Ulama Ka’bah Melawan Keputusan PPP Romi Dukung Ahok

0
216
MENUAI BADAI: Keputusan 2 kubu PPP untuk mendukung pasangan Ahok-Djarot di putaran kedua Pilkaa DKI 2017, mulai menimbulkan gejolak di daerah-daerah.

Nusantara.news, Surabaya – Hiruk pikuk Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta yang kini akan memasuki putaran kedua, ternyata juga berimbas pada suhu politik di Madura. Ulama pendukung PPP mengikuti jejak fungsionaris partai berlambang Ka’bah DI Yogyakarta yang sudah lebih dulu melepas ikatan dengan kubu Romahurmuzy atau yang akrab disebut kubu Romi Jawa Timur.

Pernyataan ini menyusul sikap kubu Romi yang mendukung pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat. Dukungan ini serupa dengan PPP kubu Djan Faridz yang sudah sejak awal berdiri di belakang Ahok. Kesamaan dukungan juga diikuti dengan rumor mediasi yang melibatkan PDI Perjuangan sebagai motor Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yang mengantarkan Joko Widodo-Jusuf Kalla ke Istana Merdeka.

Namun persoalannya, tidak semua pendukung kubu Romi setuju dengan perubahan ini. Akidah menjadi alasan kuat sehingga melepaskan diri dari Romi dan di satu sisi tetap bertahan menolak Djan Faridz. “Gejolak ini memang menguat pasca hasil putaran pertama, Romi dipanggil ke istana. Harusnya, prinsip akidah tetap jadi landasan utama Romi jika tidak ingin gejolak di daerah kian membesar,’ terang sumber Nusantara.News ketika dikonfirmasi, Rabu (5/4/2017).

Salah satu fungsionaris PPP Jawa Timur pendukung Romi ini memang sangat menyesalkan dukungan ke Ahok-Djarot setelah pasangan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)-Sylviana Murni gagal meraup suara signifikan di putaran pertama. “Terutama di Madura yang basis PPP Romi cukup kuat, penolakan pada Ahok sangat besar. Itu harusnya jadi pertimbangan sebelum mengambil keputusan,” ucapnya.

Soliditas PPP di Madura yang sebelumnya bersikap di belakang Romi, terancam menghilang.
Ulama yang selama ini jadi benteng mempertahankan pengaruh PPP di empat kabupaten, tegaskan untuk berpisah. “Berpisah maksudnya dari kepemimpinan Romi maupun Djan Faritz tapi masih tetap di PPP,” kata juru bicara Forum Ulama Ka’bah Madura (FKUM) K.H. Ali Karrar Sinhaji dalam siaran pers di Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar, Pamekasan, Selasa (4/4/2017).

PPP, kata Kiai Karrar yang juga Ketua Aliansi Ulama Madura (AUMA) itu, tetap merupakan rumah besar umat Islam. Pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid Proppo, Pamekasan ini menjelaskan, para ulama Ka’bah memilih berpisah dengan pimpinan PPP saat ini, karena kebijakan politiknya tidak sesuai dengan visi dan misi partai.

“Terutama dalam menetapkan dukungan politik pada Pilkada DKI Jakarta. Sebagai partai Islam, PPP seharusnya memberikan dukungan politik pada calon kepala daerah yang seakidah dan memiliki komitmen terhadap pengembangan syiar Islam,’ tegas Kiai Karrar. Selain Kiai Karrar, pernyataan sikap Ulama Ka’bah juga dihadiri pengasuh Ponpes Darul Ulum K.H. Moh Syamsul Arifin Banyuanyar, K.H. Yahya dan Ketua PPP Pamekasan K.H. Mundir.

Peta politik partai berbasis umat Islam di Madura memang cukup unik. Kendati kental kultur nahdliyin, namun tak berarti PKB menjadi mayoritas. Justru PPP yang punya basis kuat di pulau garam. Tak heran, dinamika di elite partai berlambang Ka’bah punya ekses besar pada sikap politik tokoh PPP di Madura seperti yang terjadi saat ini.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here