Untuk Menggenjot Bisnis Pelindo Undang Investor Asing

0
35
PT Pelindo I akan mengundang investor asing untuk pembangunan Pelabuhan Kuala Tanjung dan menjual saham anak perusahaan, sementara Pelindo II berencana menjuala saham anak perusahaan untuk pengembangan bisnis dan pembelian peralatan pelabuhan.

Nusantara.news, Jakarta – Tekad menggenjot pembangunan, ekspansi bisnis dan membeli peralatan, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I dan II terpaksa mengundang investor asing untuk menjadi pemegang saham maupun melantai di bursa.

Pelindo I merencanakan membangun Pelabuhan Kuala Namu, Sumatera Utara, sementara Pelindo II merencanakan melakukan innitial public offering (IPO) anak perusahaan di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk pengembangan anak perusahaan.

Menurut Direktur Keuangan Pelindo I, M. Nur Sodiq pihaknya membuka peluang masuknya investor asing hingga 49% di Pelabuhan Kuala Tanjung, Sumatra Utara. Hingga saat ini, calon-calon investor masih dalam proses untuk masuk. Mereka diproyeksi akan membawa pendanaan untuk investasi dan pemasaran.

Saat ini, Pelindo I telah bekerja sama dengan Port Rotterdam untuk pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung tahap I. Kerja sama itu masih berupa operasional yang belum memasukkan skema investasi.

“Untuk tahap I, saham tetap 100% dipegang oleh kami, tetapi nanti untuk tahap II mereka (investor) akan diberikan kesempatan (berinvestasi) sampai 49%,” demikian ungkap Sodiq beberapa waktu lalu.

Prosentase 49% ini merupakan nilai gabungan yang akan digenggam bersama antara Port Rotterdam dengan sejumlah investor lain.

Direktur Utama Pelindo I, Bambang Eka Cahayana, mengaku setidaknya ada tujuh perusahaan multinasional yang berminat berinvestasi pada pengelolaan di Pelabuhan Kuala Tanjung. Seperti DP World, Red Sea Gateway Terminal, Mwani Ports, APM Terminal, Adani Ports, dan Ningbo Ports.

Perusahaan-perusahaan ini nanti akan diberi penilaian, mulai dari aspek teknis pelabuhan, maritim, struktur keuangan hingga manajemen perusahaan. Penilaian akan dilakukan oleh Drewry Consultant, Danareksa, dan PricewaterhouseCoopers (PwC).

Sampai sekarang, Pelindo I tengah menindaklanjuti ketertarikan tujuh dari 17 investor asing itu melalui penasihat. Namun, untuk tahap awal, investor asing hanya akan melakukan kerja sama pengelolaan operasional.

“Belum (pegang saham). Karena tahap I operasional ketika di-launch itu belum ada apa-apa. Jadi investor asing  itu (masih) wait and see,” kata dia.

Pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung yang ditargetkan akan menjadi hub internasional itu menelan biaya investasi Rp38 triliun dalam tiga tahap. Tahap pertama Rp4 triliun, kedua Rp11 triliun, dan ketiga Rp23 triliun.

Pembangunan tahap I telah mencapai 99,5%. Rencananya, proyek pembangunan pelabuhan terbesar di Sumatra itu bakal rampung pada pekan kedua Desember 2018. Namun beroperasi pernuh Januari sampai April 2019.

Pada pekan pertama Desember 2018, sudah dilakukan uji coba untuk melakukan ekspor dari Kuala Tanjung ke Asia Utara, China dan Taiwan.

Pengelola Pelindo I juga dalam proses negosiasi untuk ekspor punya kargo Unilever, kargo Wilmar, dan kargo pabrik rokok Sintar. Ketiga pabrik ini lokasinya berdekatan dengan Kuala Tanjung.

Menurut Bambang, Pelindo I telah mengantongi semua perizinan. Mulai dari izin operasi dari Kementerian Perhubungan dan izin kepabeanan dari Dirjen Bea dan Cukai. Jadi ini tinggal mematangkan untuk kepentingan pelaksanaan.

Pada bagian lain manajemen Pelindo I juga menandatangani kerjasama dengan Bank Himbara yang teridiri atas Bank Mandiri (Persero) Tbk, Bank BRI (Persero) Tbk dan Bank BNI (Persero). Dari kerja sama itu, PT Pelindo I mendapat dana segar untuk pembiayaan investasi sebesar Rp1,3 triliun.

Pada 2019, Pelindo I tampaknya memasang target sebagai tahun aksi korporasi bagi Badan usaha milik negara (BUMN) pelabuhan ini. Pada 2019, Pelindo I menganggarkan belanja modal (capital expenditure/Capex) senilai Rp4 triliun-Rp4,5 triliun.

Belanja modal itu akan digunakan untuk 14 pelabuhan yang dikelola perseroan di wilayah Barat Indonesia. Perseroan mulai menerapkan transaksi non tunai di sebagian pelabuhan pada 2019 demi menggenjot kinerja.

Bambang menjelaskan pada 2019, Pelindo I tidak berencana menerbitkan obligasi di pasar domestik mengingat masih menanggung utang. Hingga akhir 2017, utang bank jangka panjang yang dimiliki Pelindo I mencapai Rp327 miliar dengan utang obligasi Rp996,6 miliar.

