Laut Cina Selatan

Turunkan Tensi, Cina Hormati Keberadaan Kapal Patroli AS di Laut Cina Selatan

1
115
Foto: Reuters

Nusantara.news, Beijing – Cina tampaknya tidak ingin terjadi “gesekan” militer dengan Amerika Serikat di kawasan Laut Cina Selatan setelah hubungan kedua negara membaik dengan terbukannya komunikasi Trump dan Xi Jinping beberapa waktu lalu.

Terbukanya informasi intelijen AS yang menyebut Cina telah merampungkan sejumlah bangunan di Kepulauan Spartly yang diduga didesain untuk pertahanan rudal udara, menimbulkan kekhawatiran hubungan kedua negara akan kembali memanas.

Terlebih, AS telah mengirimkan sekelompok kapal patroli militer di kawasan Laut Cina Selatan tersebut, dan Cina dalam seminggu terakhir dikabarkan getol melakukan pelatihan militer di kawasan perairan ini. Agaknya, AS memang sengaja mengarahkan armadanya sedemikian rupa agar diketahui pihak China.

Namun, Cina tampaknya tak mau “terpancing” memanaskan situasi. Setidaknya sinyal ini bisa ditangkap dari pernyataan Kementerian pertahanan Cina yang mengatakan pada Kamis (23/2), bahwa pihaknya memahami kehadiran kapal induk AS di Laut Cina Selatan. Pemerintah Cina menyatakan, menghormati kebebasan navigasi bagi semua negara di perairan Laut Cina Selatan.

Juru bicara kementerian pertahanan Cina Ren Guoqiang mengatakan, Cina memiliki “pemahaman” mengenai keberadaan kelompok kapal induk AS di Laut Cina Selatan.

Namun demikian, Cina berharap AS sungguh-sungguh juga menghormati kedaulatan dan kekhawatiran keamanan negara-negara di kawasan itu. Serta menghormati upaya negara-negara di kawasan Laut Cina Selatan untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di perairan tersebut,” kata Ren dalam konferensi pers bulanan di Beijing, Kamis (23/2) sebagaimana dikutip Reuters.

“Tentu saja, kami juga menghormati kebebasan navigasi dan untuk semua negara di Laut Cina Selatan sesuai dengan hukum internasional,” tambahnya.

Ren juga menjelaskan, situasi di Laut Cina Selatan pada umumnya stabil.

“Kami berharap tindakan pihak AS dapat berkontribusi positif terhadap situasi yang baik ini, dan bukan sebaliknya,” tambah Ren.

Menurutnya, hubungan militer yang baik antara kedua negara merupakan kepentingan bagi keduanya, dan juga kepentingan negara-negara di Kawasan serta kepentingan dunia. Cina berharap, kedua AS-Cina bisa menemukan titik temu, memperkuat komunikasi dan menghindari kesalahpahaman.

Sejauh ini, gesekan antara AS dan Cina dalam persaingan perdagangan di bawah kepemimpinan Presiden AS Donald Trump telah meningkatkan kekhawatiran sejumlah negara, bahwa Laut Cina Selatan bisa menjadi pemicu konflik militer.

Cina, membungkus persiapan militer mereka dengan latihan Angkatan Laut di Laut Cina Selatan akhir pekan lalu.

Sementara, Angkatan Laut AS dalam pernyataannya, mengumumkan bahwa pasukan penyerang pertama – Carrier Strike Group (CSG) 1 mulai melakukan patroli rutin di kawasan Laut Cina Selatan sejak Sabtu (18/2).

Kapal Induk AS di Laut Cina Selatan

Kelompok itu termasuk kapal induk Nimitz-kelas USS Carl Vinson (CVN 70), Destroyer Squadron (DESRON), 1’s Arleigh Burke-class dengan rudal USS Wayne E. Meyer (DDG 108), dan pesawat Carrier Air Wing (CVW) 2.

“Sebelum beroperasi di Laut Cina Selatan, kapal dan pesawat tersebut melakukan pelatihan di pulau Hawaii dan Guam untuk mempertahankan dan meningkatkan kesiapan mereka dan mengembangkan kohesi sebagai kelompok penyerang,” kata Laksamana James Kilby, komandan CSG 1.

