Pidato Kebangsaan Prabowo Subianto (1)

Visi Misi Pembenahan Ekonomi Indonesia Menang

0
145
Pidato Kebangsaan Prabowo Subianto yang menggelegar mengoreksi berbagai kelemahan ekonomi belakangan ini dan menawarkan solusi atas pembenahan ekonomi bangsa menjadi Indonesia Menang.

Nusantara.news, Jakarta – Calon Presiden Prabowo Subianto semalam baru saja menyampaikan visi misinya sebagai kandidat. Pidato berdurasi 1 jam 20 menit itu benar-benar memukau terutama terkait pemaparan masalah dan formulasi solusi yang ditawarkan membuat histeris hadirin.

Di Plenary Hall Jakarta Convention Center, Prabowo dengan lugas menyampaikan persoalan-persoalan ekonomi bangsa ini. Tanpa tedeng aling-aling ‘sang singa podium’ mengurai berbagai kelemahan dari sisi ekonomi saat ini.

Sepanjang pidato yang sangat interaktif dengan massa yang hadir sekitar 100.000 audiens, Prabowo bersahut-sahutan. Idenya, keberaniannya, dan paparan apa adanya terkait persoalan bangsa mendapat applause meriah. Berkali-kali nama Prabowo diteriakkan, berkali-kali ia disebut presiden 2019.

Ringkasnya, Prabowo menyebutkan dirinya mendapat laporan seorang buruh tani di Tawangharjo, Grobogan, Pak Hardi, meninggal dunia dengan gantung diri di belakang rumahnya. Pak Hardi memilih gantung diri karena tak sanggup membayar utang akibat beban ekonomi yang harus ia pikul terlalu berat.

Ada kisah seorang guru di Pekalongan gantung diri. Terakhir, tanggal 4 Januari lalu, ada ibu Sudarsi di Desa Watusigar, Gunungkidul gantung diri. Ini kisah-kisah yang masuk berita. Yang tidak masuk berita mungkin lebih banyak lagi.

Prabowo baru datang dari Klaten. Di situ, petani-petani beras bersedih, karena saat mereka panen 2 bulan yang lalu, banjir beras dari luar negeri.
Ia juga baru-baru ini dari Jawa Timur. Di sana, banyak petani tebu yang mengeluh, karena saat mereka panen, banjir gula dari luar negeri.

Sementara itu, banyak ibu-ibu di mana-mana mengeluh, harga gula di Indonesia dua sampai tiga kali lebih mahal dari rata-rata dunia. Padahal, dulu Nusantara pernah jadi eksportir gula.

“Inikah negara yang dicita-citakan para founding fathers kita?” demikian keluh Prabowo.

Negara yang banyak rumah sakitnya menolak pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan karena belum mendapat bayaran sekian bulan, yang rumah sakitnya dan terpaksa mengurangi mutu layanan.

Negara yang 1 dari 3 anak balitanya mengalami gagal tumbuh karena kurang protein, karena ibunya juga kurang protein, kurang gizi selama masa mengandung. Negara yang terus menambah utang untuk bayar utang, dan menambah utang untuk membayar kebutuhan rutin pemerintahan yaitu membayar gaji pegawai negeri. Negara yang membiarkan kondisi keuangan BUMN-BUMN utama dan besar kita dalam kondisi sulit.

Garuda, pembawa bendera Indonesia, perusahaan yang lahir dalam perang kemerdekaan, rugi besar.

Pertamina, perusahaan penopang pembangunan Republik Indonesia, sekarang dalam kesulitan. Demikian juga PLN, demikian Krakatau Steel. Jika pun ada BUMN yang untung, untungnya tidak seberapa.

Negara yang ada warganya yang tinggal hanya 3 jam dari Istana Negara, tidak mampu berangkat sekolah karena sudah 2 hari tidak makan. Negara yang beberapa waktu yang lalu panik karena puluhan anak-anak di Kabupaten Asmat meninggal karena kelaparan, karena pejabat-pejabat pemerintahnya tidak hadir untuk membantu mereka yang paling membutuhkan.

Inilah kondisi yang saya sebut Paradoks Indonesia. Negara kaya, namun rakyatnya masih banyak yang miskin. Kalau kita tidak hati-hati, kalau kita tidak waspada, kalau kita tidak berubah, kalau kita tidak bertindak dengan segera, situasi ini akan terus berlanjut ke arah yang lebih buruk.

Kami maju dalam pemilihan ini, karena kami percaya hal-hal ini tidak boleh terjadi di negara yang sudah merdeka. Mudah sekali untuk berkata, “Indonesia akan bertahan 1.000 tahun kedepan”.

Tapi, apakah negara yang tidak mampu membayar rumah sakit, yang tidak mampu menjamin makan untuk rakyatnya, yang tidak mampu punya militer yang kuat, dapat bertahan 1.000 tahun?

Apakah negara yang cadangan BBM nasionalnya hanya kuat untuk 20 hari, yang cadangan berasnya kurang dari 3 juta ton, dapat bertahan jika ada serangan, atau krisis keamanan? Menteri Pertahanan yang sekarang pun mengatakan, “jika perang, Indonesia hanya mampu bertahan 3 hari karena peluru kami hanya cukup untuk 3 hari perang. Ini bukan kami yang menyampaikan, tapi pemerintah sendiri.”

Kita harus ingat, persaingan antar bangsa itu keras. Sejarah peradaban manusia ribuan tahun itu keras. Jangan kita tergantung kepada bangsa lain. Jangan kita berharap bangsa lain akan baik, akan kasihan kepada kita.

Kita tidak boleh lupa rumus yang terkenal dari Thucydides, ahli sejarah yang hidup kurang lebih 50 tahun sebelum Masehi.

Hukum Thucydides mengatakan: ‘The strong will do what they can, the weak suffer what they must.’ Jadi kalau dalam bahasa Indonesia, yang kuat akan berbuat apa yang dia mampu buat, yang lemah akan menderita apa yang dia harus menderita. Ini pelajaran diajarkan di semua lembaga kajian strategis, di semua sekolah militer seluruh dunia.

Berangkat dari aneka kelemahan realitas di atas, Prabowo menekankan perlunya reorientasi pembangunan dan pengelolaan Republik Indonesia yang salah arah. Caranya, dengan melakukan orientasi ulang atas pembangunan yang selama ini tergantung pada impor dan asing oriented, ke arah kemandirian atau kedaulatan.

Reorientasi pembangunan dan pengelolaan Republik Indonesia diperlukan karena bangsa yang kokoh hanya bisa diwujudkan jika negara tersebut bisa dengan melakukan

Pertama, swasembada pangan

Kedua, swasembada energi, yaitu bahan bakar

Ketiga, swasembada air bersih

Keempat, memiliki lembaga-lembaga pemerintahan yang kuat, diantaranya sistimyudikatif, hakim-hakim yang unggul dan jujur, jaksa-jaksa yang unggul dan jujur, polisi-polisi yang unggul dan jujur, intelijen yang unggul dan setia kepada bangsa dan rakyat,

Kelima, memiliki angkatan perang yang unggul. Tentara yang kuat, tentara rakyat yang setia kepada rakyat dan bangsa. Tentara yang tidak kalah dengan tentara-tentara terbaik di dunia [bersambung]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here