Wakaf Abadi Usman bin Affan

3
271
Khalifah Usman bin Affan membawa 1000 unta berisi sembako ke kota Makkah untuk dibagikan ke fakir miskin setempat sebagai hasil wakaf yang menjadi pahala jariyah yang terus mengalir hingga hari ini.

Nusantara.news, Jakarta – Ini adalah legenda yang menyejarah, tentang sahabat Rasulullah saw, yang ringan tangan, lemah lembut, dan selalu siap mendukung dakwah rasulullah. Hartanya melimpah, bahkan hingga hari ini harta itu terus mengalir sebagai amal jariyah yang tak pernah putus.

Dialah Usman bin Affan, sahabat Rasulullah saw yang mewakili kelompok konglomerat. Saat hijrah ke Madinah, hal pertama yang dilakukan Rasulullah adalah membangun masjid. Disaat terjadi keterbatasan dana, Usman bin Affan mempersilakan dananya digunakan untuk membangun masjid Madinah yang kini megah.

Saat memasuki musim perang, lagi-lagi Usman bin Affan yang menyiapkan logistik pasukan Rasulullah. Karena kemurahan hatinya sehingga Allah mudahkan rezeki Usman bin Affan.

Salah satu sejarah penting dalam dakwah Rasulullah adalah di bulan pertama masa hijrah Rasulullah bersama sahabat dari kota Makkah ke kota Madinah. Ummat Islam yang berhijrah bersama Rasul cukup banyak, bahkan dari hari ke hari semakin banyak. Mulailah datang persoalan, yakni kesulitan air bersih.

Saat di kota Makkah, ketersediaan air begitu melimpah sehingga ummat Islam seolah dimanjakan oleh berkah air zam-zam yang lebih dari cukup. Sementara sesampai di Madinah, ummat Islam praktis hanya mengandalkan air sumur yang sangat terbatas.

Sumur itu pun dimiliki oleh orang Yahudi bernama Ruma, sehingga lebih dikenal dengan Sumur Ruma. Lalu ummat Islam berusaha membeli sumur tersebut, namun Ruma hendak menjualnya dengan harga yang sangat tinggi, sehingga urunglah ummat Islam membeli. Bahkan Rasulullah sendiri menegosiasi agar sumur itu ditukar dengan kebun yang luas, tapi Ruma kembali menolak mentah-mentah tawaran itu.

Usman bin Affan membeli sumur Ruma, seorang Yahudi, senilai 20.000 dirham. Sumur itu kemudian diwakafkan dan menjadi amal abadi Usman bin Affan hingga hari ini. Dari sumur tumbuh kebun, rekening, dan hotel yang hasilnya dinisbahkan untuk ummat Islam.

Datanglah Usman bin Affan dengan talenta bisnisnya. Ia menawarkan pemilik sumur untuk berbagi air sumur dengan sistem sewa senilai 10.000 dirham. Skema sewanya, pemilik dan penyewa akan menggunakan air sumur tersebut bergantian setiap hari. Pemilik sumur merasa senang karena dia merasa tak kehilangan kepemilikannya, sementara ia juga dapat uang kas 10.000 dirham, plus ada hari dia masih bisa menjual air sumurnya.

Saat dihari penyewa berlaku, ummat Islam dengan tertib dan teratur memanfaatkan air sumur secara melimpah. Namun uniknya saat di hari pemilik sumur berlaku, tak ada yang mau datang mengambil air sumur, sehingga Ruma merasa kehilangan opportunity income yang besar.

Karena takut opportunity income-nya berkepanjangan si Yahudi Ruma pun menjual sumur itu kepada Usman bin Affan seharga 20.000 dirham (ekuivalen Rp5 miliar).

Sumur itu pun diwakafkan oleh Usman bin Affan untuk kepentingan dan kebutuhan ummat Islam. Pada masa-masa berikutnya, wakaf sumur Usman bin Affan terus berkembang. Di sekitar sumur pun ditanam 1.550 pohon kurma dan kebun kurma tumbuh subur dengan hasil terbaik.

Suatu hari, setelah penundukkan kota Makkah (futuh Makkah), Usman bin Affan membawa 1000 unta membawa penuh sembako hasil kebun dipunggungnya. Sesampai kota Makkah bawaan Usman itu ditawar sejumah distributor sembako, ada yang menawar dua kali lipat harga sembako, ada menawar lima kali lipat, bahkan 10 kali lipat.

“Usman bin Affan menolak dan mengatakan sembako itu tidak untuk dijual, tapi seluruh sembako itu diinfaqkan kepada fakir miskin di kota Makkah, sebagai bentuk perniagaanku dengan Allah SWT,” papar Ustad Maman.

Kerajaan Saudi, melalui Kementerian Pertanian, mengelola hasil kebun wakaf Usman tersebut. Uang yang didapat dari panen kurma dibagi dua; setengahnya dibagikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Sedang separuhnya lagi disimpan di sebuah bank dengan rekening atas nama Usman bin Affan.

Rekening atas nama Usman tersebut dipegang oleh Kementerian Wakaf. Dengan begitu, ‘kekayaan’ Usman bin Affan yang tersimpan di bank terus bertambah sejak 1400 tahun silam. Sampai pada akhirnya dapat digunakan untuk membeli sebidang tanah di kawasan Markaziyah (area eksklusif) dekat Masjid Nabawi.

