Warga AS Khawatir, Serbuan Pensiunan Cina Lambungkan Harga Properti

0
463
Cina terancam menghadapi krisis demografi karena masyarakatnya yang menua. Menurut PBB, diperkirakan akan ada sekitar 360 juta warga Cina yang usianya di atas 60 pada 2030

Nusantara.news, Washington DC – Banyaknya warga Cina yang ingin pensiun di luar negeri dibidik pengembang sebagai peluang bisnis. Tapi warga AS khawatir kehadiran mereka  melambungkan harga properti.

Mika Sun (35), seorang pegawai Insinyur jaringan yang bekerja di perusahaan telekomunikasi Shanghai searcing data properti di luar negeri. Dia mencari tempat tinggal untuk kedua orang tuanya. Sejumlah persyaratan pun ditulisnya.

Fasilitas kesehatan tentu harus memadahi. Begitu juga lingkungan masyarakat yang aman dan bersih. Lebih dari itu, properti yang ditawarkan harus menjadi investasi yang bagus, di harga yang sanggup dibayar oleh Sun.

Rumah hari tua dengan deretan pohon palem dan langit yang cerah itu tapi tidak di Cina. Seperti banyak warga Cina lain yang rajin berkelana, Sun menemukan lokasi impiannya itu di Irvine, California, sebuah kota di Amerika Serikat yang letaknya sekitar 60km lebih di tenggara Los Angeles.

Maka dia membeli sebuah townhouse untuk orangtuanya, dan dalam beberapa tahun, ketika dia mendapat visa AS, dia berencana pindah ke sana untuk bekerja dan orangtuanya akan ikut dengannya.

Orangtua Sun, yang keduanya berusia 60an, mungkin akan mudah menyesuaikan diri dengan rumah mereka yang baru dan asing. Banyak teman-teman Sun di Shanghai yang membeli properti di Irvine buat orangtua mereka, sehingga orangtua Sun akan bisa bersosialisasi dengan dialek Shanghai mereka.

Irvine, California

Kota Irvine, California yang dibidik Sun untuk hari tuanya / Foto : BBC

Memang, Cina terancam menghadapi krisis demografi karena masyarakatnya yang menua. Menurut PBB, diperkirakan akan ada sekitar 360 juta warga Cina yang usianya di atas 60 pada 2030 — seperempat dari populasi total mereka dan melebihi jumlah penduduk yang ada di AS.

Dengan sumber daya yang terbatas untuk merawat populasi yang menua, dan kekhawatiran akan pertumbuhan ekonomi Cina, warga Cina yang kaya semakin mencari properti pensiun di luar negeri — untuk orangtua mereka dan untuk mereka sendiri.

Tahun emas di luar negeri

“Kami ditanya oleh generasi yang lebih muda, ‘Apakah ada desa pensiunan di dekat sini?'” kata Charles Pittar, CEO Juwai.com, situs real-estat yang mendaftar properti internasional bagi pembeli asal Cina.

“Tapi kami juga mendapat pertanyaan dari warga Cina senior yang sudah melewati ledakan properti yang cukup signifikan, mereka mendapat banyak keuntungan dan ingin pensiun di tempat yang bersih, nyaman, aman, dan tentunya punya fasilitas kesehatan yang baik.”

Dalam beberapa tahun terakhir, seiring dengan meroketnya harga properti di Cina dan yuan yang terus menurun nilainya terhadap dolar, investor Cina semakin banyak membawa uangnya ke properti di luar negeri untuk menjaga nilai kekayaan mereka.

Mengutip data Knight Frank Research, total investasi Cina di real estat komersil dan perumahan asing naik dari $5,6 miliar (sekitar Rp70 triliun) pada 2012 menjadi $34,4 miliar (Rp450 triliun) tahun lalu..

