Ubah Format Debat Capres

0
61

DEBAT antarpasangan calon presiden dan calon wakil presiden, sebetulnya, adalah bagian paling penting dari seluruh rangkaian kampanye selama tujuh bulan ini. Karena dari perdebatan itulah publik pemilih bisa mengetahui siapa nakhoda yang paling mumpuni untuk mengemudikan negara ini lima tahun ke depan. Kegiatan kampanye lain nyaris tidak ada artinya. Sebab, mereka berkampanye di depan massa pendukungnya sendiri yang dikerahkan untuk hadir dan meneriakkan yel-yel dukungan. Di situ tidak akan ada perdebatan tentang apa yang dikampanyekan.

Masalahnya, debat pertama pasangan calon presiden dan calon wakil presiden pada 17 Januari kemarin, belum menampilkan apa-apa. Artinya, kalau kita hendak mencari calon pemimpin negara yang mempunyai pemikiran konsepsional, komprehensif, strategis dan implementatif, terus terang, apa yang tersaji kemarin rasanya masih jauh panggang dari api.

Debat kemarin baru sekadar menyajikan letupan gagasan dari masing-masing kandidat,  tanpa elaborasi substansial yang memadai.

Kondisi ini, menurut kita, tidak kondusif bagi sukses pemilu. Sebab, bisa menimbulkan persepsi bahwa kedua pasangan tidak mempunyai kapasitas dan konsep pengelolaan negara yang sempurna.

Padahal –kita berbaik sangka saja— di atas kertas mereka tentu sudah mempersiapkan diri. Selain sudah berpengalaman sebagai petahana, persiapan pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin dibantu oleh, antara lain, Mahfud Md dan Yusril Ihzha Mahendra. Di pasangan Prabowo-Sandiaga ada nama Susilo Bambang Yudhoyono dan Amien Rais. Itu adalah nama-nama terbaik di bidangnya masing-masing. Rasanya mustahil masukan mereka hanya menghasilkan kualitas paparan seperti yang tersaji dalam debat kemarin. (Entah, kalau ada di antara kedua pasangan itu yang tidak mudeng dengan  “bimbel” yang diberikan)

Persepsi tersebut jika meluas di kelompok masyarakat kritis berpotensi menurunkan daya tarik untuk menggunakan hak suara dalam pemilu. Jika itu yang terjadi, upaya KPU meningkatkan angka partisipasi pemilih dalam pemilu bisa tidak tercapai.

Selain kemungkinan ada di antara keempat orang dalam dua pasangan itu yang tidak menguasai masalah, faktor teknis yang mengganggu adalah durasi debat. Total waktu yang disediakan KPU untuk membahas empat tema besar (hukum, HAM, korupsi dan terorisme) tersebut hanya 90 menit yang dibagi dalam enam babak.

Di babak penyampaian visi dan misi, misalnya, masing-masing pasangan hanya mendapat waktu sekitar 12 menit. Jika dihitung, total waktu pembicaraan setiap kandidat benar-benar pendek. Jokowi yang paling lama berbicara yakni 23 menit, disusul Prabowo selama 21 menit,  Sandiaga Uno 7,5 menit dan yang paling singkat adalah Ma’ruf Amin yakni 4 menit.

Jelas sangat sukar memaparkan pemikiran yang komprehensif tentang keempat tema besar tadi dalam tempo sesingkat itu. Apalagi mereka bukan orang yang terlatih berbicara cepat layaknya orang-orang yang bergelut di dunia penyiaran. Mereka terbiasa bicara bebas tanpa batas waktu.

Akibatnya yang muncul hanya gagasan-gagasan sloganistik, tanpa penggalian yang memadai tentang bagaimana kebijakan, strategi dan operasionalisasi gagasan tersebut. Waktu yang terbatas mensyaratkan kemampuan menjawab secara cepat. Kemampuan ini hanya bisa dipenuhi oleh orang-orang yang punya bakat orasi yang baik. Kemahiran bersilat lidah adalah syarat utama memenangkan debat. Padahal yang harus diuji dari seorang calon pemimpin adalah konsepsi, kepemimpinan dan kemampuan manajerial.

Debat kandidat mestinya dihindarkan dari simplifikasi publik yang cenderung menilai orang pandai itu adalah orang yang mahir beradu mulut. Terlalu dangkal jika pemimpin hanya diuji dari kemahirannya “bertengkar”. Toh banyak pemimpin yang hebat, tetapi tidak pandai berdebat.

Debat adalah penggalian pandangan, yang di dalamnya terkait unsur keilmuan, penguasaan masalah yang relevan, manajemen serta kepemimpinan. Calon-calon pemimpin tertinggi eksekutif itu harus benar-benar tergali visi, misi dan strategi mereka.

Kita mendukung rencana KPU untuk mengevaluasi format debat ini. Ketua KPU Arief Budiman mengatakan kemungkinan format debat capres-cawapres akan diubah di debat kedua mendatang. Perubahan format debat bisa diubah setelah KPU mendengar evaluasi dari beberapa pihak. “KPU ingin menyelenggarakan debat yang tujuan utama tercapai. Tujuan utama debat itu pemilih tahu betul visi dan misi pasangan calon. Karena kampanye itu tujuannya penyampaian visi misi, program, jadi tujuan utama harus tercapai,” ujar Arief Jumat (18/1/2019).

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here