Warga Inggris Pandang Negatif Donald Trump

0
73

Nusantara.news, London – Sikap dan kebijakan presiden Amerika Serikat Serikat Donald Trump yang over-protektif dan lebih mengutamakan kepentingan warga AS ketimbang memikirkan negara lain rupanya membentuk opini negatif di kalangan warga Inggris. Trump dianggap bisa menjadi ‘ancaman’ bagi dunia internasional.

Padahal selama ini AS merupakan saudara terdekat Inggris, dan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS yang cenderung populis sejalan dengan posisi Inggris saat ini yang memilih keluar dari Uni Eropa, sebagai sinyal Inggris lebih mengedepankan kepentingan negaranya.

Sebagai ‘saudara dekat’, sudah dibuktikan dengan kehadiran PM Inggris Theresa May sebagai pemimpin negara pertama yang datang ke Gedung Putih setelah presiden AS ke-45 dilantik. Kehangatan tampak saat keduanya bersua.

Meskipun di Inggris sebagian kalangan meragukan pertemuan Trump dan May akan menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan. Hal ini karena Trump yang sudah men-declare “America First”, sementara Inggris ingin perdagangannya jaya di dunia.

Belum ada kesepakatan kerja sama yang konkret antara AS dan Inggris pasca-pertemuan kedua pemimpin mereka, dikarenakan Inggris masih harus berkutat memenangkan sejumlah negosiasi dengan UE selama dua tahun ke depan terkait proses pemisahan diri negara itu dari UE. Selama dalam proses tersebut Inggris memang belum diperbolehkan melakukan perjanjian bilateral dengan negara manapun, termasuk Amerika.

Sebelum sampai pada kerja sama yang riil antar kedua negara, pemerintah Inggris saat ini dihadapkan dengan rendahnya dukungan publik terhadap kerja sama Inggris-AS pasca-terpilihnya Donald Trump.

Bahkan sebuah survey di Inggris yang dilakukan lembaga Opinium sebagaimana dilansir The Guardian (6/2) menyimpulkan, lebih dari setengah warga Inggris yang disurvei berpendapat kunjungan kenegaraan presiden AS harus dibatalkan.

Dalam pertemuan dengan Presiden Trump dua pekan lalu, PM Inggris sekaligus menyampaikan undangan Ratu Inggris kepada presiden AS. Trump diagendakan berkunjung ke Inggris tahun ini.

Parlemen Inggris juga akan mengadakan pembahasan soal pembatalan kunjungan kenegaraan Presiden AS tersebut 20 Februari mendatang, setelah lebih dari 1,8 juta warga Inggris menandatangani petisi penolakan kedatangan Trump.

Survei Opinium juga menunjukkan bahwa hampir dua pertiga warga Inggris percaya Donald Trump adalah ancaman bagi stabilitas internasional (64%), sementara 56% warga Inggris yang disurvey meyakini Trump tidak dapat dipercaya, mayoritas dari mereka meyakini Trump akan menjadi presiden yang buruk.

Survei juga mengungkap, warga Inggris banyak yang kecewa dengan Presiden AS yang dalam dua minggu sejak pelantikannya telah menandatangani serangkaian perintah eksekutif yang “kejam” seperti pelarangan imigrasi, rencana pembangunan tembok Meksiko, hingga ‘ribut’ dengan pemimpin Meksiko, Iran dan Australia.

Survey mengungkapkan 44% orang Inggris yakin Trump akan menjadi presiden yang mengerikan, Hanya 6% yang meyakini Trump akan menjadi presiden yang hebat.

Namun demikian terkait rencana kunjungan Presiden Trump ke Inggris atas undangan Ratu tahun ini yang setuju dan tidak hampir berimbang dengan jumlah yang setuju 53%.

Hasil survey juga menunjukkan bahwa rencana PM May untuk membentuk kemitraan yang erat dengan AS berisiko ditolak publik Inggris. Walaupun 50% dari mereka yang disurvei percaya AS adalah sekutu global yang paling penting bagi Inggris. Hanya 29% yang berpikir bahwa hubungan khusus akan lebih kuat di bawah presiden Trump ketimbang Obama.

Tapi, 40% setuju bahwa dengan Brexit berarti Inggris tidak punya pilihan selain untuk menjaga hubungan yang kuat dengan AS, meskipun hanya 37% yang percaya Trump adalah ‘teman Inggris’.

Lembaga survei Opinium telah mensurvei 2.005 orang Inggris dewasa secara online antara tanggal 31 Januari hingga 3 Februari 2017.

PM Inggris Theresa May tampak masih berhati-hati menyikapi kebijakan-kebijakan Presiden AS Donald Trump. Di satu PM May mengakomodir reaksi warga Inggris yang tidak setuju dengan sejumlah perintah eksekutif Trump terutama soal pembatasan imigran, dengan memberi pernyataan ketidaksetujuannya beberapa hari lalu. Tapi di sisi lain, May juga harus menjaga hubungan dengan Trump (AS), mengingat pasca-Brexit kerja sama bilateral dengan AS sebagai negara kuat adalah target utama. [ ]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here