Dan menurut survei 2016 terhadap penduduk kaya Cina yang sudah berimigrasi atau memikirkan untuk pindah ke luar negeri, 60% mengatakan bahwa mereka akan membeli properti di luar negeri dalam tiga tahun ke depan, dan AS, Inggris, serta Kanada dan Australia menjadi tujuan utama.

Lebih dari separuh menyatakan khawatir akan terus merosotnya nilai yuan.

Juwai tak mencatat secara spesifik investasi pensiun dari kliennya, namun satu indikator penting akan besarnya pasar ini adalah peningkatan dalam perjalanan ke luar negeri oleh pasangan senior Cina dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut laporan Citi pada Oktober lalu, turisme menuju ke luar negeri oleh warga senior Cina naik 217% pada 2015 dibandingkan tahun sebelumnya, dan turis senior kini adalah 20% dari semua turis di Cina.

Dan karena grup ini semakin nyaman dengan melakukan perjalanan, maka menetap di suatu tempat yang asing pun menjadi tak semenakutkan dulu.

“Beberapa waktu lalu, kami melakukan tur konsumen Cina di Canberra (ibu kota Australia),” kata Pittar.

“Dan salah satu anggota keluarga yang senior mengatakan, ‘Wah, ini tampak seperti tempat yang menyenangkan untuk pensiun.'”

Bagi banyak warga Cina, sikap mereka tentang pensiun juga ikut berubah saat mereka menjadi kaya dan mandiri.

Survei lain tentang rencana pensiunan yang diadakan tahun ini oleh Taikang Insurance dan Hurun Report, menunjukkan bahwa warga Cina kaya mengharapkan untuk menjalani hidup yang lebih penuh dan menyenangkan pada masa emas mereka.

Sebagian besar dari mereka menyatakan bahwa layanan kesehatan serta standar kehidupan kualitas tinggi, lingkungan yang bagus dan cuaca yang baik juga menjadi kewajiban bagi para pensiunan ini, dan hanya separuh yang mengharapkan ‘sering melakukan perjalanan’ untuk “memperluas wawasan”.

Dan meski sebagian besar mengatakan mereka ingin pensiun di kampung halaman, namun lebih dari sepertiga memilih tujuan “perjalanan atau liburan” seperti pulau resor Hainan di Cina selatan — tempat yang lebih santai dan cerah daripada banyak kota-kota Cina.

Serbuan Kakek Nenek Cina

Pengembang properti sudah berharap mendapat keuntungan, terutama di negara-negara yang dianggap menarik oleh warga senior Cina, yaitu Australia, Kanada dan AS.

Aust-China Group, sebuah pengembang perumahan yang berbasis di Melbourne yang menyasar pembeli Cina, sudah melihat adanya peningkatan dalam investasi pensiunan Cina dalam beberapa tahun terakhir, dan sudah secara khusus melayani komunitas ini dengan membantu warga senior beradaptasi dengan kehidupan setempat.

Melbourne, Australia

Zheng Mingyue, direktur pemasaran perusahaan tersebut, mengatakan bahwa karyawan mereka bisa menemani warga senior ke rumah sakit, jika diperlukan, atau membantu mendirikan usaha.

Satu layanan lagi yang ditawarkan perusahaan ini juga populer di kalangan pensiunan: bibit gratis untuk menanam sayuran dan bunga di kebun mereka dan bibit pohon untuk di halaman belakang, sebuah keistimewaan bagi mereka yang terbiasa tinggal di apartemen di kota-kota padat penduduk di Cina.

Bagi pensiunan Cina, Zheng memberi keunggulan yang sama soal Australia dengan faktor yang membuat California menarik untuk keluarga Mika Sun — udara bersih, cuaca yang hangat, sistem layanan kesehatan yang bagus dan layanan publik bagi warga senior. Sistem pendidikan di negara itu juga menjadi faktor menarik lainnya, katanya.

“Yang menarik adalah mereka memikirkan soal generasi ketiga — mereka ingin cucu mereka lahir dan belajar atau hidup di Australia,” katanya.

