Uji Mesin-Roket Korut Diduga Kamuflase Pengembangan Rudal Antar-benua

0
179
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menyaksikan uji mesin pendorong roket Korut yang baru dikembangkan Academy of Science Pertahanan Nasional Korut. Gambar tak bertanggal ini diterbitkan KCNA di Pyongyang pada 19 Maret 2017. KCNA via Reuters

Nusantara.news, Soul – Uji mesin-roket Korea Utara yang terbaru menunjukkan kemajuan yang cukup berarti. Hal ini diungkapkan oleh analis dari Korea Selatan pada Senin (20/3). Analis juga menjelaskan kemajuan itu merupakan langkah berbahaya Korut ke arah pengembangan roket yang bisa melontarkan senjata nuklir antar benua yang menarget wilayah Amerika Serikat.

Kantor berita Korut KCNA menyebutkan pada Minggu (19/3) bahwa mesin roket tersebut akan membantu Korut mencapai kemampuan peluncuran satelit kelas dunia. KCNA menunjukkan mesin roket jenis baru untuk rudal balistik antar-benua. Diduga, tujuan peluncuran satelit hanya kamuflase belaka, untuk menutupi program senjata nuklir Korut yang terus berlangsung.

Korut mengumumkan kesuksesan uji mesin-roket tersebut, bersamaan dengan akhir kunjungan Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson di Beijing, Cina. Sebelumnya, Tillerson mengunjungi Jepang dan Korea Selatan. Ini adalah kunjungan pertama Menlu AS itu ke Asia untuk melakukan sejumlah pembicaraan dengan Jepang, Korsel, dan Cina, salah satunya mengenai program pengembangan senjata nuklir oleh Korut yang dikhawatirkan negara-negara di sekitar semenanjung Korea.

“Melalui uji mesin-roket ini, diperkirakan bahwa fungsi mesin telah mengalamai kemajuan yang berarti, tetapi analisis lebih lanjut masih diperlukan,” kata Lee Jin-woo, wakil juru bicara kementerian pertahanan Korea Selatan, dalam briefing reguler dengan wartawan, Senin (20/3) sebagaimana dilansir Reuters.

KCNA, media Korut yang dikelola oleh negara melaporkan bahwa pemimpin Korut Kim Jong Un  memuji uji coba mesin-roket terbaru yang berjalan dengan sukses. Uji coba dilakukan di stasiun peluncuran roket, sebagai “kelahiran baru” industri roket Korea Utara.

Lee mengatakan, uji coba tersebut menampilkan mesin utama yang didukung oleh empat mesin tambahan lainnya.

Namun, Lee tidak merinci kemajuan seperti apa kemajuan yang telah dibuat Korut. Apakah mesin tersebut dapat digunakan untuk rudal balistik antar-benua (ICBM)?

“Militer Korea Selatan sedang melakukan analisis,” kata Lee untuk memastikan mengenai hal itu.

Alamat buruk

Seorang analis Korea Selatan mengatakan, tes terus menerus oleh Korut mengalami perkembangan.

“Ini adalah tes komprehensif untuk roket, tahap pertama bagi ICBM, dan itulah sebabnya dikatakan berbahaya,” kata Kim Dong-YUB, seorang analis di Seoul Institute untuk Studi Timur Jauh.

“Tampaknya,  Korut telah menunjukkan perkembangan yang bergerak lebih jauh ketimbang mesin-roket tahap pertamanya.”

Korea Utara telah melakukan lima kali uji coba nuklir dan serangkaian peluncuran rudal yang tidak sesuai dengan sanksi PBB, dan diyakini oleh para ahli, bahwa Korut tengah mengembangkan rudal berhulu ledak nuklir  yang bisa mencapai Amerika Serikat.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un pada Januari lalu mengatakan, negaranya semakin dekat dengan uji coba untuk meluncurkan ICBM, rudal yang menempatkan Amerika Serikat dalam jangkauan targetnya.

Dalam kujungannya ke Korsel pekan lalu, Menlu AS Rex Tillerson memperingatkan bahwa AS bisa saja mengambil tindakan militer untuk merespon Korut. “Semua pilihan ada di atas meja,” kata Tillerson, memberi sinyal bahwa AS sudah siap dengan risiko penyelesaian secara militer menghadapi ancaman Korut dalam program nuklirnya.

AS sebelumnya  telah lama meminta Cina untuk berbuat lebih banyak dalam mengendalikan Korea Utara, sekutunya itu. Cina kurang senang AS menekan terlalu berlebihan. Karena Cina merasa sudah memberi sanksi seperlunya untuk Korut, seperti menghentikan impor batu bara dari Korut selama satu tahun sejak Februari lalu. Cina juga sepakat bahwa apa yang dilakukan Korut terkait uji coba senjata dan program senjata nuklir telah melanggar resolusi PBB.

Tidak ada perjanjian formal apa pun yang diumumkan ke publik selama kunjungan Tillerson ke Cina, meskipun kedua belah pihak mengatakan akan bekerja sama untuk mencoba untuk membuat Korut  memilih “jalan yang berbeda”.

Cina telah menyerukan pendekatan kepada kedua belah pihak terkait memanasnya situasi semenanjung Korea. Mendesak Korut untuk menangguhkan uji coba senjata, dan kepada  Amerika Serikat dan Korea Selatan didesak untuk menangguhkan latihan militer sehingga kedua belah pihak dapat kembali ke meja perundingan.

Tapi Beijing juga marah dengan penyebaran sistem anti-rudal canggih milik AS (THAAD) di Korea Selatan. Cina menganggap pemasangan sistem anti rudal di Seoul itu berlebihan dan membahayakan keamanan Cina. Pemasangan sistem anti-rudal tidak akan mengurangi ketegangan di kawasan semenanjung Korea.

Bahkan Cina menganggap sistem radar milik AS itu menjangkau ke timur laut negara itu berpotensi melacak peluncuran rudal Cina, dan bahkan mungkin bisa mencegat mereka. Rusia juga menentang sistem anti rudak tersebut dengan alasan yang sama. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here