Tugas Berat La Nyalla

0
100
Bacagub Jatim La Nyalla Matalitti mendapat tugas berat dari Gerindra untuk mencari mitra koalisi. Saat ini mitra yang tersisa hanya PAN. Bila La Nyalla dapat memenuhi tugasnya, maka dalam Pilgub Jatim 2018 akan ada tiga calon.

Nusantara.news, Surabaya – Partai Gerindra sampai saat ini memang belum menentukan langkah politik di Pemilihan Gubernur Jatim. Namun dengan selembar surat tugas khusus yang diteken Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto untuk La Nyalla Matalitti, bisa menentukan kontestasi Pilgub Jatim 2018 mendatang.

Dalam surat nomor 12-0036/B/DPP- GERINDRA/Pilkada/2017 itu dijelaskan, nama La Nyalla sebagai cagub Jatim sedang diproses DPP Partai Gerindra. La Nyalla bisa menjadi calon alternatif selain Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Khofifah Indar Parawansa, asal bisa menyelesaikan tugas yang diberikan partai.

Ya, dalam surat tersebut La Nyalla diberi deadline 10 hari sejak Senin (11/12/2017) untuk mencari partai koalisi untuk pencalonan dirinya di Pilkada Jatim 2018. Surat itu ditembuskan pada DPD Partai Gerindra Jatim kepada mantan ketua umum PSSI itu pada Minggu (10/12/2017) malam.

Selain diminta mencari mitra koalisi, La Nyalla juga diminta menyiapkan kelengkapan pemenangan. Salah satu poin isi surat menegaskan, jika La Nyalla tidak bisa melaksanakan tugas hingga 20 Desember, maka surat tersebut dianggap tidak berlaku.

Waketum Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengatakan surat tersebut bukan penanda bahwa La Nyalla resmi diusung Gerindra sebagai cagub di Pilgub Jatim. Dia menegaskan La Nyalla mesti bekerja mencari dukungan dari partai lain sebelum diusung.

“Itu kan bukan calon gubernur, baru surat tugas, harus cari koalisi dulu dalam tempo 10 hari. Kalau dia nggak dapat 10 hari, ya sudah, nggak jadi,” ujar Dasco saat dihubungi, Senin (11/12/2017).

Sementara itu, Wasekjen Gerindra Andre Rosiade juga membenarkan surat tugas La Nyalla tersebut. Andre mengatakan untuk mendukung La Nyalla mesti mencukupi kursi dukungan sebelum diusung Gerindra.

“Itu surat tugas dalam rangka agar La Nyalla bisa melakukan konsolidasi dengan parpol-parpol lain. Itu benar surat diterbitkan Gerindra. Membangun komunikasi politik dengan partai lain agar bisa mencukupkan kursi maju di Pilkada Jatim,” terang Andre saat dihubungi terpisah.

“Belum resmi (diusung), surat rekomendasi belum tapi itu baru sebatas surat tugas membangun koalisi apakah dengan PKS atau PAN dan partai lain,” imbuh dia.

Sebuah tugas yang berat tentunya bagi seorang La Nyalla. Apalagi saat ini tidak mudah mencari partai koalisi. Sebab, hampir semua partai sudah mendeklarasikan mendukung Gus Ipul dan Khofifah.

Sebaliknya, bila La Nyalla dapat memenuhi syarat yang ditentukan, maka dalam Pilgub Jatim 2018, akan ada tiga calon. Yakni Gus Ipul berpasangan dengan Abdullah Azwar Anas,  Khofifah Indar Parawansa berpasangan dengan Emil Dardak, dan terakhir La Nyalla Mattiliti, yang belum menentukan wakilnya.

Seperti diketahui pasangan Gus Ipul-Azwar Anas saat ini sudah resmi diusung PDI Perjuangan dan PKB. PKS yang sebelumnya disebut-sebut ingin membentuk poros baru, juga telah resmi mendukung Gus Ipul. Alasannya, PKS sebelumnya telah menjadi partai pendukung pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) pada dua Pilgub Jatim. Sehingga majunya Gus Ipul tidak jauh berbeda dengan Karsa karena sosok Gus Ipul. Tidak bergabungnya PKS dengan poros baru, sebab hingga saat ini belum tahu siapa yang akan diusung dari poros baru tersebut.

Sementara pasangan Khofifah-Emil Dardak sudah pasti diusung koalisi besar yakni Golkar, Demokrat, Hanura, dan Nasdem. Untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kemungkinan besar pilihannya hanya dua yakni Khofifah atau Gus Ipul. Namun aroma dukungan partai Ka’bah tersebut sepertinya bakal mengerucut ke Khofifah. Hal ini tercium saat Rapat Pimpinan Wilayah (Rapimwil) IV DPW PPP Jawa Timur dan Halaqoh Ulama bertema: Memperkuat Politik Islam dalam Bernegara, beberapa waktu lalu. Ketua Umum PPP Romahurmuziy atau Romi, sudah menyatakan bakal mengusung Khofifah-Emil. Dan kalau pun tidak jadi, PPP kemungkinan akan menjatuhkan pilihan ke Gus Ipul-Anas.

Yang tersisa saat ini hanya Partai Amanat Nasional (PAN) yang belum menjatuhkan pilihan mendukung calon Gubernur Jatim 2018. Dan, ini menjadi tugas La Nyalla apakah dia sanggup merayu PAN menjadi mitra koalisi Gerindra. Sebab bila ditotal, suara Gerindra dan PAN sudah cukup untuk mengusung calon sendiri. Gerindra memiliki 13 kursi, dan PAN dengan 7 kursi. Total 20 kursi.

