Wapres AS Kunjungi Istiqlal, Cuci Nama Buruk Trump

0
201
Wapres AS Michael R Pence dengan Imam Besar Masjid Istiqlal Nazaruddin Umar ketika mengunjungi Masjid Istiqlal di Jakarta, Kamis (20/4). Foto: Antara

Nusantara.news, Jakarta – Wakil Presiden Amerika Serikat Michael Richard Pence yang tiba di Jakarta Rabu malam (19/4) tampaknya memikul misi berat dari bosnya, Donald Trump. Selain menegosiasikan penguasaan Freeport McMoran di tambang Freeport, Pence juga mesti membersihkan nama Trump yang teramat buruk di dunia Islam. Karena Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, jelas Jakarta merupakan titik awal yang bagus untuk mencuci citra Moghul –nama sandi Trump di lingkungan Secret Service.

Nama Trump rusak karena kebijakannya yang dianggap anti-Islam. Misalnya, dia telah menandatangani perintah eksekutif yang melarang masuknya warga negara dari tujuh negara Islam selama 90 hari, yakni Iran, Irak, Libia, Somalia, Sudan, Suriah dan Yaman. Kebijakannya ini memancing reaksi negatif dari seluruh dunua. Demonstrasi menentang kebijakan rasialis itu tidak bahkan juga marak di berbagai kota di Amerika Serikat.

Nah, wajah buruk Trump itulah yang harus dicuci oleh Mike Pence dalam kunjungan resmi pertamanya sebagai Wapres ke luar negeri. Buktinya, di Asia Tenggara hanya Indonesia yang dikunjunginya, 20-21 April ini. Negara lain adalah sekutu dekat AS, yaitu Korea Selatan, Jepang, dan Australia.

Dubes AS untuk Indonesia, Joseph R Donovan, mengatakan komitmen negaranya terhadap Indonesia bisa terlihat dari kunjungan Pence. “Indonesia adalah negara mitra strategis AS. Sebab, dari empat negara, Indonesia satu-satunya negara di Asia Tenggara yang akan dikunjungi Pence,” ujarnya di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, Selasa (11/4) silam.

Makanya, setelah Pence bertemu Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, mantan Gubernur Negara Bagian Indiana ini langsung mengajak keluarganya mengunjungi Masjid Istiqlal. Mereka melepas sepatu sebelum masuk masjid, dan berkeliling dipandu Imam Besar Istiqlal, KH Nazaruddin Umar. Pence menyatakan penghargaan pada Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim yang moderat. “Islam moderat di Indonesia memberikan inspirasi pada dunia. Dan kami bersyukur atas inspirasi yang diberikan Indonesia kepada dunia,” demikian pujinya.

Kunjungannya ke masjid terbesar di Indonesia itu tentu saja diapresiasi sejumlah tokoh Islam. Ketua Umum MUI, K.H. Ma’ruf Amin, misalnya, mengharapkan kunjungan itu bisa mengubah pandangan AS tentang Islam. “Setidaknya berubah dari pendirian bahwa mereka tidak menyukai Islam,” ujar Maruf, dikutip AFP.

Mengunjungi Masjid Istiqlal seperti menjadi acara wajib bagi pemimpin negara adikuasa itu setiap bertamu ke Indonesia. Pendahulu Trump, Presiden Barack Obama dan Michelle Obama juga menyempatkan diri untuk berkunjung ke Masjid Istiqlal, pada bulan November 2010. Waktu itu itu dia dipandu oleh Imam Besar Istiqlal K.H. Ali Mustafa Yaqub (almarhum).

Presiden Obama di Istiqlal, November 2010.

Tetapi, kunjungan Pence ke Masjid Istiqlal itu belum tentu dapat mengubah wajah negerinya, terutama Donald Trump, di mata dunia Islam. Kunjungan seremonial itu bisa terkesan hanya basa-basi belaka, jika kebijakan politik luar negeri Washington tidak berubah terhadap Islam.

Indikator perubahan itu mudah terlihat. Indikator paling mendasar adalah apakah AS masih menggeneralisasi antara gerakan fundamentalis di negera tertentu yang kebetulan pelakunya beragama Islam dengan Islam sebagai agama. Generalisasi gebyah-uyah inilah yang  membuat AS menganggap terorisme adalah bagian dari Islam. Padahal, Islam sebagai agama damai, tidak mengajarkan aksi kekerasan yang brutal tersebut.

Juga, apakah akan ada perubahan signifikan dalam politik AS yang sejak dulu menerapkan standard ganda di Timur Tengah. Tentang ini, Presiden Indonesia (waktu itu) Megawati pernah mengingatkan. Ketika berpidato di depan Sidang Majelis Umum PBB di New York, 23 September 2003, Megawati mengatakan,  agar negara-negara yang warganegaranya menjadi sasaran terorisme internasional, meninjau kembali kebijakan mereka, khususnya dalam menangani konflik Arab-Israel.

“Sebagai Kepala Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, saya berharap perlakuan yang lebih adil serta tidak memihak kepada salah satu pihak yang bertikai di kawasan tersebut. Jika negara-negara besar bisa bersikap lebih adil, sebagian besar akar terorisme sudah bisa diatasi,” ujar Megawati ketika itu.

Jika AS di bawah Trump tidak bisa melakukan perubahan cara pandang politik luar negeri secara mendasar, maka Mike Pence hanya sekadar bersusah payah membuka sepatu saja di Masjid Istiqlal.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here