Warga Sumenep Protes Survei Pengembangan Blok Madura Strait

0
180

Nusantara.news, Surabaya – Kekhawatiran masyarakat lokal hanya jadi penonton dan obyek eksplorasi kekayaan sumber daya alam, selalu mencuat. Apalagi jika eksplorasi itu melibatkan perusahaan koorporasi internasional seperti yang terjadi di Sumenep.

Puluhan warga Pulau Giliraja mendatangi Kantor DPRD dan Bupati Sumenep untuk menolak survei laut PT Husky-CNOOC Madura Limited (HCML) yang dilakukan tanpa sosialisasi. Kegiatan perusahaan minyak dan gas bumi tersebut, juga mengancam mata pencaharian warga.

“Sejak sepuluh hari lalu, kami menduga PT HCML telah melakukan kegiatan di perairan sebelah selatan Pulau Giliraja dan mengakibatkan sekitar 40 rumpon milik nelayan rusak,” ujar koordinator aksi, Syahrul Gunawan kepada wartawan, di Sumenep, Selasa (7/2/2017).

Aksi yang diikuti sekitar 50 warga itu langsung direspon dua anggota Komisi I DPRD Sumenep, Abd Hamid Ali Munir dan Khuzaini Adhim. Sayangnya, keinginan bertemu Bupati A Busyro Karim tidak terpenuhi. Warga hanya diterima tiga pejabat pemkab, yakni Hery Kuntjoro Pribadi (Asisten Ekonomi dan Pembangunan), M Syahrial (Kepala Dinas Lingkungan Hidup), dan Mustangin (Kebag Perekonomian).

“Kami adalah warga terdampak langsung atas kegiatan PT HCML. Namun, hingga sekarang ternyata kami tidak pernah diberi sosialisasi,” kata Syahrul.

Ia meminta DPRD dan Pemkab Sumenep ikut mendesak PT HCML untuk bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi akibat kegiatannya. “Kami datang bukan hanya untuk minta sosialisasi maupun ganti rugi, melainkan juga ingin memastikan anggota DPRD dan pemerintah mendorong PT HCML ikut menyejahterakan warga di sekitar lokasi kegiatannya,” ujarnya.

Permintaan itu dijanjikan akan segera disampaikan ke PT HCML. “Dalam waktu dekat, kami akan memfasilitasi warga untuk bertemu dengan semua pihak terkait, utamanya manajemen PT HCML guna membahas aspirasi mereka,” kata Wakil Ketua Komisi I, Abd Hamid Ali Munir.

Sementara Head of Relation PT HCML, Hamim Tohari menjelaskan, pihaknya memang melakukan kegiatan di sekitar perairan Pulau Giliraja, yakni survei laut. Kegiatan tersebut merupakan rangkaian tahapan yang dilakukan PT HCML dalam rangka pengembangan lapangan gas MAC Blok Madura Strait.

“Survei laut itu untuk mengetahui kedalaman, arus, dan kondisi tanah bawah laut. Hasilnya bisa menjadi patokan bagi kami dalam menentukan peralatan untuk kegiatan selanjutnya,” ujarnya melalui telepon.

Hasil survei laut juga untuk kepentingan penyusunan analisa dampak lingkungan (amdal) pengembangan lapangan MAC Blok Madura Strait. Ketika melakukan survei laut, manajemen PT HCML melibatkan perwakilan nelayan setempat dan mereka ikut ke kapal sebagai saksi.

“Untuk sementara tidak ada laporan kerusakan rumpon akibat survei. Sebelumnya kami juga telah melakukan sosialisasi atas rencana survei laut dan cek lokasi. Hasil cek lokasi, tidak ada rumpon di area survei laut tersebut,” tutur Hamim.

Hamim bahkan membantah jika survei dilakukan tanpa melalui sosialisasi sebelumnya. “Sebelum survei dilakukan kita sudah melakukan pengamatan atau survey ke lokasi, dan tidak ada rumpon disana. Dan untuk dipahami, hasil pengamatan lokasi ini tertuang dalam berita acara survei yang ditandatangani Camat Gili Genting, yang menyatakan bahwa area survei clear dari rumpon,” tutupnya.

HCML merupakan salah satu Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dari Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMIGAS) yang berganti menjadi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, sebagai wakil dari Pemerintah Republik Indonesia untuk menjalankan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi di Blok Madura Strait. HCML sebelumnya adalah Husky Oil (Madura) Limited (“HOML”). Sebagai operator dari Blok Madura Strait, saat ini HCML dimiliki oleh Husky Oil Madura Partnership (“HOMP”), CNOOC Southeast Asia Limited (“CNOOC”), dan SMS Development Limited.

Kuartal I 2017, HCML ditarget produksi pertama gas dan minyak dari lapangan BD. Lapangan BD sebagi bagian dari Blok Husky Madura Strait terletak di lepas pantai Selat Madura, Jawa Timur, 65 kilometer sebelah timur Surabaya dan 16 kilometer sebelah selatan pulau Madura. Sumur-sumur gas Madura-BD sendiri berada di sekitar areal kepulauan Mandangin, lepas pantai Selat Madura.

Lapangan pengembangan tersebut merupakan lapangan lama dan diharapkan akan menghasilkan 442 BCF (Billion Cubic Feet) Gas Bumi dan 18,7 MMBLKondesat selama 13 tahun. Untuk produksi awal, lapangan tersebut diprediksi menghasilkan gas sebanyak 100 juta kaki kubik per hari dan 6.000 barel perhari kondesat. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here