Viral Doa Katolik, Momentum Kerukunan yang Substansial

0
255

Nusantara.news, Jakarta – Hari-hari ini ada sebuah viral di media sosial, yaitu foto teks doa umat Katolik terhadap umat Islam yang sedang berpuasa. Foto tersebut diunggah awalnya oleh pemilik akun Facebook Algonz Dimas Bintarta pada 27 Mei 2017.

Teks doa tersebut berbunyi: “Bulan Ramadhan segera tiba. Saudari-saudara kita, umat Islam, menantikannya dengan rindu untuk menjalan ibadah puasa. Bapa, limpahilah mereka rahmat kesehatan agar menunaikan ibadahnya dengan baik. Jadikanlah kami saudara yang toleran bagi mereka.

Rupanya ini adalah doa dalam ibadah misa di Gereja Kota Baru Yogyakarta. “Sebagai teman peziarahan, ketika mereka menjalankan ibadah puasa, kita harus dukung dengan doa agar bisa menjalani dengan sebaik-baiknya,” ucap Romo Paroki di gereja tersebut, Romo Maharsono, Rabu (31/5/2017).

Romo Maharsono mengatakan, sudah menjadi kebiasaan jemaatnya untuk mendoakan pemeluk agama lain dalam setiap ibadah misa. “Bahkan anak-anak sekolah yang mau ujian saja kami doakan,” katanya.

Doa untuk umat beragama lainnya juga sudah kerap dilakukan oleh umat di gereja ini setiap Misa Ekaristi. “Kemarin  ada tujuh ibadah misa, umat yang datang sekitar 12 ribu orang. Kami bersama-sama membacakan doa khusus itu. Kalau 12 ribu orang memohon kepada Allah, tentu kekuatan doa ini luar biasa,” tambah Romo Maharsono.

Menanggapi hal itu, mantan Ketua Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif menilai ini merupakan bukti persaudaraan umat beragama. “Perbedaan ada, tapi kita dalam persaudaraan,” tutur Syafii Maarif.

Pemerintah mestinya menggunakan momentum viral ini untuk membangun harmoni hubungan antarumat beragama yang lebih substansial. Berbagai isu mutakhir yang dibelokkan menjadi seolah-olah adanya kerikil dalam hubungan antarumat beragama, harus secepatnya diselesaikan.

Hubungan di tingkat umat sebetulnya tidak ada masalah. Doa yang jadi viral itu adalah salah satu contoh. Sebelumnya, ketika terjadi aksi demo 112, 11 Februari silam, sepasang pengantin yang hendak menikah di Gereja Katedral, Jakarta, dikawal oleh massa FPI. Pengantin tersebut pun merasa luar biasa karena bisa menikah disaat ada aksi 112. Apalagi, massa aksi 112 turut membantu pengawalan mereka saat masuk ke Gereja Katedral.

“Saya merasa takjub dengan aksi ini, sangat toleran. Saya dikawal sampai ke gereja,” ujar pengantin pria, Asido.

Pasangan yang menikah di Gereja Katredral ini dikawal FPI menembus massa demo 12 Februari 2017 silam.

Hubungan pemeluk agama Islam dan Nasrani selama ini berhasil dibina dengan baik, setidaknya begitulah yang terlihat di permukaan.

Dikatakan “di permukaan” karena hubungan baik itu baru sebatas mencoba menahan diri terhadap isu-isu sensitif. Di bawah permukaan, isu-isu sensitif itu masih belum sepenuhnya padam di masing-masing pemeluk. Itu sebabnya, ketika ada upaya provokasi, keduanya dengan mudah terpancing dan menjadi agresif.

Itu bukti bahwa kerukunan umat beragama di negeri ini belumlah sesuatu yang genuine, yang substansial.

Umat beragama di Indonesia masih harus menempuh jalan yang cukup panjang untuk mencapai kerukunan yang substansial itu. Masalahnya, setelah terjadi kerusuhan sosial yang membawa-bawa simbol agama, tampaknya jalan itu menjadi makin panjang. Dan ini menjadi tanggungjawab masing-masing pemeluk agama itu agar usaha membangun kerukunan itu tidak memasuki jalan tak ada ujung. Harus ada komitmen bersama yang kuat untuk memperpendek jalan yang panjang itu.

Komitmen itu yang harus membentengi umat agar tidak terpancing oleh usaha-usaha provokasi. Membangun komitmen itu pun tidaklah mudah. Di sinilah pemerintah harus memainkan peran yang lebih aktif.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here