Subsidi Angkutan Udara Perintis (1)

Wah,100% Uang Tiket Jadi Keuntungan Operator Penerbangan Perintis

1
170

Nusantara.news, Surabaya – Ketentuan tentang formulasi biaya operasi penerbangan angkutan udara perintis dan tarif penerbangan angkutan udara perintis, yang diatur dalam Pasal 5 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 18 Tahun 2017, menjadi dasar Menteri Perhubungan menetapkan tarif 193 rute yang disubsidi. Sayangnya, tarif yang ditetapkan bukanlah besaran nilai yang disubsidi tapi menjadi pendapatan operator penerbangan.

M. Sudaya, seorang konsultan yang biasa mengerjakan paket di Kementerian Perhubungan, menjelaskan kepada Nusantara.news, yang membedakan penerbangan komersil dengan penerbangan perintis yang disubsidi adalah kemana larinya uang tiket penumpang.

Dalam penerbangan komersil, uang dibagi antara lain untuk komisi agen, keuntungan, pajak, biaya operasional. Tapi dalam penerbangan perintis, uang tiket 100% masuk sebagai keuntungan maskapai. Subsidi diarahkan untuk biaya-biaya lain.

Biaya lain ini dibagi dua, yakni biaya langsung dan biaya tak langsung. Biaya langsung pun ada dua kategori, yaitu biaya langsung tetap dan biaya langsung variabel. Biaya langsung tetap merupakan biaya uang timbul akibat dari aktivitas pesawat udara baik beroperasi maupun tidak. Ini meliputi biaya sewa pesawat, biaya asuransi, biaya gaji crew dan teknisi. Sedangkan biaya langsung variabel meliputi biaya pelumas, biaya avtur, biaya tunjangan, biaya pemeliharaan, biasa jasa dan katering. Untuk komisi agen, dan operasional pegawai perusahaan masuk kedalam biaya tidak langsung. “Semua biaya tersebut diramu dan diolah, yang akan menghasilkan biaya operasi pesawat setiap jam” kata Sudaya, Kamis (23/03).

Untuk mengetahui besaran subsidi perlu diketahui berapa besaran biaya operasional pesawat setiap jam. Pemerintah mengaturnya dalam Permenhub 18/2017 tentang formulasi biaya operasi penerbangan angkutan udara  perintis dan tarif penerbangan angkutan udara perintis.

“Kalau mengacu kepada Peraturan Menteri 18/2017 yang ada pada lampiran I tentang formula, serta  berdasarkan survei biaya operasi penerbangan, kami menghitung biayanya antara Rp15,5 juta –Rp 16,2 juta untuk setiap jam penerbangan” jelasnya.

Lantas dia memberikan gambaran bahwa untuk mengetahui biaya operasional dan waktu perjalanan membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. “Dari harga tiap jam itu kemudian diketahui untuk setiap rute membutuhkan waktu berapa jam, dengan mengalikannya didapat biaya operasional setiap jam. Biaya operasional setiap rute diperkirakan sekitar Rp120 jutaan,” ujarnya.

Sementara itu dalam surat keputusan Dirjen Perhubungan Udara No : KP 353/2016 tentang rute dan penyenggaraan angkutan udara perintis untuk penumpang serta penyelanggara dan lokasi subsidi angkutan BBM  pesawat udara TA 2017 dinyatakan bahwa jumlah rute sebanyak 193, setiap minggu frekuensi penerbangan Pulang- Pergi (PP) sebanyak 302. Dengan demikian jumlah penumpang maksimal seminggu sebanyak 9.060 orang. []

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here