Upaya Boikot Muncul Jelang Pelantikan Trump

0
95
Donald Trump vs. John Lewis (sumber: nytimes)

Nusantara.news, Washington – Suasana menjelang pelantikan Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat pada 20 Januari 2017 berbeda dengan pelantikan presiden AS sebelum-sebelumnya. Kali ini Trump yang sejak masa kampanye hingga terpilih kerap mengeluarkan pernyataan-pernyataan kontroversial agaknya akan dilantik dalam suasana yang tidak biasa. Lebih dari 50 politikus Partai Demokrat, oposisi Trump, dan mungkin masih akan terus bertambah menyatakan menolak hadir dalam pengambilan sumpah nanti.

Kenapa ada boikot? Hal ini awalnya dipicu perang twit antara Trump dengan aktivis hak-hak sipil dan anggota Kongres, John Lewis. Lewis dikenal sebagai figur perjuangan hak-hak sipil AS yang sangat dihormati oleh masyarakat AS sekaligus merupakan tokoh perjuangan tahun 1960 terakhir yang masih hidup.

Perang di media sosial itu dipicu pernyataan Lewis yang menyebut bahwa kemenangan Trump tidak absah karena dugaan keterlibatan Rusia dalam pemilihan presiden. Hal yang belakangan tengah menjadi isu hangat di kalangan Kongres AS. Trump sendiri sudah mengakui kebenaran informasi intelijen AS yang menyatakan ada keterlibatan Rusia dalam Pemilu AS, meskipun dia menyangkal bahwa upaya Rusia itu menjadi faktor kemenangannya.

Trump membalas cuitan Lewis di Twitter dan menyerang anggota parlemen dari Georgia itu sebagai orang yang “cuma bicara, bicara, bicara, tidak ada tindakan atau hasil.” Tentu saja cuitan balasan Trump terhadap Lewis itu memicu gelombang kemarahan dari kelompok masyarakat yang menganggap Lewis, tokoh berusia 76 tahun itu, sudah membuktikan perjuangannya selama ini dengan tindakan nyata lebih dari siapa pun.

Akibatnya, puluhan anggota Kongres telah menyatakan tidak akan menghadiri pelantikan Presiden AS ke-45 itu.

“Saya tidak akan merayakan orang yang mengkhutbahkan politik perpecahan dan kebencian,” cuti Keith Ellison, anggota parlemen dari Minnesota.

“Absen dari pelantikan. @RepJohnLewis pahlawan hak-hak sipil. Tanggung jawab yang sangat besar untuk menjadi POTUS (President of the United States). Saya menghormati jabatan itu, tapi tidak bisa mentolerir sikap tidak hormat,” cuit anggota parlemen yang mewakili Maryland Anthony G Brown.

Meski jumlah anggota kongres yang memboikot sudah lebih dari 50 orang namun Trump tampaknya tidak khawatir. Dia mengganggap hal itu biasa saja dan pernah terjadi pada pelantikan-pelantikan presiden sebelumnya.

Sebaliknya, pada Selasa (17/1) Trump balik menuding Lewis telah memberikan pernyataan palsu bahwa ketidak hadirannya pada pelantikan 20 Januari nanti adalah pertama kali yang dilakukannya sejak terpilih di Kongres pada tahun 1987.

“Salah (atau dusta)!” cuit Trump. Menurutnya, Lewis juga absen pada pelantikan George W Bush pada 2001.

Tudingan Trump tersebut lalu dibalas pihak Kantor Lewis yang mengakui bahwa ia memang absen upacara pada pelantikan Bush, namun menurut juru bicaranya Brenda Jones ketidakhadirannya saat itu juga merupakan suatu sikap pernyataan.

“Dia tidak percaya hasil pemilihan ketika itu, termasuk kontroversi di sekitar hasil di Florida dan intervensi yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Mahkamah Agung AS,” kata Jones sebagaimana dikutip BBC.

Apakah boikot pernah terjadi sebelumnya?

Meski riak-riak sebelum dan sesudah pemilihan presiden AS kali ini agaknya belum pernah terjadi sebelumnya, tapi pemboikotan partai oposisi dalam pelantikan presiden AS bukanlah yang pertama kali terjadi.

Sejarawan Brooks Simpson dari Arizona State University menyebut 80 anggota parlemen absen dari upacara pengambilan sumpah Richard Nixon pada tahun 1973.

Bedanya di era Trump kali ini, selain adanya para anggota Kongres dari partai oposisi yang akan melakukan boikot, ada pihak-pihak lain yang diduga akan ikut-ikutan boikot. Menurut para pejabat AS, diperkirakan antara 800.000 hingga 900.000 orang akan membanjiri ibukota negara AS pada hari pelantikan Trump, namun belum jelas apakah mereka berada di sana dalam rangka perayaan atau protes.

Sekitar 200 ribu orang juga diperkirakan bakal berkumpul di Washington sehari sesudah pelantikan untuk acara Pawai Perempuan di Washington. Hampir 200 organisasi dan kelompok aktivis menyatakan akan mendukung pawai akar rumput itu.

Acara itu diselenggarakan sebagai unjuk rasa untuk kesetaraan ras dan jenis kelamin, layanan kesehatan terjangkau, hak aborsi dan hak bersuara, masalah yang dirasakan berada di bawah ancaman pada kepresidenan Donald Trump.

Pelantikan Trump memang akan dilangsungkan di tengah-tengah situasi yang panas, bahkan mengarah perpecahan di AS setelah pemilihan presiden selesai. Meskipun Trump menyapu electoral college, tapi lawannya, Hillary Clinton memenangkan suara populer dengan keunggulan hampir 2,9 juta pemilih.

Lebih-lebih lagi jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan tingkat dukungan terendah dalam sejarah untuk suatu transisi kepresidenan. Sebuah jajak pendapat terbaru ABC News/Washington Post menunjukkan, hanya 40% orang Amerika melihat Trump secara positif, sementara 79% pendapat postitif terhadap Presiden Obama pada tahun 2009.

Sebuah survei CNN/ORC dirilis pada Selasa (17/1) menunjukkan Trump hanya mendapat 40% peringkat persetujuan, bandingkan dengan 84% yang diperoleh Obama pada tahun 2009.

Meski begitu, seperti biasa dalam cuitan-cuitannya di media sosial Twitter, sosok populis ini tetap optimis bahwa masyarakat AS akan mendukungnya dalam pelantikan 20 Januari nanti. Dia menyebut jajak-jajak pendapat itu sebagai ‘palsu’. “Orang-orang akan berbondong-bondong datang ke Washington dalam jumlah yang memecahkan rekor,” kata Trump.

Sejak awal Trump memicu kontroversi dengan pernyataan-pernyataannya terkait hal-hal sensitif bagi masyarakat AS seperti masalah imigran, Islam, perbatasan negara, perempuan dan lain-lain. Meski banyak ditentang, Trump agaknya tetap akan menjalankan rencana-rencana kontroversialnya itu dalam program 100 hari pertama. Kita tunggu. [ ]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here