Menurut laporan media Australia, perusahaan properti Cina Poly Real Estate juga menyasar pasar pensiunan dengan rencana jaringan perumahan khusus senior untuk anggota sehingga warga senior Cina bisa menghabiskan sebagian dari tahun-tahun mereka di Sydney atau Los Angeles, tapi juga tetap mempertahankan rumah mereka di Cina.

Dan di AS, menurut laporan media setempat, kelompok investor Cina lainnya sudah membeli pabrik berusia seabad di Maine dan berencana mengubahnya jadi resor kesehatan dan kecantikan bagi pensiunan kaya Cina dan turis kesehatan, meski pembangunan belum mulai.

Negara-negara Asia Tenggara, yang sudah sejak lama populer di kalangan pensiunan Jepang dan Korea, juga mulai menarik minat pensiunan Cina.

Jaringan agen Cina dan internasional di Juwai.com Agent Summit di Shanghai.

Program “My Second Home” di Malaysia menawarkan visa 10-tahunan yang bisa diperbarui untuk siapapun yang berusia di atas 50 tahun dan memiliki simpanan $33.700 (Rp400 juta lebih) atau dengan pensiun bulanan $2.250 atau hampir Rp30 juta.

Thailand punya program serupa, yaitu visa yang berlaku setahun dan bisa diperbarui bagi pensiunan di atas usia 50 yang menyimpan $22.300 atau sekitar hampir Rp300 juta, sementara Filipina membuka pintunya bagi mereka yang ingin pensiun lebih awal, usia pensiun minimalnya adalah 35 tahun dan simpanan yang dibutuhkan hanya $20.000 atau Rp250 juta lebih.

Filipina berharap kedatangan warga Cina senior (atau mungkin paruh baya) bisa melipatgandakan jumlah pensiunan asing yang tinggal di negara itu menjadi 100.000 orang pada 2020.

Kini, warga senior Cina sudah melebihi jumlah warga Jepang dan Korea yang mengikuti program pensiunan di luar negeri ini.

Hambatan budaya

Namun meski banyak warga senor Cina yang semakin mandiri dan tak mau menjadi beban bagi anak mereka yang sudah dewasa, masih ada hambatan budaya yang mencegah mereka pensiun sendiri di luar negeri, kata Daniel Lai, profesor kerja sosial dan gerontologi di Hong Kong Polytechnic University dan direktur sekolah Institute of Active Ageing.

Beberapa mengatakan bahwa mereka kesulitan dengan bahasa dan budaya di negara yang baru, sementara yang lain merasa enggan untuk meninggalkan lingkaran sosial mereka di Cina. Mungkin hambatan terbesar adalah meninggalkan anak-anak mereka, kata Lai.

Keluarga

“Sangat jarang Anda melihat sepasang warga senior Cina yang pindah ke luar negeri sendiri untuk pensiun,” katanya. “Mereka suka melakukan perjalanan untuk melihat-lihat, tapi saya tak yakin ada banyak yang akan memilih untuk tinggal di luar negeri sendiri karena mereka ingin dekat dengan anak mereka, mereka mau dekat dengan cucu mereka.”

Menurut Lai, jauh lebih umum terlihat orangtua pindah ke luar negeri untuk pensiun bersama anak mereka dan memilih untuk menetap jika anak mereka kembali ke Cina untuk bekerja. “Mereka ragu kembali ke Cina karena mereka terbiasa, mereka mendiri, mereka sehat,” katanya.

Mika Sun mengatakan orangtuanya tak terlalu tertarik tentang rencana pindah ke California, meski dia akan mendampingi orangtuanya. Namun dia merasa orangtuanya akan berubah pikiran ketika mereka tiba.

“Dari sisi emosional, mereka akan merindukan (Cina),” katanya. “Tapi, meminjam puisi oleh (penyair Cina) Su Tung-po, ‘Di mana hati saya merasa aman dan damai, adalah kampung halaman saya.'”

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here