Ulama Serukan Idul Fitri Jadi Momentum Menyatukan Bangsa

0
57
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (kedua kiri) didampingi Ketua MUI Maruf Amin (kedua kanan), Ketua Komisi VIII DPR Ali Taher (kiri) dan Plt Dirjen Bimas Islam Kamarudin Amin (kanan) menyampaikan keterangan kepada awak media mengenai penetapan 1 Syawal 1438H di Kementerian Agama, Jakarta, Sabtu (24/6/2017).

Nusantara.news, JAKARTA – Para ulama berharap 1 Syawal 1438 Hijriah menjadi momentum untuk kembali menyatukan bangsa yang sempat merenggang belakangan ini.

“Ya, mungkin saja kemarin ada hal yang merenggangkan, seperti curiga, maka marilah kita semua jadikanlah 1 syawal ini momentum menyatukan kembali bangsa yang utuh jangan tercerai berai,” harap KH Ma’ruf saat konferensi pers penetapan 1 Syawal 1438 Hijriah di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Sabtu (24/6/2017).

Ma’ruf menilai, dengan bersatu maka cita-cita persatuan bangsa bisa terwujud. Caranya, dengan menghilangkan masalah yang sempat terjadi, baik tingkat nasional maupun daerah, demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Sebagai sesama umat Islam, kita saling menolong, membantu dan saling menopang. Sebagai warga bangsa marilah kita jadikan momentum menyatukan kembali bangsa. Marilah kita tingkatkan hubungan kita dengan Allah, Hablum minallah dan sesama manusia, Hablumminannas,” jelas Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Di tempat terpisah, Imam Besar Masjid Istiqlal KH. Nasarudin Umar berharap agar momentum Idul Fitri tahun ini jadi momentum untuk mempererat persatuan bangsa menghadapi ancaman terorisme.

Menurutnya, radikalisme dan terorisme sudah menjadi momok dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Terlebih, ancaman terorisme itu sudah ada di depan mata, dengan melebarnya sayap ISIS hingga ke negara tetangga Filipina.

“Mari kita jadikan Idul Fitri ini kembali sucikan diri pengaruh radikalisme dan terorisme dengan kembali ke islam yang rahmatan lil alamin. Dengan Idul Fitri ini kita tingkatkan rasa cinta tanah air dan bangsa demi keutuhan NKRI,” ujar KH. Nasarudin

Dengan persatuan, lanjutnya, maka bangsa Indonesia yang tengah menghadapi berbagai ujian memiliki pertahanan kuat. Mengingat, gencarnya serangan-serangan luar untuk memecah belah bangsa dan negara ini. “Kondisi itulah yang mengharuskan semuanya harus introspeksi baik diri sendiri, keluarga, lingkungan, dan bangsa ini,” jelasnya.

Guru Besar (Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah ini menjelaskan, untuk mewujudkan Indonesia yang bersih dari paham radikalisme dan terorisme  dengan memperkuat pemahaman dan penerapan nilai-nilai Islam dan Pancasila. Sebab, bila Islam dan Pancasila semakin mengakar kuat, maka Indonesia pun akan kokoh dan kuat menghadapi berbagai ancaman dari luar.

“Sekali lagi, mari saling memaafkan dan menjalin silaturahmi. Jadikan momentum 1 Syawal ini untuk mengejawantahkan nilai dari Islam dan Pancasila secara benar dan konsuekwen,” cetusnya.

Menurutnya, Islam dan Pancasila merupakan sesuatu yang kompetibel. Islam adalah ajaran universal sedangkan Pancasila digali dari kearifan lokal.

“Ibarat dua sisi mata uang yang berbeda, Islam dan Pancasila bisa saling melengkapi dan menyempurnakan. Kolaborasi Islam dan Pancasila itu adalah toleransi yang membutuhkan kelapangan dada dalam memahami perbedaan. Islam tak mengajarkan kekerasan apalagi terorisme,” paparnya.

Pemerintah telah menetapkan 1 Syawal 1438 Hijriyah jatuh pada Minggu (25/6/2017). Penetapan itu berdasarkan perhitungan hisab, hilal terlihat di ketinggian 3,88 derajat dengan umur bulan delapan jam 15 menit. []

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here