Dalam Peraturan KPU 9/2016 tentang Pencalonan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Wali Kota dan Wakil Wali Kota, syarat pertama bagi partai yang ingin mengusung calon gubernur sendiri adalah harus memiliki jumlah perolehan kursi di DPRD di daerah pilkada sebanyak 20 persen. Atau parpol punya 25 persen dari akumulasi suara sah dalam pemilihan legislatif terakhir.

Mitra Koalisi Hanya Tinggal PAN

Mendapat tugas berat, tidak membuat ciut nyali La Nyalla. Dia bahkan menyatakan siap untuk memenuhi segala persyaratan yang diberikan Gerindra. Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim ini mengatakan akan menjalankan tugas-tugas yang diberikan Gerindra.

“Iya benar, Insya Allah kami akan menjalankan perintah dalam surat tugas ini dengan baik, dengan sekuat tenaga,” kata La Nyalla, Senin, (11/12/2017).

Untuk memenuhi persyaratan tersebut, kata Nyalla, dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan konsolidasi dengan sejumlah partai, seperti PAN yang memang sejauh ini belum menjatuhkan pilihan. Lanjut La Nyalla, dirinya saat ini telah melakukan komunikasi intensif dengan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan.

“Dengan PAN komunikasinya sudah cukup baik. Kami membicarakan bagaimana Jatim ke depan harus lebih berkeadilan sosial, masyarakatnya lebih sejahtera dan ketimpangan bisa terus dikurangi,” terangnya.

Sementara untuk kelengkapan pemenangan, lanjut Nyalla, pihaknya mengklaim telah membentuk relawan yang tersebar di 38 Kabupaten/kota se- Jatim. Relawan tersebut, imbuhnya, sudah siap memenangkan La Nyalla jika nanti sudah cukup syarat dukungan dari partai.

“Saya sudah berkeliling di seluruh daerah Jatim, Alhamdulillah responsnya baik. Sampai sekarang kami terus bergerak. Tim di lapangan sudah on dan tinggal jalan saja,” pungkasnya.

PAN sendiri saat ini tengah memasuki finalisasi untuk menentukan arah haluan politiknya dalam Pilgub Jatim. Melalui Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, pihaknya masih malu-malu menyebut partainya akan mengusung Menteri Sosial Khofifah. “Jatim sudah deket sekali,” kata Zulkifli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (11/12/2017).

Saat ditanya apakah PAN akan mendukung Khofifah atau calon baru La Nyalla yang diberi tugas mendekati PAN, Zulkifli malah memberi jawaban mengambang. “Nah itu tahu jawabannya,” jawabnya singkat.

Menurut dia, keputusan politik itu harus didasari beberapa pertimbangan. Salah satunya aspek politik saling menguntungkan satu sama lain. “Ya tentu pertimbangannya politik ya kan kalau politik take and gift. Nah kira kira begitu,” ujarnya.

Terpisah, Sekjen PAN Eddy Soeparno menyatakan partainya akan mengumumkan dukungan Cagub Jatim dalam waktu dekat atau sebelum ganti tahun di Surabaya. Namun Eddy enggan menyebut spesifik nama sosok yang akan didukung PAN sebagai Cagub-Cawagub Jatim 2018. Menurutnya, dukungan PAN dari dua Paslon yang sudah ada.

Dijelaskan Eddy, PAN tidak akan mengusung calon lain sebagai poros baru. Sebab, menurutnya, PAN terkendala sosok yang bersedia diusung sebagai penantang dua pasangan yang telah ada.
“Sedianya kami sudah punya calon yang kuat, namun di saat-saat terakhir yang bersangkutan memutuskan untuk urung maju di Pilgub Jatim,” papar Eddy.

Sikap hampir sama ditunjukkan PAN Jatim. Melalui Sekretaris DPW PAN Jatim, Basuki Babussalam mengatakan, partainya memang hingga kini belum menentukan pilihan. Terkait nama La Nyalla yang diberi tugas mencari mitra koalisi, kata Basuki, PAN sudah mempersiapkan segala kemungkinan, termasuk melakukan berbagai pertimbangan dan konsultasi dengan Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jatim.

“PAN terus mengkaji semua proses. Hingga putusan ditetapkan setelah berkoordinasi vertikal dan horisontal. Serta berkonsultasi dengan Muhammadiyah dan tokoh lintas golongan di Jawa Timur,” sebut Basuki kepada awak media, Senin (11/12/2017).

Terkait sosok baru, tambah Basuki, nama La Nyalla cukup baik di mata PAN. Bahkan dia menyebut La Nyalla setara dengan Gus Ipul dan Khofifah. “Baik Pak Syaifullah Yusuf, ada Ibu Khofifah, ada Pak La Nyala Mattaliti, semua adalah kader terbaik. Dan sampai hari ini posisi kandidat relatif sama. Belum ada yang terlalu dominan. Keseimbangan posisi dukungan bagi calon yang selama ini ada, memberikan keyakinan bagi PAN bahwa siapapun yang didukung PAN akan memiliki potensi akan menang,” imbuhnya.

Kendati PAN dinilai lamban dalam menentukan pilihan, namun lanjut Basuki PAN tetap berpeluang untuk memenangkan Pilgub Jatim. Ya, menurutnya siapapun calon yang diusung PAN nanti, tentunya menjadi pilihan terbaik.

“PAN Jatim punya pengalaman, siapapun yang didukung PAN selama tiga periode ini selalu menang. Sebab sebelum membuat keputusan, PAN Jatim selalu berkonsultasi dengan banyak pihak. Khususnya Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dan Aisyah Jawa Timur, para kiai, dan tokoh masyarakat di Jatim,” pungkasnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here