Di atas tanah itulah, dibangun hotel bintang lima bernama Hotel Utsman bin Affan yang diambil dari uang di rekeningnya, tepat di samping masjid yang juga atas nama dirinya. Sama seperti perkebunan kurma, uang dari pendapatan hotel, setelah dibagi dengan pengelola, dibagikan pada umat miskin dan masuk ke rekening Usman.

Hotel megah bertingkat 12 lantai dimana tiap lantainya terdapat 24 kamar, sehingga total kamar mencapai 210 unit. Disamping juga disediakan 30 kamar khusus yang siap menyambut wisatawan di Madinah. Disamping berdiri hotel, di sebelahnya dibangun masjid Usman bin Affan, dilengkapi restoran besar dan 6 unit pusat perbelanjaan. Penghasilan dari sewa kamar hotel Usman bin Affan diperkirakan mencapai 50 juta riyal (ekuivalen Rp150 miliar) per tahun.

Pengelolaan penghasilan tersebut akan tetap sama. Separuhnya dibagikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Sedang separuhnya lagi disimpan di ‘rekening’ Usman bin Affan. Uniknya, tanah yang digunakan untuk membangun hotel tersebut tercatat pada Dinas Tata Kota Madinah atas nama Usman bin Affan.

Kisah sumur, hotel dan rekening Usman bin Affan itulah yang menjadi cikal bakal wakaf abadi seorang sahabat yang patut ditiru oleh ummat Islam di selurh dunia sepanjang zaman.

Dahsyatnya wakaf

Dalam hazanah Islam, ada sejumlah pilar-pilar ekonomi keumatan yang patut dikembangkan. Selain zakat, infaq, shodaqoh dan wakaf atau yang lebih dikenal dengan Ziswaf, ada lagi yang namanya wasiat dan nadzar.

Zakat, menurut Ustad Maman Nurzaman, ekonom Masjid Darussalam, Vila Nusa Indah, Gunung Putri, Kabupaten Bogor, merupakan harta yang diinfaqkan setelah memasuki nilai yang cukup dan waktu yang ditetapkan. Sehingga zakat ini dibatasi oleh jumlah dan waktu sebagai acuan.

Seperti zakat harta, jika nilainya sudah mencapai setara 85 gram emas atau ekuivalen Rp47,5 juta dan telah memasuki masa 1 tahun, maka harus dikeluarkan zakatnya, misalnya minimal 2,5%, ada juga yang menentukan besarannya 10%.

Sementara infaq, merupakan sedekah yang sifatnya materil namun tidak terikat jumlah dan waktu. Misalnya seseorang mendapat rezeki Rp100 juta, maka tidak perlu menunggu satu tahun, hari itu juga dikeluarkan infaqnya 2,5% atau 10%, tergantung mazhab yang dianut.

Sedangkan shodaqoh atau sedekah, sesuatu yang dikeluarkan sifatnya umum, tak terbatas materil, tapi tetap bernilai ibadah. Seperti menyumbang saran, tersenyum, dan nasihat. Bisa materil bisa juga non materil, jumlahnya pun bebas-bebas saja dengan waktu yang juga terserah para mushoddiq.

Lain halnya dengan wakaf. Wakaf, merupakan sesuatu yang dikeluarkan untuk kepentingan umat dan jumlahnya tidak boleh habis sampai hari kiamat. Seperti wakaf sumur, rekening dan hotel Usman bin Affan, dari segi kepemilikan tetap milik Usman, namun dari segi kemanfaatan untuk sebesar-besarnya disuguhkan untuk ummat Islam.

Hotel Usman bin Affan di Madinah, dikelola dengan manajemen wakaf. Dari hasil Rp150 miliar per tahun, 50% dibagikan untuk fakir miskin, dan 50% ditabung dalam rekening Usman bin Affan.

Selain itu masih ada wasiat dan nadzar sebagai pilar ekonomi tambahan. Dimasa khalifah Abubakar Sidik, pilar ekonomi zakat yang diprioritaskan. Bahkan Abubakar yang mengeksekusi harta orang yang tak mau membayar zakat, harta orang tersebut bisa dikuasai negara.

Di masa khalifah Umar bin Khattab mulai dikembangkan pilar ekonomi infaq dan sekedah. Sedangkan khalifah Usman bin Khattab mengembangkan pilar ekonomi wakaf. Semasa khalifah Ali bin Abi Thalib berusaha menghimpun seluruh pilar ekonomi tersebut di atas secara seimbang dalam satu manajemen yang solid.

Puncak dari kejayaan umat Islam saat kekhalifahan dipegang oleh cucu Umar bin Khattab, yakni Umar bin Abdul Azis. Pada saat itu Islam sudah menguasai dua pertiga dunia lewat penundukan yang damai. Digambarkan saat itu tak ada umat Islam yang mau menerima zakat, infaq dan sedekah karena kondisi ekonomi makmur.

Namun ketika kekhalifahan terkahir, yakni khalimah Usmani ditundukkan kaum kafir maka pilar-pilar ekonomi itu tak terkelola secara baik. Hanya yang tinggal dan abadi adalah wakaf Usman bin Affan, karena dikelola langsung oleh raja-raja Arab Saudi hingga kini.

Wakaf Usman terus berkembang, dari sumur merambah ke perkebunan kurma, lalu merambah ke rekening abadi dan belakangan masuk ke perhotelan mewah. Mungkin ke depan wakaf Usman akan melumeri seluruh hajat ekonomi umat Islam di dunia lewat aktivitas ekonomi terkini.

Semoga Allah memberi berkah dan rahmat yang besar kepada sahabat Rasulullah saw yang dermawan, Usman bin Affan.[]

3 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here