Uthak Athik Gathuk 5 Kandidat Dirut Pertamina

0
233
Inilah lima kandidat Dirut PT Pertamina (Persero), pasca pencopotan Dirut Elia Massa Manik.

Nusantara.news, Jakarta – Pasca pencopotan Dirut PT Pertamina (Persero) Elia Massa Manik merebak kabar adanya 5 kandidat pengganti. Siapa sajakah mereka itu? Apa saja plus minus 5 kandidat Dirut Pertamina berikutnya?

Elia Massa Manik dicopot dari kursi basah sekaligus kursi panas Dirut Pertamina ditengarai lantaran tidak merespon imbauan Presiden Jokowi bahwa kendati harga presmium dan solar tidak naik menyusul kenaikan harga minyak dunia, namun ketersediaannya harus tetap ada di pasar.

Faktanya, mayoritas pompa bensin di Jabodetabek memang harga kedua produk Pertamina itu tidak naik. Masalahnya barangnya langka, nyaris tidak ada. Satu pompa bensin diisi premium dan solar terkadang hanya dua pekan sekali. Kalau pun ada, premium dan solar bersubsidi itu cepat habis.

Selebihnya, pelanggan hanya menyaksikan surat keterangan atau pamflet pengumuman bahwa premium dalam pengiriman, atau premium menunggu antrean isi ulang, atau premium habis.

Kondisi ini dikabarkan membuat Presiden Jokowi yang sedang membangun citra marah. Bahkan kebijakan premium dan solar bersubsidi langka ini telah membuat rakyat marah pada Jokowi, itu sebabnya Elia Massa dicopot.

Alasan lain yang mencuat, Elia Massa dianggap lamban dan kurang aware terhadap tragedi katastropik patahnya pipa di terminal Lawe-Lawe, Balikpapan. Akibatnya tumpahan minyak mentah mencemari lingkungan seluar 20.000 hektare, sementara tidak ada action yang jelas dari Elia Massa.

Elia Massa yang dianggap berhasil mengembangkan holding PT Perkebunan Nusantara, diharapkan dapat memimpin holding BUMN migas, ternyata harapan itu pupus.

Itu sebabnya, pada RUPS Pertamina akhir pekan lalu Elia dicopot dan menunjuk Direktur SDM Pertamina Nicke Widyawati sebagai pejabat pelaksana tugas (Plt) Dirut Pertamina. Namun Plt ini biasanya tidak lama, dia hanya sementara sampai ditunjuknya Dirut Pertamina definitif.

Lantas, siapakah kandidat Dirut Pertamina berikutnya?

Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno menyebut sampai saat ini belum bisa disampaikan calon-calon Dirut Pertamina. Begitu juga dengan target waktu penunjukan Dirut Pertamina yang baru.

“(Calon Dirut) Belum bisa saya sampaikan,” kata Harry singkat pada Jumat (20/4).

Lima kandidat

Berdasarkan bisik-bisik para pihak yang terlibat dalam perundingan, sedikitnya ada lima kandidat yang bakal mengisi kekosongan kursi panas Dirut Pertamina. Kelimanya dianggap punya peluang yang sama, namun sayangnya masing-masing kandidat itu juga punya kelemahan. Siapakah mereka itu?

Pertama, Nicke Widyawati sendiri adalah kandidat kuat Dirut Pertamina pengganti Elia Massa. Alasannya, Nicke dianggap penuh perhatian dan sangat detil kalau memimpin rapat, nyaris tidak ada isu kekinian yang lolos dalam pembahasannya dengan tim.

Itu sebabnya Nicke yang dipercayakan menjadi Plt. Dirut Pertamina di masa transisi ini. Jebolan Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) 1991 ini juga punya rekam jejak dan karir yang cukup moncer.

Ia mendapat tawaran karir di Bank Duta pada usia 21 tahun, ia pun bekerja sambil kuliah. Selesai kuliah, Nicke memulai karir di bidang industri dan konstruksi di PT Rekayasa Industri. Karirnya sempat menduduki posisi Wakil Dirut dan menangani berbagai proyek, termasuk proyek Pertamina.

