Warga Dunia tak Lagi Percaya Media, Ini Hasil Surveinya

1
414
Tingkat kepercayaan warga dunia terhadap media mainstream tinggal 40 persen, tapi itu lebih baik ketimbang tingkat kepercayaan terhadap media sosial yang hanya 20 persen sebagaimana dilaporkan oleh Digital News Report, Kamis (22/6) kemarin.

Nusantara.news, Jakarta – Kini sebagian besar warga dunia tidak lagi percaya kepada media, baik mainstream dan apalagi media sosial. Demikian kajian terbaru Digital News Report yang diterbitkan Lembaga Kajian Jurnalistik Kantor Berita Reuters (Reuters Institute for the Study Journalism) pada Kamis (22/6) kemarin.

Mengutip hasil jajak pendapat Digital News Report di 36 negara, tercatat sekitar 33 persen responden sama sekali tidak percaya kebenaran sebuah berita. Tingkat kepercayan warga dunia terhadap media mainstream tinggal 40 persen. Media sosial lebih parah lagi, hanya dipercaya oleh 24 persen responden.

Umumnya mereka tidak percaya bahwa media telah melakukan tugasnya dengan baik, mampu memisahkan antara fakta dan fiksi/ilusi. “Kendati media mainstream sudah tidak dipercaya, namun mereka masih mampu menjaga tingkat kepercayaan dua kali lebih besar ketimbang media sosial,” terang laporan itu.

Bahkan warga di sejumlah negara, seperti Inggris dan Amerika Serikat memiliki kecenderungan tingkat kepercayaan yang jauh lebih besar kepada media mainstream ketimbang media sosial. Sebaliknya, warga Yunani umumnya justru lebih mempercayai media sosial ketimbang media mainstream.

Kajian itu juga membuat analisis, banyaknya berita bohong di media sosial adalah kabar baik bagi jurnalisme. Sebab itu sebagai kesempatan membangun kembali nilai-nilai penting dari jurnalisme yang sekarang cenderung abai terhadap akurasi dan kembali kepada kualitas.

Dengan banyaknya berita bohong, tulis laporan itu, orang akan rela membayar mahal untuk mendapatkan berita dari media yang dapat dipercaya. Sekarang ini tercatat 16 persen warga Amerika Serikat rela merogoh kocek untuk berlangganan berita. Padahal sebelumnya hanya 9 persen. Gejala itu juga akan menjadi kecenderungan di negara lain.

Memang, sebagian besar kalangan muda masih lebih memilih berita gratisan. Tapi berdasarkan penelitian tahunan Reuters ditemukan fakta menarik, bahwa 35 persen konsumen berita dari kalangan muda di seluruh dunia bersedia membayar untuk mengakses berita berkualitas, sebagaimana telah mereka lakukan untuk mendapatkan layanan musik (Spotify) dan video (Netflix).

Jajak pendapat oleh Lembaga Kajian Jurnalistiknya Reuters yang menggunakan jasa YouGov itu juga mencatat ada 54 persen warga dunia yang menggunakan media sosial untuk memantau berita terbaru. Jajak pendapat juga menyimpulkan keterkaitan erat antara rendahnya tingkat ketidakpercayaan kepada media dan anggapan bias pemberitaan.

Kecenderungan itu mengemuka di negara-negara yang tingkat keterbelahan masyarakatnya tinggi seperti Amerika Serikat, Hongaria dan Italia. Bahkan Presiden Trump sering menyerang media mainstream karena dianggap menyebar kebohongan dan tidak adil dalam peliputan.

Nic Newman, Kepala tim perumus edisi ke-6 Digital News Report yang terbit setiap tahun, menandaskan, meskipun kini banyak orang memilih aplikasi pengiriman pesan karena frustrasi terhadap debat berkepanjangan di Facebook atau Twitter, namun peran media sosial belum tergantikan.

“Media sosial berperan besar untuk penyebaran berita insidental, terutama di negara-negara dengan media yang dikontrol oleh pemerintah,” terang Newman.

Hal penting yang menjadi kelebihan media sosial, papar Newman, sebab media sosial menyebarkan lebih banyak sudut pandang dan isu, sebagaimana terjadi saat krisis migran di mana orang-orang melaporkan secara langsung dari tempat penampungan pengungsi.

Keduanya, baik media mainstream atau media sosial, masing-masing memiliki peran penting yang bisa saling bersinergi, dan bukan saling menegasi. Tapi persoalannya, tingkat kepercayaan warga dunia kepada kedua jenis media ini sudah merosot.  Dan itu artinya media mainstream kembali ke khithah akurasi yang selama ini mulai ditinggalkan.[]

1 KOMENTAR

  1. Ketika media mulai atau ikut dalam bisnis yang menguntungkan secara finansial, fakta pun menjadi bias sesuai kepentingannya. Apalagi di belakang bisnis didukung kekuasan, makin bias dan manipulatiflah media itu.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here