Wakil Jaksa Agung Rosenstein Siap Dipecat

0
134
Wakil Jaksa Agung AS Rod Rosenstein/ NBC News

Nusantara.news, Washington – Kepada orang-orang terdekatnya, Wakil Jaksa Agung Amerika Serikat (AS) Rod Rosenstein mengatakan siap dipecat.  Pernyataan itu muncul di tengah memanasnya suhu politik paska penggerebekan kantor, rumah, dan hotel tempat menginap pengacara pribadi Trump – Michael Cohen.

“Di sini saya berdiri, saya tidak bisa melakukan yang lain” ucap Rosenstein menirukan pernyataan Martin Luther yang legendaris itu.

Tapi persoalannya, pernyataan yang meniru gaya Martin Luther itu pernah diucapkan James Comey – mantan Direktur Federal Bureau Investigation (FBI) yang rekomendasi pemecatannya ditulis oleh Rosenstein. Pernyataan Comey itu telah masuk dalam penulisan buku biografinya yang akan segera diterbitkan.

Pembicaraan Pribadi

Sejumlah sumber yang dekat dengan Rosenstein mengabarkan pembicaraan pribadi Rosenstein dengan orang-orang dekatnya. Dalam pembicaraan pribadi itu Rosenstein sepenuhnya sadar akan kehilangan jabatannya setelah Presiden Trump melakukan kritik terbuka kepada dirinya. Namun Rod Rosenstein tidak gentar dengan itu – sebab dia merasa yakin telah menunaikan tugas penuh dengan integritas.

Mantan Direktur FBI James Comey

Rosenstein juga mengatakan – dalam percakapan pribadi dengan orang-orang dekatnya – sejarah akan membuktikan dia telah melakukan hal yang benar saat merekomendasikan pemecatan Comey pada Mei 2017 – bahkan mengklaim rakyat Amerika tidak memiliki semua fakta tentang apa yang menyebabkan keputusannya untuk menulis memo yang membuat Comey dipecat dari jabatannya.

Sumber-sumber yang sama berbicara kepada Rosenstein beberapa kali selama jabatannya sebagai Wakil Jaksa Agung di Departemen Kehakiman, dan mengatakan Rosenstein kali ini lebih tegar menghadapi isu pemecatan ketimbang di bulan Desember yang lalu – ketika Presiden Donald Trump melemparkan wacana ke publik tentang pemecatannya.

Kalangan dekat Rosenstein ini semula menggambarkan dirinya cemas dan kecewa di bawah tekanan kritik publik atas perannya dalam pemecatan James Comey – serta dijepit oleh kemarahan presiden saat menunjuk Robert Mueller sebagai Pengacara Khusus – istilah pengacara ini identik dengan kalau di Indonesia Jaksa yang mewakili kepentingan negara – untuk menyelidiki dugaan keterlibatan Rusia dalam pemenangan Donald k Trump.

Khususnya ketika awal musim panas 2017 – sekitar bulan Juli –  setelah pemecatan James Comey dan menjelang akhir tahun ketika Trump mencela Rosenstein yang terus membidiknya – orang-orang dekat Rosenstein itu menyebutkan betapa cemasnya Wakil Jaksa Agung itu yang bukan sekali dua kali menerima panggilan telepon larut malam.

Selaku Wakil Jaksa Agung – Rosenstein yang menjabat pada era dua Presiden dari Partai Demokrat dan Partai Republik – mengambil alih penyelidikan dugaan keterlibatan Rusia pada Pemilu Presiden AS 2016 setelah Jaksa Agung Jeff Sessions mengundurkan diri pada Maret 2017.

Pengunduran diri itu terjadi setelah muncul laporan adanya interaksi antara Sessions dan Duta Besar Rusia untuk Washington selama kampanye Presiden AS 2016. Session mengatakan,  dia mengundurkan diri untuk menghindari terjadinya konflik kepentingan karena dia bekerja dalam tim kampanye Presiden Donald Trump selaku senator AS ketika itu.

Apabila Rosenstein dipecat di lapis berikutnya pejabat Departemen Kehakiman yang akan mengawasi penyelidikan Mueller adalah Noel Francisco yang sekarang menjabat Inspektorat Jenderal – meskipun Trump bisa memilih pejabat yang menggantikan Rosenstein dengan siapa pun tokoh yang disetujui oleh Senat AS.

Trump berkicau lewat akun Twitter pada Rabu Legi (11/4) kemarin lusa – seolah memanfaatkan konflik terbuka antara Rosenstein dan Comey – dengan kalimat: “Rosenstein mungkin lebih berkonflik ketimbang Mueller karena dia ‘menandatangani FISA dan surat Comey” – mengacu pada otorisasi untuk pengawasan mantan tim kampanye Trump Carter Page serta memo pemecatan James Comey.

Alan Dershowitz – seorang advokat kasus-kasus pidana kejahatan yang kini menjadi tim pembela Donald Trump dalam kasus penyelidikan Mueller menuturkan Rosenstein harus mundur dari posisinya untuk mengawasi investigasi Rusia karena dia adalah saksi dari masalah yang diselidiki – seperti keterlibatan dirinya dalam pemecatan Comey dan mantan kepala strategi Tim Kampanye Trump Steve Banon – untuk itu dia minta Presiden Trump memecat Rosenstein pada pekan ini.

Departemen Kehakiman dan Rosenstein menolak berkomentar atas percakapan pribadi wakil Jaksa Agung itu yang tersebar luas ke publik.