Ia juga menyampatkan diri mengambil Hukum Bisnis di Unpad pada 2009. Lalu ia dipercaya sebagai Dirut PT Mega Eltra (kontraktor holding dari PT Pupuk Sriwijaya). Bahkan melompat sebagai Direktut Pengadaan Strategis 1 PT PLN, di bawah kepemimpinan Sofyan Basir. Lalu pada 2017 dia dipercaya sebagai Direktur SDM Pertamina, hingga pekan lalu menjabat sebagai Plt Dirut Pertamina.

Sayangnya, menurut sumber yang tahu detil informasi kandidat direksi, wanita berparas ayu ini memiliki kelemahan saat bekerja di Rekayasa Industri. Sehingga rekeningnya di bank Singapura cukup buncit. Dikhawatirkan kalau ia menjabat Dirut Pertamina, akan menambah buncit rekeningnya di Singapura.

Kedua, Dirut PT PLN Sofyan Basir disebut-sebut bakal direkomendasikan Menteri BUMN Rini Mariani Soemarmo. Alasannya Sofyan dianggap loyal dan pandai melakukan financial engineering yang smoth. Maklum, mantan bankir Bank Bukopin dan BRI ini sudah malang melintang belasan tahun di industri perbankan, sehingga pengalamannya cukup mumpuni.

Diharapkan ketika menjadi Dirut Pertamina, Sofyan mampu melakukan financial engineering yang positif buat Pertamina yang memiliki beban berat mengimpor ketersediaan minyak mentah. Apalagi di saat harga minyak dunia melambung hingga US$73 per barel, maka diperlukan engineering valas untuk ketersediaan dolar untuk impor. Fungsi treasury Sofyan sangat diperlukan dalam hal ini.

Masalahnya, Ketua Umum Solidaritas Pensiunan Karyawan Pertamina (EsKaPe), Binsar Effendi Hutabarat, menolak pencalonan Sofyan sebagai Dirut Pertamina. Pihaknya tidak mau Pertamina dipimpin oleh Sofyan Basir.

“Sudah pasti kami selaku stakeholders Pertamina karena telah ikut membangun, membesarkan dan memajukan perusahaan tak akan sudi Pertamina dipimpin oleh Sofyan Basir yang Dirut PLN tersebut”, tegas Binsar Effendi beberapa waktu lalu.

Binsar mengaku mencermati Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejak awal Februari 2018 mengusut dugaan mega korupsi di tubuh PLN yang dipimpin Sofyan Basir. Bahkan, KPK kabarnya juga sudah menyelidiki aliran dana proyek Sofyan Basir itu.

Kasus yang sempat heboh di media itu terkait pengadaan proyek kapal pembangkit listrik tenaga turbin selama lima tahun sejak 2015 sampai 2020 yang berpotensi merugikan negara bisa mencapai Rp130 triliun. Hal ini diduga akibat skandal-skandal mark up biaya sewa kapal maupun biaya operasional 5 unit kapal pembangkit listrik (marine veasel plant/ MVPP) milik Kapowership Zeynep Sultan asal Turki itu.

“Ini jelas tangungjawab Sofyan Basir yang menetapkan kontrak 5 kapal Turki itu,” kata Binsar.

Dari akibat dugaan korupsi mark up proyek PLTD yang semula direncanakan berbahan bakar gas, namun diganti bahan bakar minyak jenis hight fuel oil (HFO) yang sengaja diimpor dari luar bahkan menambah pemborosan besar itu, dampaknya keuntungan PLN tahun 2017 merosot hingga Rp17 triliun.

“Itu adalah fakta jika langkah-langkah yang ditempuh Sofyan Basir selaku Dirut PLN tidak mencerminkan semangat Presiden Jokowi dalam melakukan efesiensi keuangan negara,” tegas Binsar Effendi.