“Kami sangat menanti untuk mendemonstrasikan kemampuan pasukan sambil membangun hubungan yang kuat dengan sekutu kami di wilayah Indo-Asia-Pasifik,” katanya.

Cina mengklaim hampir semua perairan Laut Cina Selatan yang kaya akan sumber daya, di mana bernilai sekitar USD 5 triliun perdagangan yang melewati perairan itu setiap tahunnya.

Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam juga mengklaim bagian dari kawasan perairan tersebut yang memiliki sumber perikanan yang kaya, juga dengan minyak dan gas.

AS telah mengkritik pembangunan pulau buatan yang dilakukan Cina, apalagi pembangunan sejumlah fasilitas militer di atasnya. AS menyebut tindakan Cina sebagai ilegal dan menentang keputusan Arbitrase Internasional Den Haag Juli 2016 lalu yang memutuskan Cina tidak berhak atas klaim kepemilikan sejumlah pulau di kawasan Laut Cina Selatan, setelah digugat Filipina. []

1 KOMENTAR

  1. GAGASAN MODEL BARU HUBUNGAN NEGARA BESAR ALA CHINA

    Jika China belakangan ini agak ‘lembut’ terhadap AS, patut ditengarai bahwa mungkin saja dua negara besar itu (AS-China) sudah melakukan ‘deal’ besar. AS mungkin sudah menyetujui gagasan Presiden RRT Xi Jinping yang selalu menekan perlunya membentuk hubungan “Xinxing Daguo Guanxi”, yaitu model baru hubungan negara besar. tawaran model ini terjadi pada puncaknya ketika Presiden Xi Jinping melakukan lawatan ke AS beberapa waktu yang lalu, dalam pertemuannya dengan Presiden Obama tahun lalu. Tawaran China “Xinxing Daguo Gunaxi” kepada AS ini adalah hubungan tanpa konflik, tanpa konfrontasi, saling menghormati dan kerja sama saling menguntungkan. Menurut Xi Jinping, ini adalah prioritas kebijakan luar negeri China yang dianutnya.

    Hubungan dua negara besar AS-China ini, nyatanya menjadi pertanyaan negara-negara di Asia dan akan selalu mempertanyakan “ada apa di balik hubungan model seperti itu?”. Mengapa model hubungan baru itu tidak pernah mengajak negara-negara Asia lain di kawasan yang selalu kecipratan ulah dua negara besar, dan selalu menganggap masing-masing sebagai “kebangkitan negara besar” dan “kemapanan kekuatan negar besar”.

    Pertanyaan yang mendasar adalah apakah model baru hubungan negara-negara besar ini merupakan bentuk strategi baru menguasai dan memecah belah menuju jalan penguasaan kawasan, khususnya pada kawasan Asia? Apakah China sedang mengajak ‘kongkalikong’ pada AS dan menganggap negara kawasan Asia lainnya tidak memiliki peran penting ikut memelihara stabilitas dan perdamaian kawasan? Apakah hanya AS yang dianggap China bisa dijadikan mitra strategis?

    Kecenderungan hubungan model baru gaya China ini, akhir-akhir ini melahirkan skenario sandiwara yang melibatkan AS. Perseteruan di Laut China Selatan yang melibatkan Filipina, Vietnam, Malaysia, Taiwan, dan Brunei tidak akan pernah menemukan solusi penyelesaian yang menyeluruh jika diam-diam ternyata AS ‘main mata’ dengan China. Mungkin saja kedua negara besar itu sudah ‘deal’ untuk membagi-bagi kavling kawasan di Asia Tenggara.

    Bisa jadi, China sendiri sebenarnya enggan (agak takut?) melayani AS jika terjadi bentrokan di LCS (Laut China Selatan) mengingat sang naga sebenarnya baru bangun tidur dan belum ajeg benar untuk memulai pertarungan besar melawan AS. Jika melihat alutsista China memang benar negeri tirai bambu ini memiliki kekuatan militer yang cukup besar, tetapi belum tentu berani untuk memulai dengan ‘gertakan’ yang diiringi dengan nyali memulai untuk perang besar. Risikonya terlalu mahal bagi China jika berani duluan menghajar AS.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here