Turki Kirim 4.000 Ton Bahan Makanan ke Qatar, dan Akan Kirim 1.000 Tentara

0
56
Presiden Turki Recep Thayyip Erdogan. Foto: REUTERS

Nusantara.news, Ankara Turki terus menunjukkan keseriusan membantu mengatasi krisis Teluk. Negara di bawah kepemimpinan Recep Thayyip Erdogan ini baru saja mengirimkan 4.000 ton bahan makanan ke Qatar, negara yang sejak awal bulan lalu diisolasi oleh sejumlah tetangganya sesama negara Teluk. Sejumlah Jalur darat dan udara Qatar diblokade sehingga memutus jalur pasokan makanan yang selama ini diimpor dari negara-negara tetangga.

Bahan makanan dari Turki itu dikirim untuk pertama kalinya dengan menggunakan kapal melalui jalur laut, yang memang merupakan jalur internasional sehingga tidak bisa dihalang-halangi. Sebelumnya, baik Turki maupun Iran telah mengirim pasokan bahan makanan ke Qatar melalui jalur udara.

Sebagaimana dilansir Reuters, selain pasokan makanan, Turki juga mengirimkan tentara dalam sebuah kelompok kecil dan kendaraan lapis baja pada Kamis, (22/6) kemarin.

Sementara pengiriman pasokan makanan dan sejumlah kecil tentara berlangsung, Presiden Turki Recep Thayyip Erdogan terus berkomunikasi dengan para pemimpin Arab Saudi mengenai upaya mendinginkan ketegangan di wilayah tersebut.

Turki telah memberi dukungan terhadap Qatar setelah Arab Saudi, Mesir dan negara-negara Teluk Arab lainnya memutus semua hubungan ekonomi dan diplomatik awal bulan ini. Mereka menuduh pemerintah Qatar mendukung terorisme di Timur Tengah, namun tuduhan tersebut telah disangkal pihak Qatar.

Turki bukan kali ini saja mencoba memainkan peran sebagai mediator regional, sudah sejak dari dulu, tapi setiap melakukan upaya tersebut negara itu harus selalu mewaspadai gangguan yang menjengkelkan dari sekutu Arab lainnya, termasuk Arab Saudi.

Pada 7 Juni lalu, Turki telah mempercepat pengesahan undang-undang yang mengizinkan pengiriman tentara lebih banyak lagi ke sebuah pangkalan militer di Qatar yang menampung tentara Turki berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani kedua negara itu pada tahun 2014.

“Lima kendaraan lapis baja dan 23 personil militer telah tiba di Doha pada hari Kamis, sebagai bagian dari rencana baru pengiriman tentara,” menurut pihak angkatan bersenjata Turki dalam sebuah pernyataan. Langkah tersebut, menurutnya, berada dalam kerangka kerja sama tentang pelatihan militer gabungan antara kedua negara.

Sekitar 88 tentara Turki sudah berada di Qatar, menurut surat kabar Hurriyet.

Setelah pengiriman tentara, akan dilanjutkan dengan latihan bersama antara pasukan Turki dan Qatar yang diharapkan dapat dilaksanakan setelah liburan Idul Fitri, kata Hurriyet. Jumlah tentara Turki yang akan dikirim ke negara Teluk itu bisa mencapai angka 1.000, kata media tersebut. Kemungkinan, angkatan udara Turki juga bakal dilibatkan dalam latihan tersebut.

Kapal Turki pertama yang membawa sekitar 4.000 ton persediaan makanan kering, buah dan sayuran berangkat dari sebuah pelabuhan di provinsi Izmir, Turki bagian barat pada hari Kamis subuh, sebagaimana dilaporkan kantor berita pemerintah Turki Anadolu, mengutip kepala perusahaan logistik yang memasok barang tersebut yang mengatakan bahwa kapal tersebut diharapkan tiba di Doha dalam waktu sekitar 10 hari.

Meski Turki sebelumnya telah mengirim 105 pesawat kargo pasokan, menurut Menteri Perekonomian Nihat Zeybekci, pihaknya tidak bisa terus-menerus memasok menggunakan jalur udara.

Hubungan regional

Kendati memberi dukungan ke Qatar, namun Turuki menyatakan tetap netral dalam menyikapi konflik Teluk.

“Turki tidak berusaha mengancam siapa pun,” kata juru bicara Presiden Erdogan Ibrahim Kalin.

“Kami tidak ingin ada ketegangan dengan negara Teluk mana pun, kami juga tidak ingin mereka bertengkar satu sama lain. Ini adalah pendekatan kami terhadap krisis ini sejak awal,” kata Kalin kepada wartawan pada Kamis.

“Dengan kata lain, jika dua teman Anda, dua tetangga saling tidak setuju satu sama lain, kemudian  ada sesuatu yang dapat Anda lakukan mengenai hal tersebut, maka wajar jika kita melakukan sesuatu,” tambahnya.

Seorang sumber dari kantor Erdogan mengatakan bahwa presiden Truki itu telah berbicara melalui telepon semalam (Rabu malam) dengan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al-Saud, dan putra mahkota Arab Saudi yang baru saja diangkat, pangeran Mohammed bin Salman. Erdogan juga mengucapkan selamat kepada sang pangeran.

“Kesepakatan dicapai dalam upaya meningkatkan (pembicaraan) untuk mengakhiri ketegangan di Kawasan terkait dengan Qatar,” kata sumber tersebut, sebagaimana dilaporkan Reuters.

Erdogan dan Raja Salman setuju untuk mengadakan pembicaraan dalam pertemuan langsung di sela-sela forum KTT G-20 di Hamburg, Jerman bulan depan.

Pada hari Rabu (21/6) Raja Salman mengangkat anaknya, pangeran Mohammed bin Salman, sebagai Putra Mahkota menggantikan Mohammed bin Nayef bin Abdulaziz. Mohammed  bin Salman sebelumnya adalah Wakil Putra Mahkota. Ditunjuknya Mohammed membuat dia sebagai calon kuat pengganti ayahnya menjadi pemimpin Saudi.

Mohammed  bin Salman sendiri saat ini tidak hanya akan menjabat sebagai Putra Mahkota, tapi juga akan menjabat sebagai Perdana Menteri Saudi. Selain itu, dia juga akan tetap menjadi Menteri Pertahanan Saudi.

Mohammed bin Nayef bin Abdulaziz yang telah lengser, dilaporkan telah menyatakan sumpah setia kepada Putra Mahkota Saudi yang baru. Mohammed bin Salman terpilih sebagai Putra Mahkota baru setelah 34 dari 36 dewan khusus memilihnya.

Pada kesempatan yang sama kerajaan juga menunjuk Pangeran Abdulaziz bin Saud bin Nayef sebagai Menteri Dalam Negeri.

Arab Saudi saat ini tengah melakukan perombakan kebijakan radikal terhadap kebijakan ekonomi yang bergantung pada minyak dan menghadapi ketegangan dengan saingan regionalnya Iran. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here