UE Tuding Inggris “Cherry Picking” Menjelang Berunding

0
90
Perdana Menteri Inggris Theresa May berjabat tangan dengan Presiden Dewan Eropa Donald Tusk pada sebuah pertemuan

Nusantara.news, BrusselCherry Picking adalah idiom yang digunakan untuk menuding seseorang hanya mau memilih sesuatu yang paling menguntungkan dirinya. Begitu pun dengan Uni Eropa (UE) yang menuding Inggris melakukan “cherry picking” menjelang perundingan Brexit ke-2 dengan UE yang dijadwalkan pada Jumat (2/3) pekan depan.

Presiden Dewan Eropa Donald Tusk menyebut pendekatan Inggris untuk tahap selanjutnya dalam perundingan Brexit dengan UE didasarkan pada “Ilusi Murni”.  Inggris masih berusaha “cherry picking” dalam membahas hubungan masa depannya dengan UE.

Pernyataan itu diungkap Tusk dalam jumpa pers, di kantornya, Brussels, Belgia, Jumat (23/2) kemarin. Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May memang dijadwalkan menyampaikan pidato kunci (keynote speaking) tentang keinginan Inggris pada Jumat (2/3) pekan depan.

Donald Tusk yang dijadwalkan akan bertemu Theresa May sehari sebelumnya – mengatakan berdasarkan laporan media massa “filosofis kue” masih hidup di Inggris. Filosofis Kue berasal dari pepatah Inggris, “Anda tidak bisa memakan sekaligus memiliki kuenya.” (You can’t have your cake and eat it). Artinya, Inggris tidak bisa memilih keduanya dari opsi yang ditawarkan.

Apabila “filosofis kue” itu masih mengemuka di Inggris, imbuh Tusk, dia khawatir posisi Inggris – dalam perundingan pekan depan – didasarkan pada “ilusi murni”.

Tusk juga menolak – seperti yang dia lakukan sebelumnya – gagasan “cherry picking” tentang hubungannya dengan UE atau dapat bergabung dalam pasar tunggal a la carte – yang berarti bisa “memilih menu berbeda dengan harga yang tetap sama” paska Brexit.

Mengelola Perbedaan

BBC memahami 11 Menteri Senior yang berkumpul di Kantor Perdana Menteri Inggris membuat terobosan tentang apa yang disebut  “mengelola perbedaan” yang memungkinkan Inggris memilih sejumlah peraturan UE untuk tetap berlaku pasca Brexit.

Anggota Kabinet Brexit berkumpul di Rumah Negara Perdana Menteri Inggris

Dalam tiga tweet balasan kepada wartawan senior BBC Katya Adler pada tweet pertama menyebut tanggapan Tusk negatif dibandingkan pemerintahan Inggris yang secara relatif lebih optimis yang menemukan posisi #brexit yang sama untuk saat ini.

Balasan selanjutnya, “tapi perlu memasukkan ini ke dalam konteks Tusk yang memiliki kecenderungan untuk membuat pernyataan teguh pada posisi di Inggris – misalnya ketika diberi peringatan daripada mengkonsumsi kue dan memakannya, Inggris akan menemukan garam dan cuka pada lempeng Brexit.

Balasan terakhir pada Twitter Katya Adler menyebut “Posisi pemerintah Inggris belum digariskan secara penuh. PM May diharapkan memberikan pidato #Brexit pada hari Jumat (2/3) pekan depan dan Presiden UE Tusk datang ke London untuk bertemu sebelumnya.

Meskipun terkesan pesimis, namun Tusk menjamin UE akan terus “sangat realistis” selama perundingan yang akan datang. Tahap kedua perundingan Brexit pekan depan akan menyangkut peraturan transisi setelah Inggris keluar dari UE dan kerjasama ekonomi dan keamanan di masa depan.

