Untuk Apa Gelar Adat Presiden?

0
167

PRESIDEN Joko Widodo dianugerahi gelar Tuanku Sri Indera Utama Junjungan Negeri oleh Kesultanan Deli, ketika berkunjung ke Medan kemarin. Gelar itu adalah gelar bangsawan tertinggi di Kesultanan Deli. Sebelumnya Jokowi juga sudah mendapat gelar adat kehormatan itu dari berbagai suku di Indonesia. Gelar itu antara lain diberikan para pemangku adat di sejumlah daerah. Tidak hanya Jokowi, Prabowo pun pernah diberikan berbagai gelar kehormatan adat tersebut, antara dari Toraja dan Makassar.

Simbol-simbol adat ini marak kembali dalam beberapa tahun terakhir. Misalnya, keharusan berbaju adat di peringatan HUT Kemerdekaan RI di Istana Negara. Deklarasi kampanye damai yang diselenggarakan KPU di Silang Monas Jakarta, 24 September kemarin, juga dihiasi pakaian adat. Jokowi mengenakan pakaian adat Bali, sedangkan Prabowo Subianto berbusana adat Jawa. Sementara Ma’ruf Amin tampil dengan baju adat Betawi, Sandiaga Uno memakai pakaian adat Melayu.

Menarik mendengarkan ucapan Presiden Jokowi ketika menerima gelar adat Melayu Deli kemarin. Katanya, ini adalah bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Kebudayaan akan menjadi energi utama Indonesia untuk maju. “Indonesia maju dengan tetap mempertahankan nilai-nilai luhur asli bangsa Indonesia,” kata Presiden.

Ada nuansa nasionalisme di situ. Bagus, kalau memang itu tujuannya. Nasionalisme perlu terus dipupuk dan dikembangkan. Tetapi apakah nuansa kebangsaan itu terwujud dalam penyelenggaraaan negara, itu yang perlu dibuktikan.

Yang jelas kadar nasionalisme tidak bisa diukur secara simbolistik hanya dengan baju atau gelar adat. Itu bungkus semata. Bukan isi. Tentu saja kita tidak mementingkan bungkus daripada isi. Nasionalisme baju adat itu harus ditingkatkan ke nasionalisme yang lebih substansial. Nasionalisme yang merujuk pada ideologi dan konstitusi.

Karena itu, setelah menyandang berbagai gelar adat di depan namanya, Jokowi selaku presiden harus segera memastikan apakah seluruh kebijakan sudah nasionalistis atau belum. Apakah kebijakan ekonomi sudah melahirkan perekonomian yang disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan, sebagaimana amanat Pasal 33 ayat (1) UUD 1945. Apakah cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak sudah dikuasai sepenuhnya oleh negara? Dan banyak pertanyaan mendasar lain sebagai indikator nasionalisme.

Ini penting dipastikan. Sebab, bangsa itu fitrah manusia, tapi rasa kebangsaan (nasionalisme) tidak barang jadi. Nasionalisme perlu proses penumbuhan. Tempat penumbuhan terbaik adalah wadah negara yang menempatkan rakyatnya di tempat tertinggi.

Kalau rakyat dihargai dan diperlakukan benar-benar sebagai pemegang kedaulatan negara, rasa kebangsaannya niscaya mekar. Jika rakyat tidak terpinggirkan, kebanggaannya sebagai bagian dari bangsa pasti tak akan layu.

Sebaliknya, kalau rakyat tidak pernah didengar suaranya, diabaikan kehendaknya, dizalimi aspirasinya, direndahkan martabatnya, bukankah sangat fitrawi pula apabila tak ada lagi rasa bangga yang tersisa.

Masalahnya, tolok ukur ideologis dan konstitusi tidak pernah dirumuskan. Di umur negara yang sudah setua ini, kalaupun sesama bangsa ini harus bertengkar, semestinya pertengkaran itu tidak lebih dari sekadar memperdebatkan cara, dan bukan tentang dasar. Meminjam terminologi dalam hukum Islam, soal dasar itu bersifat qath’i, sesuatu yang mutlak dan tidak perlu didebat lagi. Sedangkan soal cara, memang harus senantiasa diperbarui, karena berkembang sesuai keadaan.

Barangkali inilah yang membuat bangsa ini tak pernah beringsut maju. Setelah lebih tujuh dasawarsa sebagai negara merdeka, ternyata kita masih bingung soal dasar. Jika kebingungan itu menjangkiti orang-orang yang mengaku dirinya pemimpin, ini lebih dari sekadar memprihatinkan.

Sebab, para elit itu adalah orang yang seharusnya menjaga dan menerapkan common platform tadi. Jika tidak, ada kemungkinan bangkitnya common platform lain yang bisa kontradiktif dengan kesepakatan awal negara ini.

Tanpa itu, kita hanya akan berhenti pada nasionalisme simbolistik berupa baju atau gelar adat.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here