Wapres AS Tegaskan Komitmen NATO dan UE, Eropa Belum Yakin

0
73
Wapres AS Mike Pence berbicara denngan PM Belgia Charles Michel di akhir pertemuan dengan para pemimpin UE dan NATO di Brussels. (Foto: AFP)

Nusantara.news, Brussels – Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence berupaya meredakan ketegangan antara ‘sang bos’ dengan komunitas Eropa. Komentar nyinyir Presiden Donald Trump soal NATO yang dianggap “usang”, dan UE sempat membuat Eropa berang. Namun agaknya Pence kurang berhasil meyakinkan mereka. Brussels gagal mengusir kecurigaannya terhadap Washington.

Wakil Presiden AS, Mike Pence, menemui para pemimpin NATO dan Uni Eropa pada Senin (20/2) di Brussels, Belgia, untuk memastikan dukungan Presiden Donald Trump terhadap dua komunitas itu.

Selain Komisaris Luar Negeri UE, Federica Mogherini, Pence juga bertemu dengan Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker dan Sekretaris Jendral NATO Jens Stoltenberg.

Kunjungannya ke Brussels dilakukan seusai dia menghadiri Konferensi Keamanan di München. Di sana Pence menegaskan bahwa Amerika Serikat akan tetap menjadi sekutu terbesar Uni Eropa.

“Presiden Trump dan bangsa Amerika Serikat tetap setia pada ikatan transatlantik,” kata Pence di hadapan komunitas Eropa.

Sikap Donald Trump sebelumnya, yang kritis terhadap NATO dan dukungannya terhadap Brexit, bahkan mendorong negara lain di Eropa untuk meniru Iggris, sempat memicu kekhawatiran di Brussels. Pence bertugas memadamkan “kebakaran” yang sudah dibuat oleh Donald Trump di Eropa.

Pence misalnya menegaskan akan terus menekan Rusia untuk menghormati perjanjian gencatan senjata di Ukraina. Sebelumnya, Menlu AS Rex Tillerson juga mengatakan Washington hanya akan bekerja sama dengan Rusia jika menguntungkan rakyat AS.

Berhasilkah Pence meyakinkan publik dan para pemimpin Eropa?

Sejumlah pemimpin Eropa tetap skeptis apakah Pence atau menteri cabinet Trump yang lain, benar-benar berbicara untuk Presiden Trump. Mereka tidak mau dengan mudah hanyut dengan pernyataa-pernyataan ppresiden Amerika yang “lincah” itu.

“Kami sedang menunggu tindakan,” kata Presiden Polandia Andrzej Duda.

“Kami hanya tahu apa yang telah media laporkan dan laporan yang kami punya sendiri. Sekarang kita menunggu tindakan pemerintah AS yang baru, Donald Trump,” katanya sebagaimana dilansir AP, Senin (20/2).

Negara-negara Eropa di sepanjang perbatasan dengan Rusia dibuat bingung dengan masa depan hubungan AS-Rusia. Khususnya, setelah Trump silang pendapat dengan Kanselir Jerman Angela Merkel dan para pemimpin dunia lainnya terkait sanksi yang dikenakan pada Rusia atas intervensinya di Ukraina dan kesepakatan senjata nuklir.

Beberapa hari menjelang pelantikannya sebagai presiden pada Januari lalu, dalam sebuah wawancara Trump menyebut NATO sebagai organisasi yang telah “usang”, meskipun dia tetap menyatakan bahwa aliansi 28 negara itu tetap penting baginya.

Dalam perjalanan pertamanya ke luar negeri sebagai wakil presiden, Pence mencoba untuk menghilangkan sejumlah keraguan negara-negara Eropa di Munich.

Michael Chertoff, mantan Menteri Keamanan Dalam Negeri AS era Presiden George W. Bush mencatat, komentar Pence sejalan dengan jaminan yang diberikan oleh Menteri Pertahanan AS Jim Mattis selama pertemuan NATO di Brussels akhir pekan lalu.

“Mereka semua konsisten tentang fakta bahwa ada komitmen yang kuat, mendalam dan abadi terhadap Eropa dan NATO, dan saya pikir pesan itu telah diterima,” kata Chertoff.

Di hari yang sama, Menhan Mattis berada di Brussels. Menlu AS Rex Tillerson yang juga bertemu dengan rekan Rusia-nya di Bonn, Jerman, mengatakan bahwa Rusia harus mematuhi kesepakatan 2015 untuk mengakhiri pertempuran antara pasukan Ukraina dan separatis Rusia yang didukungnya di Ukraina Timur.

Namun demikian, apakah Trump akan melakukan tindakan yang sesuai dengan apa yang dikatakan wakilnya? Inilah yang masih menjadi masalah Konferensi Keamanan di Munich.

Jeff Rathke, pengamat senior di Pusat Studi Strategis dan Internasional di Washington  mengatakan bahwa pernyataan Pence kemungkinan besar bisa meyakinkan Eropa, apalagi diafirmasi secara jelas oleh Mattis dan Tillerson.

“Tapi semua orang menyadari, ini masih bersifat tentatif sampai ditegaskan kembali oleh Presiden Trump dalam kata-katanya sendiri,” kata Rathke dalam sebuah email, sebagaimana dilansir AP.

Di tengah keraguan kalangan Eropa, Menlu Prancis Jean-Marc Ayrault mengaku “terpukul” ketika Pence menghindar untuk membahas Uni Eropa. Prancis sebelumnya mengecam Washington setelah Trump menyatakan dukungan bagi Brexit dan berharap negara Uni Eropa lain mengikuti langkah Inggris.

Komisaris Luar Negeri UE Mogherini sempat mewanti-wanti agar Trump tidak “mencampuri” urusan Eropa ketika berkunjung ke Washington dua pekan silam. Namun kunjungan Pence dinilainya sebagai “isyarat politik yang sangat penting”. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here