Amnesti Pajak Berakhir, Saatnya Law Enforcement (1)

Walau Target Meleset, Indonesia Jadi Contoh Negara Lain

0
45
Direktur Jendral Pajak Ken Dwijugiasteadi (kiri) didampingi Kepala Sub Direktorat Hubungan Masyarakat, Saksama Ani Natalia memberikan keterangan pers di Kantor Ditjen Pajak. Jum'at (31/3). ANTARA FOTO/Atika Fauziyyah/pd/17.

Nusantara.news, Jakarta – Selama Sembilan bulan (sejak Juli 2016), Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan menjalankan program tax amnesty atau pengampunan pajak. Jumat lalu, 31 Maret 2017, berakhir sudah masa berlakunya bagi wajib pajak. Sebelumnya, pemerintah sudah mengingatkan masyarakat, bahwa tax amnesty akan menjadi kesempatan terakhir bagi wajib pajak (WP) sebelum upaya penegakan hukum (law enforcement) diberlakukan.
Dengan ditutupnya pengampunan pajak pada 31 Maret 2017 pukul 00.00 WIB, masa pengampunan pun selesai. Namun, uang tebusan yang terkumpul dari tiga periode penyelenggaraan tax amnesty baru mencapai 81,8% atau sebesai Rp 135 triliun. Berdasarkan realisasi Surat Setoran Pajak (SSP), angka tersebut masih rendah Rp 30 triliun atau sekitar 18,18% dari target Rp 165 triliun.
Berdasarkan data Dirjen Pajak (DJP) Kementerian Keuangan, untuk harta deklarasi telah mencapai Rp4.855 triliun, yang didapat dari dalam negeri dan juga repatriasi. Deklarasi dalam dan luar negeri ini, telah melampaui target sebesar Rp4.000 triliun atau 121,37%.
Berdasarkan Surat Pernyataan Harta (SPH), adapun total uang tebusan yang masuk sebesar Rp 112,9 triliun dari total 921,744 peserta. Angka tersebut bersumber dari peserta orang pribadi sebanyak 703.024 peserta dengan uang tebusan Rp 98 triliun dan 218.720 peserta badan yang berhasil mendapatkan uang sebesar Rp 14,9 triliun. Orang pribadi memiliki dua segmen peserta. Pertama, peserta orang pribadi UMKM berhasil terkumpul Rp 7,6 triliun dari 303.579 peserta dan dari segmen orang pribadi non UMKM berhasil mengumpulkan sebanyak Rp 90,4 triliun dari 399.445 peserta.
Untuk segmen Wajib Pajak Badan, terdiri dari badan UMKM yang berhasil meraup Rp600 miliar dari 98.975 peserta, sedangkan dari segmen badan non UMKM berhasil terkumpul Rp14,3 triliun didapat dari 119.745 peserta.
Sementara untuk harta deklarasi telah mencapai Rp4.855 triliun, yang didapat dari dalam negeri dan juga repatriasi. Deklarasi dalam dan luar negeri ini, telah melampaui target sebesar Rp4.000 triliun atau 121,37%.
Jika lewat dari tanggal tersebut, maka harta yang belum dideklarasikan tersebut akan dikenai objek pajak atau dikenakan denda sebesar 2 persen per bulan selama 24 bulan atau sebesar 48 persen.
Sedangkan jika ikut tax amnesty, deklarasi dalam negeri dan repatriasi harta dari luar negeri, tarifnya sebesar 5 persen, sedangkan untuk deklarasi luar negeri mencapai 10 persen.
Adapun tarif untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tarifnya sebesar 0,5 persen untuk harta di bawah Rp 10 miliar dan 2 persen untuk harta di atas Rp 10 miliar.
Direktur Penyuluhan, Pelayanan dan Hubungan Masyarakat Ditjen Pajak Hestu Yoga Saksama mengatakan, hingga saat ini ada 801 ribu wajib pajak yang mengikuti tax amnesty.
“Data kami kemarin sudah ada 801 ribu wajib pajak yang ikut tax amnesty di seluruh Indonesia. Kecenderungannya meningkat terus,” ujar Hestu di Gedung Mar’ie Muhammad, Kantor Pusat Ditjen Pajak, Gatot Subroto, Jakarta, Sabtu (25/3).
Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, jumlah harta deklarasi terhitung cukup besar. Bahkan, ada yang memanfaatkan waktu di saat-saat terakhir. Sri menilai, kepatuhan wajib pajak masih tetap minim. Hal ini merupakan pekerjaan rumah bagi pemerintah. Dia sendiri mengaku, karena belum tercapai sehingga belum cukup membuat dirinya tenang.
Menurut pengamat pajak Darussalam, meskipun terhitung masih meleset, capaian hasil tax amnesty patut diapresiasi, mengingat pelaksanaan amnesti pajak di Indonesia tergolong sukses jika dibandingkan negara lain. Program amnesti pajak ini termasuk sukses di dunia. bahkan, dalam suatu konferensi di London, salah satu pembicara dari Singapura menyatakan amnesti pajak di Indonesia dapat dijadikan model dunia.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here