Lima Tantangan Ekonomi Jokowi-Ma'ruf (2)

Utang dan Infrastruktur Menghantui Ekonomi

0
238
Jokowi-Ma'ruf Amin

Nusantara.news, Jakarta – Mahkamah Konstitusi (MK) sudah memutuskan menolak pengajuan sengketa hasil Pilpres 2019. Dengan demikian Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin akan memimpin Indonesia untuk periode keduanya 2019-2024. Apa saja tantangan yang akan menghadangnya?

Keempat, utang membengkak. Sampai Desember 2018 total utang pemerintah tercatat sebesar Rp4.418,30 triliun. Angka ini setara 29,98% dari PDB, namun masih di dalam batas yang ditetapkan 60% dari PDB.

Bila dibandingkan dengan posisi di tahun lalu, realisasi tersebut mengalami kenaikan 10,59%. Pada Desember 2017 utang pemerintah tercatat sebanyak Rp3.995,25 triliun.

Secara rinci, posisi utang hingga akhir tahun lalu itu berasal dari pinjaman dalam negeri sebesar Rp6,57 triliun dan dari luar negeri sebesar Rp805,62 triliun. Kemudian dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp3.612,69 triliun.

Berdasarkan data Direktorat Pengelolaan Surat Utang Negara Kemenkeu, pada 2019 rencana pembiayaan APBN melalui penerbitan SBN mencapai Rp825,70 triliun. Tentu saja itu angka yang tidak sedikit, kalau dibagi dalam setahun 365 hari, maka dalam sehari Kemenkeu menerbitkan SBN hingga Rp2,26 triliun. 

Rencana penerbitan SBN tersebut terdiri dari SBN netto sebesar Rp388,96 triliun, untuk kebutuhan pembayaran utang jatuh tempo sepanjang 2019 sebesar Rp382,74 triliun, dan berupa SBN cash management sebesar Rp54 triliun.

Komposisi SBN tersebut nantinya akan diserap oleh investor domestik antara 8% hingga 86%, sementara untuk investor asing 14% hingga 17%. Target penerbitan SBN pada semester I-2019 mencapai 50% hingga 60% dari target gross penerbitan SBN. Sementara jumla penerbitan SBN dalam denominasi rupiah mencapai 52% dari rencana penerbitan SBN.

Rencana penerbitan SBN sedemikain besar itu tentu saja disebabkan oleh kegagalan pemerintah dalam memungut pajak, maupun dalam mengelola transaksi perdagangan, dan investasi. Sehingga menyebabkan kebutuhan APBN tak terpenuhi, untuk memenuhi kekurangan tersebut pemerintah terpaksa menerbitkan SBN.

Pada 2020 diprediksi jumlah SBN yang akan diterbitkan pemerintah dipastikan akan lebih besar lagi. Yang menjadi pertanyaan, apakah Pemerintahan Jokowi akan meninggalkan legacy utang kepada anak cucu nanti?

Kelima, pembangunan infrastruktur. Ekonom senior Rizal Ramli mengkritik tiga trauma dibalik pembangunan infrastruktur oleh Jokowi. Meskipun ia mendukung pembangunan infrastruktur, namun dia melihat tiga trauma ini akan membebani APBN ke depan. Apa saja?

Yaitu, over supply, over price, dan over borrow.

Over supply adalah pengeluaran yang dianggap berlebihan terhadap suatu hal. Seperti halnya rencana meningkatkan pasokan listrik hingga 35 ribu mega watt, padahal jika terealisasi hanya akan merugikan PLN.

Dulu rencananya membangun listrik 35 ribu mega watt, itu tidak mungkin. Padahal membangun 16 ribu mega watt saja sudah bagus, karena kalau sampai 35 ribu mega watt PLN akan rugi, ruginya karena harus bayar subsidi US$10,5 juta kepada swasta setiap tahun.

Disamping itu, menurut Rizal, juga terjadi over price. Rizal mengambil contoh pembangunan infrastruktur yang dikerjakan oleh BUMN. Menurutnya, BUMN terkesan memahalkan setiap biaya pembangunan infrastruktur, khususnya jalan tol.

Sedangkan yang dimaksud over borrow, menurut Rizal, saat BUMN tidak punya uang, sebagian disubsidi dari APBN dan BUMN sendiri harus meminjam. Kalau dilihat balance sheet BUMN, kenaikan utang tinggi sekali, sementara kemampuan untuk dapat revenue sedikit sekali.

Sehingga return on equity (rasio profitabilitas yang mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari investasi pemegang saham di perusahaan tersebut) dan return on asset-nya relatif rendah, dan bisa-bisa bermasalah kalau tidak dibenahi.

Itulah kelima tantangan ekonomi Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin untuk lima tahun ke depan. Kalau salah kelola lagi, boleh jadi akan memberi gambaran makin suram buat perekonomian.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here