Wahid Foundation Bentuk Kampung Damai di Malang

0
155
Ilustrasi Kampung Damai (Sumber: Metro Bali)

Nusantara.news, Kota Malang – Dengan dasar nilai-nilai ajaran Abdurrachman Wahid (Gus Dur) yang merupakan Presiden ke-4 Indonesia, dengan menjunjung tinggi semangat toleransi dan kemanusiaan, Wahid Foundation (WF) membentuk tujuh kampung damai di Malang Raya. Kampung yang tersebar di Malang Raya, yakni meliputi Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu.

Project Officer Riset Kebijakan dan Advokasi WF, Siti Kholisoh menjelaskan, project tersebut sebenarnya sudah didirikan dan berjalan sejak awal Desember kemarin.  “Jadi kampung damai tersebut tersebar di Indonesia, tepatnya yakni di beberapa Kabupaten dan Kota, salah satunya di Malang,” jelas dia, Selasa (19/12/2017).

Ia menambahkan, terkait pesebaran kampung damai di Malang Raya. “Apabila di Malang Raya itu tepatnya ada di Desa Candirenggo, Desa Lawang, Desa Gunungrejo (Kabupaten Malang), Desa Sidomulyo, Desa Gunungsari, Desa Tlekung (Kota Batu), dan Kelurahan Polehan (Kota Malang),” ujarnya.

Beberapa daerah yang akan dibentuk kampung damai ini juga sudah terbentuk di Sumenep, Klaten, Solo, Depok dan Bogor. Dengan kata lain, baru tiga provinsi yang sudah memiliki kampung damai, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Secara keseluruhan terdapat 33 kelurahan atau desa dalam tiga provinsi di Indonesia yang akan dibangun sistem kampung damai tersebut.

Pembentukan kampung damai ini muncul karena berkaitan dengan program yang telah dijalankan WF sejak 2013. Program yang dimaksud, yakni penguatan inklusi sosial di kalangan perempuan. Dari situ, pihaknya menginginkan pembentukan penguatan inklusi sosial dari level bawah seperti desa.

“Agar menyentuh akar rumput, maka kami konsentrasi di level bawah, yakni di kampung dan pedesaan. Karena situasi kampung dan desa merupakan ciri khas awal bangsa. Kita harus bangun kampun dan desa dengan tetap menjaga situasi adat tradisi, jangan sampai tergeser dengan kebudayaan perkotaan yang justru akan banyak menghilangkan kebudayaan asal,” tandasnya.

Kholisoh menjelaskan terkait pentingnya pembentukan kampung damai ini tak terlepas dari survei yang dilakukan WF pada 2016. WF menemukan potensi intoleransi dan radikalisme di masyarakat Indonesia.

Sasaran yang akan dibangun sistem kampung damai yakni dengan melihat situasi masyarakat yang majemuk di suatu kampung tersebut. “Sebelumnya kita sudah assessment dan kita melihat desa itu memang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kampung damai. Minimal di kampung tersebut ada dua sampai tiga agama yang dianut warganya, selain itu juga adat latar belakang budaya yang juga berbeda pula, itu yang akan menjadi sasaran kami,” tambah dia.

Sebanyak 49 persen masyarakat Indonesia netral cenderung intoleransi sedangkan lainnya lebih pada rentan ke arah toleransinya. Terliat angka yang hampir paruh dari persentase survei yang dilakukan.

Dengan misi kemanusiaan sesuai dengan nilai-nilai Gusdur, di Wahid Institute dengan menciptakan kondisi masyarakat kampung yang toleran serta gotong-royong dalam berkehidupan dan bermasayarakat. Melalui hal tersebut akan tatanan masyarakat yang beradab atau madani.

Adapun mengenai indikator kampung damai, Kholishoh mengungkap ada sembilan aspek. Beberapa di antaranya seperti terciptanya toleransi di masyarakat dan adanya partisipasi perempuan pada pembangunan desa. Selanjutnya, terdapat penguatan ekonomi dan sistem peringatan dini di masyarakatnya serta kuatnya kerukunan agama yang lebih beragam di kampung tersebut. []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here