Bambang menuturkan, perseroan juga berencana mengincar sumber pendanaan dari pasar global. Saat ini, Pelindo I tidak memiliki global bonds, hanya obligasi I yang diterbitkan pada 2016 senilai Rp1 triliun.

“Kalau multilateral kan tergantung nanti investornya dari mana saja. Misalnya, yang kita tunjuk itu dari Timur Tengah. Tentu mereka akan membawa dana dari Timur Tengah atau dari mana. Karena mereka sudah multinational company, jadi dia source-nya lebih murah,” kata Bambang.

Pelindo I juga berencana menjual saham anak perusahaandi pasar modal. Aksi penawaran saham perdana (initial public offering–IPO) akan digelar paling cepat pada semester II-2019 dengan target perolehan dana Rp500 miliar.

Berdasarkan catatan, setidaknya empat anak usaha Pelindo I bakal dilego kepada publik melalui PT Bursa Efek Indonesia. Keempat anak usaha itu adalah PT Prima Indonesia Logistik, PT Prima Terminal Petikemas, PT Prima Pengembang Kawasan, dan PT Prima Multi Terminal.

Pada 2019, Pelindo I bakal merampungkan ekspansi tahap II terminal industri dari 1,5 juta ton ditingkatkan menjadi 10 juta ton. Perseroan juga bakal menambah kawasan industri baru seluas 400 Ha.

Adapun, untuk kinerja hingga akhir 2018 ditargetkan dapat meraup laba bersih sebesar Rp1 triliun. Target itu naik 30% dari laba bersih tahun 2017 senilai Rp805 miliar.

Sementara Dirut PT Pelindo II (IPC) Elvyn G Masassya menyatakan pihaknya berencana menjual 30% saham anak perusahaan ke publik (IPO), yakni PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP). IPO saham PTP ke publik direncanakan pada bulan Mei 2019.

“Kita mau IPO PTP sekitar semester satu ini, sekitar Mei 2019, setelah pesta-pesta (pemilu) itu berakhir. Rencananya 30% IPO, berapa profit saya belum bisa kasih tahu,” ungkap Elvyn belum lama ini.

Elvyn menargetkan saham PTP nantinya akan ditawarkan secara internasional. Untuk itu dia sudah menunjuk beberapa perusahaan untuk membantu menjual saham

“Kami sudah tunjuk joined under writer gabungan antara perusahaan BUMN, swasta dan asing. Karena target kita internasional, Asean, Eropa dan domestik,” ungkap Elvyn.

Elvyn menjelaskan, dana hasil IPO nantinya akan digunakan untuk mengembangkan anak usahanya tersebut. Salah satunya untuk membeli alat dan mengembangkan pelabuhan.

Elvyn menegaskan bahwa IPO yang dilakukan untuk PTP akan lebih besar dibanding IPO anak usaha sebelumnya.  Sebelumnya, anak usaha IPC yang lain sudah ada yang go public. Diantaranya adalah, PT Jasa Armada Indonesia dan PT Indonesia Kendaraan Terminal.

Melihat gelagat Pelindo I dan Pelindo II ada beberapa catatan yang menarik untuk diperhatikan. Pertama, kebutuhan pembangunan pelabuhan yang besar memang harus ditopang dana besar, oleh karena keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sehingga perlu mengundang investor asing.

Kedua, kalau rencana Pelindo I melakukan private placement atau global bond, maka mau tidak mau harus mengundang investor asing. Mengingat pelabuhan Kuala Tanjung akan menjadi hub pelabuhan dunia, diperkirakan investor asing akan tertarik untuk berinvestasi.

Ketiga, rencana Pelindo I dan Pelindo II melakukan IPO anak perusahaan merupakan strategi yang cerdas ketimbang menggunakan dana pinjaman China yang berpotensi gagal bayar sebagaimana yang terjadi di Sri Lanka dan Maladewa.

Keempat, kalau investor asing yang dimaksud adalah investor lokal yang menggunakan kendaraan bisnia (special purpose vehicle—SPV) maka ini patut dicurigai akal-akalan memutar dana di dalam negeri menggunakan bendera luar negeri. Biasanya dana itu adalah dana gelap atau hasil korupsi atau hasil konsesi bisnis besar ilegal, sehingga patut dicurigai.

Kelima, penggunaan dana IPO untuk pembangunan atau ekspansi bisnis pelabuhan lebih tepat dibandingkan menggunakan dana pinjaman langsung atau global bond. Pelindo II dikabarkan sudah terlilit utang global bond cukup besar sejak zaman RJ Lino, sehingga kalau tidak memiliki pemasukan yang besar bunga dan denda global bond bisa mencekik leher.

Sampai awal 2019, beban utang global bond Pelindo II dikabarkan sudah mencapai Rp20 triliun. Sementara penerimaan (revenue) Pelindo II sangat terbatas dan itupun digunakan untuk melunasi cicilan pokok dan bunga global bond.

Semoga saja IPO anak perusahaan Pelindo I dan Pelindo II menemukan momentum yang tepat. Sebab kalau bondholder global bond ikut serta maka penjualan saham pada IPO tersebut bisa undersubscribe. Kuncinya agar IPO oversubscribe, maka Pelindo I dan Pelindo II harus mencari pemegang saham baru di luar bondholder.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here