Usik Hak Politik, Manuver Cak Imin Hadang Khofifah Ditanggapi Santai

0
139
Ketua Forum Komunikasi Alumni Pondok pesantren (FORKAPP) KH Misbahus Salam, Pengasuh Ponpes Darus Salam Sukorejo Bangsalsari, Jember, Jatim.

Nusantara.news, Jember – Jawa Timur menjadi basis Nahdlatul Ulama (NU), ormas Islam terbesar di Indonesia. Praktis, dinamika politik yang terjadi juga tak lepas dari arus dukungan nahdliyin. Termasuk Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2018. Baru Wakil Gubernur Saifullah Yusuf yang saat ini benar-benar mengumumkan pencalonannya ke Grahadi 1. Namun bukan berarti dukungan nahdliyin terakumulasi kepada mantan menteri di era Presiden Abdurrahman Wahid tersebut.

Dua periode jabatannya sebagai wakil gubernur dinilai sebagian warga NU belum cukup untuk mewakilli aspirasi mereka. Justru dukungan kepada Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa sebagai sesama kader NU yang kian membesar. Terakhir, dukungan datang dari Forum Komunikasi Alumni Pondok Pesantren (FORKAPP) untuk Khofifah agar segera mendeklarasikan diri  maju di Pilgub 2018.

Ketua FORKAPP KH. Misbahus Salam menegaskan, restu dari Almarhum KH. Hasyim Muzadi (Ketua PBNU 2000-2010), sudah cukup kuat untuk mensiarkan suara mayoritas nahdliyin di Jawa Timur. Apalagi dukungan yang diberikan ketika Kyai Hasyim ketika masih sehat tersebut juga diberikan oleh beberapa kyai sepuh NU lain. Seperti cucu KH Hasyim Asyari yang juga pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang KH Shalahuddin Wahid.

“Dukungan para Kyai tersebut tentu memiliki alasan yang kuat di antaranya yaitu Ibu Khofifah dinilai memiliki kemampuan dan pengalaman yang cukup mumpuni dalam bidang pemerintahan, sekaligus Khofifah adalah kader terbaik NU yang cerdas, tegas, jujur dan pekerja keras,” terang pengasuh Pondok Pesantren Raudlah Darus Salam Sukorejo Bangsalsari Jember tersebut, Minggu (9/7/2017).

Problem kesejahteraan, kemiskinan dan menjaga teguh ajaran ahlussunah wal jamaah, jadi pekerjaan berat pemimpin Jawa Timur di masa mendatang. Belum lagi ditambah dengan serbuan paham radikal yang bibitnya mulai dirasakan di 16 kota/kabupaten di provinsi dengan populasi penduduk sekitar 39 juta jiwa ini.

“Kapasitas Khofifah sebagai mensos telah menunjukkan keberpihakannya kepada masyarakat miskin. Tak hanya itu, problem sosial lain seperti merajalelanya kemaksiatan juga sukses diredam. Hampir 90 persen lokalisasi berhasil ditutup Khofifah sejak dia menjabat sebagai menteri. Ini selaras dengan perjuangan ulama,” tegas Kyai Misbah.

Kinerja dan sepak terjang itu memperkuat kapasitas Khofifah sebagai calon pemimpin. Apalagi, tambah Kyai Misbah, pesan untuk menjaga NU dan Indonesia dari Kyai Hasyim selalu diberikan kepada Khofifah. Fenomena ini bahkan dijelaskan juga jadi harapan nahdliyin kultural, golongan yang tidak masuk dalam struktur atau fungsionaris NU.

Tanggapi Santai Manuver Cak Imin

Melihat sikap FORKAPP, menguatkan kesan jika Khofifah memang lebih populis di tataran akar rumput dibanding Gus Ipul, panggilan akrab Saifullah Yusuf. Tak heran, ada yang terusik dengan kondisi ini. Termasuk Muhaimin Iskandar Ketua Umum PKB yang sudah deklarasikan Gus Ipul sebagai calon gubernur.

Dukungan yang tak bisa dibendung di akar rumput disikapi dengan manuver ke istana. Politisi yang kerap disapa Cak Imin tersebut, meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghentikan langkah Khofifah jika berniat maju Pilgub Jawa Timur kendati hingga detik ini belum ada deklarasi. Alasannya, tidak ingin suara NU terbelah karena PKB sudah mengusung Gus Ipul dan bisa mengancam suara koalisi pengusung Jokowi di perhelatan Pemilihan Presiden 2019.

Manuver ini pun direaksi santai Khofifah. Menurut Ketua PP Muslmat NU tersebut, proses demokrasi merupakan hak setiap warga negara. Sehingga, hak untuk dipilih maupun memilih figur seorang pemimpin menjadi kewenangan siapapun, termasuk dirinya. “Intinya, demokrasi kita kan ada regulasinya. Artinya, demokrasi adalah hak bagi seluruh bangsa Indonesia,” kata Khofifah kepada wartawan di sela kunjungannya ke Gresik kemarin.

Namun Khofifah tetap menyayangkan jika Cak Imin memang menggunakan jalur ke istana untuk menghadang. “Mungkin ada yang memberikan input (pertanyaan) kepada beliau, sehingga keluarlah pernyataan seperti itu,” lanjutnya. Disinggung sikapnya, Khofifah pilih santai. “Khawatir? Tidaklah. Tapi kalau Mas Imin mau berproses untuk 2019, masih jauh,” lanjutnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here