Unicorn, Prabowo dan Bom Bisnis Kaum Milenial

0
143
Calon Presiden Prabowo Subianto bertekad membantu pengembangan bisnis unicorn dengan sejumlah regulasi yang melempangkan jalan, namun dia juga berusaha membatasi dampak negatif dari unicorn, yakni terbangnya dana-dana di dalam negeri ke luar negeri lewat bisnis unicorn tersebut.

Nusantara.news, Jakarta –Persoalan unicorn sempat memanas dalam debat kedua calon presiden (capres) Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Prabowo sampai mengecek ulang spelling Jokowi, apakah yang dumaksud yunikon atau unicorn. Pengecekan inipun dituding sebagai ketidakpahaman Prabowo terhadap bisnis rintisan (start up) tersebut.

Tema unicorn menjadi panas pada segmen lima sesi tanya jawab antara dua capres, Jokowi bertanya infrastruktur apa yang akan dibangun Prabowo untuk mendukung pengembangan unicorn-unicorn di Indonesia.

Prabowo sempat bingung dan bertanya balik pada Jokowi sebelum akhirnya menanggapi pertanyaan dari Jokowi tersebut. “Yang bapak maksud unicorn (dengan r yang tegas), maksudnya yang online-online itu?”tanya Prabowo. Jokowi pun mengiyakan.

Dalam tanggapannya Prabowo mengatakan bahwa dirinya akan mengurangi regulasi dan memberikan kemudahan untuk perkembangan unicorn yang ada di Indonesia.

“Ya kita akan fasilitasi, kita kurangi regulasi kurangi pembatasan karena mereka lagi giat-giatnya pesat-pesatnya, berkembang. Saya akan dukung segala upaya untuk memperlancar mereka,” kata Prabowo

Mereka mengalami kesulitan, merasa ada tambahan-tambahan regulasi, seperti perdagangan online mau dipajaki. Mereka mengeluh, dan Prabowo menyambut baik dinamika perkembangan bisnis unicorn, luar biasa pesatnya bisnis unicorn, jadi Prabowo merasa perlu untuk mendukung.

Saat ini, Jokowi menimpali, di ASEAN ada 7 unicorn, dan 4 diantaranya ada di Indonesia. Jokowi merasa sudah menyiapkan program 1000 strat up baru dan di link-kan dengan inkubator-inkubator baru dalam rangka mendukung unicorn. Bahkan, Jokowi menyambungkan back bond dengan kecepatan yang sangat tinggi, sehingga memungkinkan lebih banyak lagi unicorn hadir dengan lebih cepat.

Prabowo mengaku dinamika kecepatan perkembangan internet dan teknologi informasi sangat pesat, ia mendukung semua upaya untuk kita mengejar ketertinggalan dan mengambil posisi. Tapi hal-hal mendasar dalam perekonomian Indonesia harus dijaga. Seperti terjadi suatu disparitas, dimana segelintir orang jumlahnya kurang dari 1% mengusai lebih dari 50% kekayaan negeri ini.

“Saya khawatir sementara unicorn-unicorn itu berkembang sangat pesat, uang-uang kita lari ke luar negeri. Kekayaan Indonesia tidak akan tinggal di Indonesia. Menteri Jokowi mengatakan saat ini ada Rp11.400 triliun uang Indonesia di luar negeri. Sementara uang di seluruh perbankan Indonesia saat ini hanya Rp5.465 triliun. Artinya lebih banyak uang kita lari ke luar. Ini yang harus kita antisipasi, di satu sisi unicorn digiatkan, tapi juga dicegah potensi dana lari ke luar negeri,” tegas Prabowo.

Dari penjelasan di atas, nampaknya Prabowo memahami sifat dan karakter unicorn. Bahkan dikabarkan sebelum debat kedua, Prabowo sempat bertemu dengan salah satu CEO unicorn yang ada dan berdiskusi panjang soal unicorn dan perkembangannya di masa depan.

Wakil Ketua Partai Gerindra, Fadli Zon, bahkan membela Prabowo bahwa ketika Prabowo bertanya karena spellingnya terdengar yunikon. Lalu Prabowo memastikan yang dipertanyakan Jokowi adalah unicorn.

Lepas dari perdebatan Jokowi-Prabowo soal unicorn, apa sih definisi teknis dari barang baru itu? Istilah unicorn merupakan gelar yang diberikan pada suatu startup yang memiliki nilai valuasi (nilai dari suatu startup, bukan sekedar pendanaan yang diraih dari investor) lebih dari US$1 miliar atau saat ini setara dengan Rp14 triliun.

Dari data tahun 2016 yang dikeluarkan oleh Venture Beat, di dunia sudah terdapat 229 startup yang sudah mendapatkan gelar unicorn. Semua startup tersebut tersebar di berbagai belahan dunia termasuk Amerika Serikat, Tiongkok, Jerman, India, Kanada, Inggris, dan Singapura.

