timur membiarkan pembangunan patung tersebut? Semestinya, bila menyangkut kajian, Pemrov Jatim bukan hanya meninjau dari aspek kebudayaan, tetapi juga aspek taktik strategis pertahanan NKRI yang harus dilihat jauh ke depan sebelum bermunculannya dampak-dampak baru ketika kelak kejadian ini menjadi isu nasional karena terjadinya persinggungan budaya antar negara. Jangan sampai hal ini menjadi ‘bara dalam sekam’ bagi warga lokal. []

4 KOMENTAR

  1. Ya memang gk da maksud apa-apa bisa aja radar Tiongkok ditaruh didalam patung yg melambangkan bahwa sebentar lagi Cina berkuasa,tak pernah berjuang nya nenek moyangnya itu untuk kemerdekaan INDONESIA kenapa bisa berdiri disitu gak ada lagi apa Pahlawan INDONESIA yang bisa di buat pengingat kemerdekaan KITA?

  2. Hahaha…radar di dalam patung. Kamu tahu cara kerja radar? Radar apa yg dimaksud…radar cuaca…radar pesawat..atau kamu rada(r) rada(r) parno.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here