Tujuh Tradisi Unik Idul Adha Khas Nusantara

1
330
Tradisi Apitan di Kota Semarang yang sudah berlangsung secara turun temurun. Tradisi ini juga ditemukan di Kudus, Grobokan, dan kota-kota lainnya di sekitar Semarang

Nusantara.news, Jakarta – Kepulauan Nusantara memang kaya tradisi. Apapun agama mengalami akulturasi dengan tradisi setempat. Termasuk agama Islam yang masuk ke nusantara sejak Abad ke-7 Masehi. Kini Islam menjadi agama terbesar di Indonesia dengan jumlah pemeluk sekitar 224,5 juta jiwa atau terbanyak di dunia.

Karena bersentuhan dengan budaya lokal, maka dalam merayakan hari besarnya, seperti Idul Adha, ada beragam keunikan tradisi yang membedakan antara daerah yang satu dengan daerah lainnya. Paling tidak nusantara.news menemukan tujuh tradisi unik perayaan Idul Adha di kepulauan nusantara.

  1. Tradisi “Ngejot” di Bali

Mayoritas penduduk Bali memang Hindu. Tapi ada sejumlah banjar (desa adat) yang penduduknya beragama Hindu dan Islam, seperti di Banjar Angantiga, Desa Petang, Kecamatan, Petang, Kabupaten Badung. Di sana setiap perayaan hari besar keagamaan Hindu, warga Hindu berbagi makanan kepada warga muslim begitu pula sebaliknya.

Berbagi makanan ke pemeluk agama lain itu disebut “Ngejot”. Setiap hari raya Idul Adha pun warga muslim pun memberikan makanan kepada saudaranya yang beragama Hindu. Tradisi itu kabarnya sudah berlangsung secara turun temurun sejak 500 tahun yang lalu.

  1. Jemur Kasur, Banyuwangi

Menjelang Idul Adha masyarakat Osing di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, memiliki kebiasaan unik menjemur Kasur di bawah terik matahari di masing-masing pelataran tempat tinggalnya.

Kasur Osing yang memiliki ciri khas warna dasar hitam dengan tepian merah itu dipukul-pukul dengan rotan, kalau rotan tak ada sapu lidi pun jadi, hingga bersih. Mereka berkeyakinan dengan mengeluarkan Kasur dari rumah dapat mencegah datangnya penyakit. Bagi pasangan suami istri dengan menjalani tradisi ini mahligai rumah tangganya langgeng.

Setelah bayangan tubuh yang disinari matahari sedikit tergelincir alias lewat sedikit dari Adzan Dhuhur semua Kasur harus kembali digulung dan dimasukkan ke rumah. Konon kalau Kasur lupa dimasukkan hingga matahari terbenam khasiat menyembuhkan penyakit akan hilang.

  1. Tradisi Manten Sapi, Pasuruan

Kelihatannya aneh, sapi kok dijadikan temanten. Tapi itulah yang terjadi di desa Wates Tani, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Di sana, sehari menjelang Idul Adha, sapi-sapi yang esoknya disembelih sebagai hewan qurban dirias secantik mungkin sebelum diserahkan ke panitia qurban di masjid. Tradisi unik itu sebagai bentuk penghormatan kepada sapi yang akan dijadikan hewan qurban.

Acara dimulai awalnya sapi-sapi dimandikan dengan air kembang. Setelah bersih sapi dikalungi hiasan kembang tujuh rupa agar tampil cantik. Sudah itu tubuhnya diselimuti kain putih sebelum diarak oleh warga ke masjid. Prosesi ini biasanya diramaikan oleh ibu-ibu yang membawa peralatan masak dan berbagai bumbu dapur sebagai persiapan setelah penyembelihan sapi usai.

  1. Tradisi Mudik, Madura

Biasanya di tempat-tempat lain kepulauan nusantara tradisi mudik hanya dilaksanakan saat perayaan Hari Raya Idul Fitri. Tapi di Pulau Madura tradisi mudik selain dilaksanakan di Hari Raya Idul Fitri juga Idul Adha.

Maka setiap menjelang Idul Adha jembatan Suramadu atau dermaga-dermaga pelabuhan di pantai utara Pulau Jawa yang mengakses ke Madura selalu dipenuhi pemudik. Di hari Idul Adha mereka sungkem ke orang tua masing-masing dan apabila orang tua sudah tidak ada mereka lakukan ziarah kubur ke makam orang tua dan para leluhur.

  1. Tradisi Apitan, Semarang

Menjelang Idul Adha, beberapa tempat di Kota Semarang yang juga ibu kota Jawa Tengah akan banyak ditemui warga mengarak tumpeng dan hasil bumi di jalan-jalan kampung. Tradisi unik itu dinamakan “sedekah bumi apitan” sebagi bentuk rasa syukur mereka kepada Allah atas limpahan nikmat dan rizki-Nya.

Hasil bumi itu disusun sedemikian rupa menyerupai tumpeng, disusun bertumpuk secara artistic yang terdiri dari padi, cabe terong, jagung, tomat, kacang panjang, timun, wortel dan lainnya. Tradisi itu biasanya dimulai dari balai desa. Setelah diarak isi tumpeng menjadi rebutan warga yang menganggapnya barokah karena sudah didoakan.

  1. Tradisi Grebeg, Yogyakarta

Menjelang Hari Raya Idul Adhal, Kesultanan Yogyakarta biasanya menggelar Grebeg Besar di pelataran Masjid Gede Kauman. Grebeg itu merupakan tradisi tahunan yang diselenggarakan oleh keraton kesultanan Yogyakarta. Masyarakat pun menyambut antusias acara ini di lapangan Alun-alun Utara untuk melihat arak-arakan gunungan yang berisi berbagai hasil bumi yang dikirab oleh prajurit Keraton Yogyakarta.

Acara diawali muncurnya iring-iringan pasukan keraton Yogyakarta, dengan seragam dan atribut warna-warni, lengkap dengan membawa senjata tradisional seperti tombak, keris, serta senapan kuno. Di belakang prajurit keraton muncul empat gunungan, masing-masing bernama gunungan lanang, gunungan wadon, gunungan gepak dan gunungan pawuhan.

Iring-iringan prajurit keraton yang mengarak keempat gunungan itu keluar dari Keraton melintasi Siti Hinggil, Pagelaran, dan bergerak menuju Masjid Gede di Alun-alun utara. Sesampainya di masjid keempat gunungan itu didoakan oleh penghulu masjid. Selesai didoakan masyarakat berebutan mengambil hasil bumi yang ada pada gunungan itu dan seketika tandas.

  1. Tradisi Meugang, Aceh

Konon tradisi Idul Adha yang khas  Aceh sudah berjalan secara turun temurun sejak era kepemimpinan Sultan Iskandar Muda untuk menghormati hari besar Islam seperti Idul Adha dan Idul Fitri. Tradisi ini bernama Meugang, merupakan pemotongan hewan secara massal dan kemudian dibagikan pada kaum dhuafa sebagai wujud rasa syukur atas semua nikmat SWT.

Begitulah kekayaan tradisi unik khas nusantara dalam merayakan hari besar agama Islam, khususnya Idul Adha. Meskipun di ajang Olahraga sedang terpuruk dan jeblok namun kebanggaan kita terhadap nusantara tak boleh hilang. Sebab itulah yang menegaskan jati diri kita sebagai sebuah bangsa.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here