Unjuk Rasa di 40 Kota Eropa Respon Pemilu Belanda dan Prancis

0
101

Nusantara.news – Eropa menghadapi beberapa Pemilu yang dianggap mengkhawatirkan karena berisiko terpilihnya tokoh-tokoh populis sayap kanan yang tidak pro dengan Uni Eropa (UE). Jika mereka terpilih, sejumlah negara seperti Belanda dan Prancis terancam keluar dari UE menyusul Inggris (Brexit), Eropa pun terancam bubar.

Belanda akan melangsungkan Pemilu legislatif pada 15 Maret 2017, survei menyebutkan Partai Kebebesan (PVV), sebuah partai sayap kanan besutan populis Geert Wilders bakal mendapat suara dominan di Parlemen Belanda. Prancis yang akan menggelar Pemilu Presiden pada 23 April dan 7 Mei 2017 mengunggulkan Marine Le Pen, putri dari populis Prancis Jean Marie Le Pen. Calon presiden Belanda dan Prancis yang potensial menang ini, keduanya menyuarakan wacana menarik diri dari UE.

Merespon hal tersebut, ribuan demonstran pro-Uni Eropa menggelar aksi unjuk rasa di lebih dari 40 kota di seluruh Eropa untuk menyuarakan dukungan mereka terhadap blok Uni Eropa.

Berlin tampaknya merupakan kota dengan pengunjuk rasa terbesar menjelang pemilu Belanda. Unjuk rasa mengusung tema ‘Pulse of Europe’.

Banyak dari pengunjuk rasa di ibukota Jerman itu mengatakan mereka berunjuk rasa untuk mendesak masyarakat Belanda dan Prancis memberikan suara terhadap dan sayap-kanan pada Pemilu besok.

“Saya berharap bahwa Geert Wilders tidak menang, dan Belanda tetap berada di Eropa. Saya juga berharap yang sama untuk Perancis,” kata seorang pengunjuk rasa.

Lebih dari 40 kota terutama di Jerman ambil bagian dalam unjuk rasa pro Uni Eropa yang dilaksanakan Minggu (12/3).  Sementara di Berlin, Brussels dan Amsterdam juga terlihat unjuk rasa dengan jumlah yang lebih kecil.

Kandidat terkuat PM Belanda Geert Wilders terkenal sebagai seorang populis ektrem dan pembenci Islam (Baca: Akankah Belanda Dipimpin Seorang Geert Wilders?). Dia berjanji jika dirinya terpilih sebagai PM Belanda akan menghapus Islam dari Negara Kincir Angin itu.

Sebagaimana dilansir ABC News, Senin (13/3) Wilders menantang perdana menteri petahana Mark Rutte dalam Pemilu besok. Sejumlah pemimpin sayap kanan Belanda, termasuk Wilders menggunakan isu Islam dan imigran untuk mendulang dukungan.

Wilders telah lama menegaskan dirinya sebagai anti-Islam, anti-imigrasi dan anti-Uni Eropa. Wilders selalu memimpin dalam sejumlah beberapa jajak pendapat. Media menggambarkan Wilders sebagai Donald Trump-nya Belanda.

Di Prancis, Marine Le Pen kembali unggul memimpin jajak pendapat dibanding lawannya Francois Fillon setelah Fillon berencana mengurangi 500 ribu-an pekerjaan. Pillon juga berencana menaikkan usia pensiun dari 62 menjadi 65.

Sebuah jajak pendapat terbaru merilis hasil bahwa Francois Fillon tersingkir pada Pemilu putaran pertama dengan perolehan 20%, sementara kandidat yang lain Emmanuel Macron mendapat 25%, dan Le Pen 27%.

Namun jajak pendapat The Opinionway meramalkan Emanuel Macron berpeluang mengalahkan Le Pen pada putaran kedua, 7 Mei 2017 dengan suara kemenangan sebesar 62% dan Le Pen 38%. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here