Surat Untuk Kongres

Tingkat kepedulian para mantan pejabat yang pernah berkarir di Departemen Kehakiman begitu tinggi atas ancaman pemecatan yang kini dihadapi oleh Rosenstein. Dalam tempo 24 jam terakhir tercatat sedikitnya ada 100 mantan pejabat karir di Departemen Kehakiman AS mengorganisasikan sebuah pernyataan yang disampaikan kepada Kongres AS untuk bersiap mengambil tindakan.

Para pejabat itu umumnya pernah bertugas di bawah pemerintahan Republik maupun Demokrat – termasuk mantan Jaksa AS John McKay dari Washington dan Kevin Techau dari Iowa. “Banyak dari kami yang melani (penegakan hukum) bersama Robert Mueller dan Rod Rosenstein,” kata pernyataan yang rilisnya diterima oleh NBC News.

“Kami tahu orang-orang yang melayani di Departemen akan dengan berani menghadapi serangan-serangan ini dan terus menegakkan sumpah mereka dengan hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh hukum,” lanjut pernyataan itu.

“Tetapi terserah kita semua, dan terutama wakil-wakil kita yang terpilih, untuk dapat membela mereka dan menentang setiap upaya oleh Presiden atau orang lain untuk secara tidak pantas ikut campur dalam pekerjaan Departemen, termasuk dengan memecat Mr. Mueler, Mr. Rosenstein atau pimpinan atau pejabat Departemen lainnya untuk mencampuri penyelidikan mereka,” himbau pernyataan itu.

Lebih lanjut pernyataan yang ditujukan ke Kongres juga disertai peringatan dengan kalimat: “Jika Presiden mengambil langkah seperti itu, kami meminta Kongres untuk dengan cepat dan tegas menanggapi untuk melindungi prinsip-prinsip pendirian Republik kita dan aturan hukum.”

Pernyataan para pensiunan Departemen Kehakiman AS itu tidak bisa dianggap main-main. Karena mereka dapat dianggap mewakili suara-suara non-partisan dari komunitas penegak hukum di AS – baik yang masih aktif bertugas maupun yang sudah pensiun. Di samping komunitas penegak hukum ada lagi komunitas intelijen yang khawatir dengan masa depan AS di bawah Trump.

Amarah Trump

Paska penggerebekan terhadap pengacara pribadinya, Trump memang terlihat marah dan menganggap penggerebekan itu sebagai ancaman terhadap negara. Untuk itu lewat pengacaranya Trump mendesak agar dokumen-dokumen yang melindungi hak-hak istimewa antara pengacara dan klien tidak tersebar luas ke publik.

Trump marah

Hal itu diakui oleh Jaksa Joanna Hendon – kini masuk dalam tim penasehat hukum Donald Trump – yang sempat “ditahan” oleh presiden pada Rabu malam dan mengatakan Trump memiliki “minat yang akut dalam masalh ini”.

Di hadapan seorang hakim federal di New York, pada Jumat Pon (13/4) pengacara pribadi Trump, Michael Cohen berpendapat beberapa dokumen yang disita dari Cohen selama penggerebekan FBI pekan ini dilindungi oleh hak istimewa pengacara-klien. Hakim Distrik AS Kimba Wood yang menangani perkara ini menunda sidang hingga pukul 14.00 waktu setempat (East Time/Waktu Amerika Serikat Bahian Timur).

Agen-agen federal pada Senin Wage (9/4) lalu menyita dokumen dan sejumlah perangkat komputer saat menggerebek kantor, rumah dan kamar hitel Cohen – mencari informasi bukti-bukti alur pembayaran untuk bintang film porno Stephanie Clifford yang tampil dengan nama samara Stormy Daniels sesaat sebelum pemlihan Presiden November 2016 lalu.

Pembayaran itu sebagai kompensasi agar Daniels tidak lagi berkoar tentang perselingkuhannya dengan Trump yang berdasarkan pengakuannya terjadi pada 2006 lalu. Gedung Putih dan Cohen membantah klaim itu.

Penggerebekan dilakukan oleh agen FBI dan jaksa federal dan berkoordinasi dengan tim penasehat khusus Robert Mueller setelah mendapatkan rujukan dari lembaga ad hoc yang dipimpin Mueller. Michael Avenati – pengacara Daniels yang turut hadir pada persidangan hari Jumat Pon menerangkan: “Kami memiliki setiap alasan untuk percaya bahwa beberapa dokumen yang disita berhubungan dengan klien saya.”

Penggerebekan itu memang membuat Trump sangat marah. Kosa kata yang bila diterjemahkan ke Indonesia berarti aib diucapkan sekitar 9 kali. Dia pun kembali menegaskan pandangannya tentang Mueller yang disebutnya “perburuhan penyihir”. Orang-orang dekat Trump juga menimpali kemarahan bosnya agar segera memecat Rosenstein dan Mueller yang mengusik ketenangannya berkuasa.

Tapi pemecatan Mueller dan Rosenstein bukan hal yang sederhana bagi Trump. Karena selain berhadapan dengan komunitas penegak hukum Trump juga harus menghitung kekuatannya di Kongres. Di Majelis Tinggi (Senat) dan Majelis Rendah (DPR) Partai Republik memang mayoritas – tapi tidak semua Republikan mendung Trump.

Sekali salah mengambil keputusan lewatlah dia. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here