Tusk juga dijadwalkan akan berbicara dalam pertemuan informal dengan 27 kepala negara dan kepala pemerintahan UE. Dalam pertemuan itu Tusk akan mempresentasikan draft panduan mengenai hubungan Inggris-UE di masa depan pada pertemuan puncak yang juga dijadwalkan pada  Maret nanti.

“Tujuan kami adalah untuk mengadopsi pedoman ini, apakah Inggris siap dengan visinya tentang hubungan masa depan kita atau tidak,” papar Tusk, “Tentu akan jauh lebih baik jika memang begitu. Tapi kita tidak bisa berdiri dan menunggu.”

Tusk juga berharap memiliki kejelasan lebih lanjut saat bertemu PM May di London pekan depan. Selain membahas Brexit, para pemimpin Eropa pada pertemuan puncak juga akan membahas anggaran UE paska 2020, komposisi parlemen Eropa, persoalan Turki dan Suriah.

Pemerintah Inggris sudah menetapkan untuk mencapai suatu kebijakan yang menempatkan Inggris di luar sistem kepabeaan bersama UE – namun mencocokkan sejumlah peraturan UE di sejumlah industri agar terhindar adanya friksi-friksi dalam perdagangan.

Menteri Kesehatan Jeremy Hunt – yang tidak hadir dalam pertemuan menteri senior – mengatakan meskipun ada “perbedaan pendapat” namun ada “pemahaman umum bersama”.  Hunt menyebut beberapa sektor dapat menyelaraskan peraturan dengan peraturan UE. “Tapi secara sukarela, kita akan memiliki hak berdaulat untuk memilih atau tidak,” tandasnya.

Tantangan UE

Lepasnya Inggris dari UE ternyata memiliki dampak keuangan bagi 27 negara sisa yang masih bergabung dalam UE. Terlebih para pemimpin Eropa, ungkap Donald Tusk, telah sepakat lebh banyak membelanjakan pada kebijakan pertahanan dan keamanan bersama dalam anggaran jangka panjang berikutnya.

Para pemimpin 27 negara berkumpul di Brussels untuk membahas anggaran 2021-2027. Para anggota belum sepakat tentang bagaimana cara memenuhi kebutuhan anggaran setelah Inggris keluar dari UE. Jerman dan Perancis telah mengingatkan pemotongan anggaran terhadap program UE dapat merusak upaya mengatasi imigrasi illegal dan terorisme.

Pertemuan kepala pemerintahan 27 negara Uni Eropa

Tentang pertemuan itu, Tusk mengatakan para pemimpin telah setuju membelanjakan lebih banyak untuk keamanan – termasuk di dalamnya memerangi imigrasi illegal dalam anggaran jangka panjang berikutnya. Namun persoalannya, tingkat kemakmuran negara-negara di Uni Eropa tidak sama di setiap Kawasan.

Tusk menyebutkan, sejumlah negara siap menyumbang lebih banyak. Tapi banyak pula negara yang masih diam. Negara-negara yang dikenal sebagai penyumbang seperti Austria dan Belanda mengambil pandangan berbeda dengan negara-negara penerima manfaat seperti Polandia dan Yunani.

Dengan kata lain, ketika negara-negara kaya di utara membuat anggaran dikurangi, negara-negara miskin di Selatan dan Timur tidak senang dengan kemungkinan adanya pemotongan dana program.

Menjelang pembicaraan hari Jumat, Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker mengatakan khawatir dengan keretakan timur dan barat. “Kadang-kadang semakin luas dan kadang-kadang perbedaan bisa dijembatani, dan saya tidak ingin adanya perpecahan baru di Eropa,” ujarnya.

Dan memang akibat keluarnya Inggris dari UE – paling tidak – ke-27 negara UE yang tingkat kemakmurannya tidak merata kehilangan donator kedua terbesarnya setelah Jerman. Kini di antara negara-negara makmur yang tersisa dipaksa patungan membiayai program di negara-negara miskin di Eropa Timur dan Selatan.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here