Seperti ramai diberitakan media, pemborosan atas sewa dan operasional 5 kapal apung asal Turki itu, diasumsikan bisa mencapai Rp7,9 triliun per unitnya selama lima tahun.

“Jika seperti ini kemudian dipakai jadi Dirut Pertamina, jelas sangat membahayakan dan program kebijakan Presiden Jokowi menetapkan harga BBM sama di pelosok tanah-air bisa terganjal, bahkan bisa jadi gagal,” tegas Binsar.

Ketiga, Deputi Bidang Usaha Konstruksi dan Sarana dan Prasarana Perhubungan (KSPP) Kementerian BUMN Ahmad Bambang. Ia juga mantan Wakil Dirut Pertamina pada masa Dirut Pertamina Dwi Soetjipto.

Ahmad Bambang termasuk kandidat pavorit Dirut Pertamina versi Menteri BUMN, makanya pasca pencopotan Dwi Soetjipto dan Ahmad Bambang, ia diselamatkan Menteri Rini ke Kementerian BUMN. Di kalangan internal Pertamina, Ahmad Bambang termasuk pemimpin yang kuat dan piawai dalam mengelola bisnis Pertamina.

Namun jika melihat pencopotan 5 direksi Pertamina akhir pekan lalu, sejumlah direksi yang diganti tersebut adalah orang-orang yang naik karirnya karena dipromosikan oleh Ahmad Bambang. Seperti Muchammad Iskandar (direktur Pemasaran Korporat), Toharso (direktur Pengolahan), dan Ardhy N. Mokobombang (direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia).

Sehingga kecil kemungkinan Ahmad Bambang yang akan direstui menjadi Dirut Pertamina. Tambahan pula saat menjabat sebagai Wakil Dirut Pertamina, ia terlibat sengketa yang keras dengan Dirut Pertamina Dwi Soetjipto. Dikhawatirkan kalau ia balik lagi ke Pertamina akan banyak benturan kepentingan.

Keempat, Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam. Sosok pria yang kalem jebolan doktor di Texas A & M University, Amerika ini terbilang kalem, tapi kontribusi kerjanya menyumbang 80% terhadap laba bersih Pertamina. Alumni ITB Teknik ITB (S1) dan Teknik Geofisika (S2) ini termasuk kader asli Pertamina yang tekun dan berprestasi.

Sebelumnya ia juga menjabat sebagai Dirut PT Pertamin EP, anak Pertamina di bidang eksplorasi. Penggemar golf ini bekerja nyaris tanpa konflik di internal, namun menyumbang sangat besar atas pendapatan Pertamina.

Namun, menurut orang dalam Pertamina, meskipun jarang terlibat konflik dan benturan kepentingan, Syamsu punya bakat perang diam-diam. Seperti dalam pencalonan Dirut Karen Agustiawan, yang paling aktif bergerilya di internal Pertamina adalah Syamsu.

Kelima, mantan Dirut Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin. Budi pada saat Elia Massa ditunjuk menjadi Dirut Pertamina juga sudah masuk pusaran kandidat Dirut Pertamina. Budi yang dikenal teliti dan tajam dalam melihat angka-angka pergerakan masuk dan keluar likudiitas, sangat cocok untuk menduduki jabatan Dirut Pertamina.

Namun karena ia berkecimpung di dunia keuangan, orang dalam Pertamina kurang sreg. Orang dalam Pertamina lebih menyukai mereka yang mengerti teknis di Pertamina, mungkin untuk jabatan Wakil Dirut atau Direktur Keuangan, Budi yang kini menjadi Dirut PT Inalum dianggap lebih pas.

Manakah dari kelima kandidat Dirut Pertamina tersebut di atas yang bakal ditunjuk oleh Menteri BUMN (cq. yang paling sreg dimata Presiden Jokowi)? Tinggal menunggu waktu siapa dari mereka yang akan terpilih. Wallahu a’lam.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here