Tugas Berat Sang Jenderal, Gelorakan Nasionalisme dari Lapangan Hijau

0
94

Nusantara.news, Jakarta – Eddy Rahmayadi sebagai Ketua Umum PSSI, punya tugas yang tidak ringan ketika memimpin otoritas tertinggi sepakbola di Indonesia dalam Kongres Tahunan di Bandung, Minggu (8/1/2017). Di pundak sang jenderal terdapat tantangan untuk mensinergikan semangat jutaan penggemar sepakbola dari Sabang sampai Merauke. Ia punya amanat untuk membangkitkan semangat nasionalisme melalui lapangan hijau.

Kongres tahunan yang jadi agenda awal Eddy Rahmayadi dalam program kerja 2017, bisa disebut sebagai ujian pertama baginya untuk meramu semua potensi anak negeri demi meraih prestasi. Target tinggi bahkan langsung diumbar Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) tersebut, yakni menyabet medali emas cabang olahraga sepakbola di SEA Games 2017 dan menembus empat besar Asian Games 2019.

Status sepakbola yang jadi olahraga paling digandrungi di negeri ini, memang tidak berbanding tegak lurus dengan prestasi. Medali emas Tim Nasional Garuda di ajang multi event empat tahunan negara-negara Asia Tenggara terakhir kali diraih pada edisi ke-XVI di Manila, Filipina, pada 1991 silam setelah sebelumnya sempat berjaya pada SEA Games 1987.

Namun sejak ketentuan wajib memakai pemain U-23 pada edisi 2001 sebagaimana yang diatur oleh International Olympic Council (IOC), prestasi itu tak lagi terulang. Dua kali jadi finalis, dua kali pula Indonesia menemui kegagalan. Termasuk ketika menjadi tuan rumah pada 2011. Dahaga gelar ini harus segera dituntaskan Eddy Rahmayadi di Malaysia nanti.

Output kompetisi yang belum optimal dan masih kentalnya non teknis yang kerap jadi batu sandungan, merupakan faktor tenggelamnya prestasi Indonesia di bawah nama besar Thailand di Asia Tenggara. Padahal nama besar Ramang Cs di masa lalu sempat membuat gentar tim selevel Rusia di masa lalu pada ajang olimpiade. Gelora nasionalisme di jiwa pemain masa itu menyingkirkan segala kekurangan fisik, skill dan anggaran.

Mengulang sejarah itulah yang akan dilakukan Eddy Rahmayadi. Melibatkan semua elemen, jenderal kelahiran Aceh tersebut menyebut ada dua langkah yang akan ditempuh. Jangka pendek, menaturalisasi pemain yang masih punya darah nusantara serta memperbanyak kiprah pemain muda di ajang kompetisi dalam negeri. “Paling tidak, tiga pemain U-23 harus dimainkan di starting eleven,” terangnya.

Kendati tidak 100 persen alergi pada pemain naturalisasi, Eddy Rahmayadi sepakat cara instan ini solusi terbaik dengan target juara di Malaysia. Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bahkan telah merekomendasikan wacana naturalisasi ini sebagai sebuah solusi terbaik untuk membenahi prestasi.

Untuk solusi jangka panjang, Eddy mencanangkan pembinaan serta pengembangan bakat pemain lokal  sebagai prioritas pengurus PSSI. “Kalau dua tahun ke depan masih pakai naturalisasi, silakan anda tegur saya. Tapi untuk sekarang, target saya Sea Games 2017, Indonesia Juara!” tegas Eddy melalui akun Twitter pribadinya.

Selain prestasi, keterlibatan sang jenderal di lapangan hijau juga sebagai penjaga keutuhan semangat nasionalisme. Sebab, sepakbola merupakan satu-satunya cabang olahraga yang mampu melibatkan jutaan psikologi massa dalam satu momen. Fakta itu terlihat di kantong-kantong suporter yang tersebar di negeri ini. Militansi mereka dalam mendukung timnya bisa jadi gambaran besarnya faktor psikologis yang sudah tertanam di benak.

Bisa dibayangkan bagaimana dahsyatnya dukungan itu berubah bentuk jadi spirit nasionalisme yang bisa dimaksimalkan PSSI. Contoh terakhir tentu saja laga final pertama Piala AFF 2016. Antusiasme ratusan ribu suporter Timnas berebut tiket masuk stadion untuk melihat secara langsung menunjukkan kuatnya semangat nasionalisme di kalangan pecandu sepakbola.

Prestasi sepakbola nasional tentu tidak lepas dari tata kelola PSSI di bawah pengurus yang baru. Aneka persoalan seperti konflik kepengurusan akibat banyak kepentingan yang bermain hanya akan menjadi faktor penghambat prestasi dan menyia-nyiakan harapan jutaan fans sepakbola di Tanah Air. Harapan inilah yang kini diamanatkan ke pundak Sang Jenderal.

Program Prestasi PSSI

  1. Efektivitas kompetisi (musim depan hanya ada Indonesia Super League, Divisi Utama dan Liga Nusantara)
  2. Pembatasan pemain asing. Iap klub ISL hanya boleh diperkuat dua pemain asing. Sedangkan divisi utama tidak boleh asa pemain asing. Batasan usia 35 Tahun
  3. Target emas SEA Games 2017 dan empat besar Asian Games 2019.
  4. Setiap klub harus memiliki lima pemain U-23, tiga wajib masuk starting eleven.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here