Bidang yang digeluti oleh startup tersebut pun bervariasi, mulai dari keuangan, pemasaran, pelayanan, ritel, bahkan games. Jumlah ini bisa saja bertambah seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang ada.

Pertumbuhan iklim usaha startup digital seolah tak terbendung. Saat ini Indonesia memiliki empat startup berku unicorn, yakni Go-Jek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak. Tahun 2020, pemerintah pasang target, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan kekuatan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.

Pada 2020, pemerintah menargetkan kelahiran seribu teknopreneur dengan nilai bisnis US$10 miliar. Saat itu juga, pemerintah menargetkan capaian transaksi e-commerce hingga US$130 miliar.

Meski terdengar sangat ambisius, target pemerintah sejatinya sangat realistis. Saat ini, ada lebih dari 1.700 usaha rintisan yang bergerak dalam ekosistem digital di Indonesia.  Berdasar hasil riset termutakhir yang dilakukan McKinsey, potensi pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia menunjukkan tanda-tanda yang sangat baik.

Riset McKinsey meramalkan, di masa mendatang, lebih dari 60% pekerjaan sekarang akan terganti teknologi otomatis di masa depan. Saat ini, pemerintah juga telah menelurkan 16 paket kebijakan untuk menciptakan iklim investasi, daya saing, pertumbuhan ekspor, sumber pertumbuhan baru dan peningkatan pertuumbuhan konsumsi masyarakat.

Kesuksesan empat unicorn Indonesia diharapkan dapat diikuti startup lain di dalam negeri. Tahun depan, pemerintah menargetkan kelahiran satu unicorn lagi dari Indonesia.  ini berkisar di angka Rp1 triliun hingga Rp5 triliun.

Menyadari pesatnya perkembangan 4 unicorn yang ada, BUMN penyelenggara Fintech mulai sadar soal perlunya melakukan sinergi dalam menghadapi serangan unicorn yang rerata dimiliki asing. Tak tanggung-tanggung ada enam BUMN penyelenggara Tintech seperti Telkomsel (T-Cash), Bank Mandiri (e-Money), BRI (T-Bank), BNI (Yap!), BTN dan Pertamina.

Cita-citanya, tentu ingin menjadi penyelenggara Fintech raksasa di tanah air. Bahkan misi besarnya adalah ingin menjadi tuan rumah di negeri sendiri, ini merupakan konsolidasi raksasa para pelaku bisnis unicorn lokal.

Seperti diketahui T-Cash memiliki 30 juta pengguna, adapun fasilitas yang ditawarkan adalah untuk beli pulsa, data harga termurah, bayar merchant dengan Tap dan Snap. Sementara E-Money memiliki 5 juta pengguna dengan fasilitas pengalaman social bankingdan kemudahan pembayaran.

Sementara Yap! BNI diketahui memilii 400.000 pengguna dengan fasilitas QR Code scannerdan memungkinkan nasabah untuk memungkinkan nasabah menjadi inisiator transaksi. Belum lagi BRI, Pertamina dan BTN.

Keenam BUMN tersebut ke depan akan menggunakan LinkAja untuk bersaing dalam layanan dompet digital.
LinkAja sendiri adalah aplikasi baru pengganti T-Cash dan menggabungkan dengan Fintech BUMN lainnya. Pengalihan masing-masing Fintech BUMN ke dalam LinkAja dijadwalkan 21 Februari 2019 ini. Begitu semua sudah bergabung ke dalam LinkAja, maka Fintech terkait akan off memberikan pelayanan.

Dompet digital ini nantinya akan dikelola PT Tintek Karya Nusantara (Finarya). Ini adalah fintech yang dibentuk Telkom dan berada di bawah Telkomsel. Pada tahap awal ini, Finarya akan membawahi produk dompet digital Telkomsel, T-Cash yang memiliki 30 juta pelanggan dengan 20 juta transaksi harian. T-Cash pun segera bertransformasi menjadi LinkAja.

LinkAja segera hadir sekaligus ingin menjadi pemimpin pasar, dari sinilah progresivitas dan sekaligus remnya akan diciptakan agar tidak menjelma menjadi kekuatan negatif flying fund, atau makin banyak dana terbang ke luar negeri.

Sekadar diketahui, bisnis fintech dan unicorn ini adalah genre bisnis baru yang menggabungkan inovasi teknologi informasi dengan produk perbankan, perdagangan dan jasa. Dan asal tahu saja, ini juga genre bisnis baru yang hanya bisa ditekuni anak-anak muda dengan komplikasi persoalan yang amat luas.

Karena itu bisnis ini tidak bisa dicegah kemajuannya, yang bisa dilakukan oleh Prabowo atau Jokowi kalau menjadi presiden pada 2019-2024, adalah menjaga sekecil mungkin agar dampak negatifnya bisa dikendalikan.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here