Warisan Dunia, Bojonegoro Resmi Jadi Geopark Nasional

0
503
Suasana penambangan minyak rakyat di Wonocolo, Bojonegoro, Jawa Timur. Tambang rakyat tersebut akan dikembangkan menjadi objek wisata migas petroleum Geoheritage Wonocolo.

Nusantara.news, Bojonegoro – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur, menerima sertifikat Geopark Nasional dengan adanya penetapan lima geosite sebagai kawasan cagar alam geologi (KCAG) yang dikeluarkan Badan Geologi Kementerian ESDM dalam Festival Geopark Pulau Belitong II, Jumat (24/11).

Ada empat ‘pemain’ baru Taman Nasional Geopark yang menambah kekuatan destinasi alam di Indonesia, selain Bojonegoro, yakni Aspiring Geopark Belitung, Geopark Raja Ampat, Geopark Tambora, Geopark Maros Tangkep dan Geopark Bojonegoro.

Kelima serangkai yang menyandang status sebagai Taman Nasional Geopark ini, berhak mendapatkan sertifikat sebagai Geopark Nasional dari Komite Nasional Indonesia. Adapun sertifikat dari Komite Nasional Indonesia tersebut menjadi dasar untuk mendaftarkan Taman Nasional Geopark ini ke Badan Kebudayaan Dunia PBB (UNESCO) sebagai warisan budaya dan tempat bersejarah di dunia.

Yunus Kusumabrata, Ketua Taskforce Geopark Indonesia sekaligus Staf Ahli Kementerian ESDM menjelaskan, kelima Taman Nasional Geopark tersebut sebelumnya telah melalui serangkaian penilaian dari Kementerian ESDM. Kelimanya dinyatakan lolos sertifikasi dari penilaian 12 juri yang berasal dari unsur Kementerian, Perguruan Tinggi, Pemerintah Daerah dan juga beberapa perwakilan dari akademisi Geopark.

Adapun persyaratan yang dinilai antara lain, memiliki keragaman fenomena geologi, memiliki keragaman biologi, dan budaya. Dan penilaian serta evaluasi terakhir dilakukan pada 31 Oktober lalu oleh 12 tim penilai pimpinan Safri Burhanuddin, Deputi IV Bidang Kordinasi ESDM.

Disebutkan Yusuf, ada lima kategori yang dinilai. Yang lulus langsung mendapat nilai A atau di atas 70%, bila nilainya 60-70% maka B lulus dengan beberapa rekomendasi dan harus diperbaiki. Ada juga nilai C , bila cuma meraih 50-60 % dari semua kriteria penilaian. Taman Nasional Geopark yang mendapat C tetap lulus dengan rekomendasi, tapi harus melalui verifikasi lapangan maksimal setengah tahun ke depan.

“Dari penilaian jika dalam jangka waktu 6 bulan Geopark tidak melakukan perbaikan sesuai dengan rekomendasi tim penilai, maka status Geopark akan kami tinjau ulang. Nah, berdasarkan penilaian dan eveluasi dari 12 tim penilai, maka Aspiring Geopark Belitung, Geopark Raja Ampat, Geopark Tambora, Geopark Maros Tangkep dan Geopark Bojonegoro berhak mendapatkan status Geopark Nasional,” paparnya.

Tiga Aspiring Pulau Belitung, Raja Ampat dan Tambora lulus dan mendapatkan nilai B, sedangkan Geopark Maros Tangkep mendapatkan nilai C. Tim bakal memberikan rekomendasi dan kembali melakukan verifikasi lapangan. Sementara, Geopark Bojonegoro mendapatkan nilai D, dan tetap lulus. Karena itu Geopark Bojonegoro tetap harus melakukan perbaikan sesuai dengan rekomendasi tim penilai dan diberi jangka waktu perbaikan selama setahun.

Bagi Kementerian Pariwisata, keberhasilan lima lokasi ini menyandang status sebagai Geopark Nasional membuat nilai jual destinasi wisata Indonesia dari Sabang sampai Merauke semakin meningkat. Pasalnya geopark itu memiliki prinsip dasar harus tumbuh dari masyarakat. Semua stakeholder, termasuk masyarakat harus melestarikan lima Taman Nasional Geopark ini. Bukan sekadar mendukung, tapi juga melakukan edukasi kepada masyarakat.

Dengan ditetapkannya lima Kawasan Wisata Geopark berskala internasional dan mendapat pengakuan dari UNESCO, maka ini seharusnya bisa dijadikan momentum. Menteri Pariwisata RI Arief Yahya optimistis, Geopark Belitung dan Danau Toba menjadi tujuan wisata dunia UNESCO Global Geopark (UGG) di masa mendatang. Keyakinan Menpar muncul lantaran Belitung dan Danau Toba memiliki keragaman hayati (biodiversity), geologi (geodiversity), dan budaya (culturdiversity).

“Rumus destinasi kelas dunia adalah atraksi, akses, dan sumber daya untuk wisatawan, semua ada di Belitung dan Danau Toba. Semoga terwujud Belitung dan Danau Toba sebagai Geopark Internasional,” ucap Arief.

Sementara itu Peneliti Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPNV) Yogyakarta Dr Jatmiko Setiawan mengemukakan, terkait pemberian sertifikat Geopark Nasional Bojonegoro sebagai KCAG, pihaknya sejak 2015 sudah mendampingi Bojonegoro merintis Gepark di Bojonegoro. Dijelaskan bahwa nama Geopark adalah Geopark Bojonegoro (hamparan minyak bumi).

Menurutnya Indonesia adalah laboratorium alam yang sangat lengkap, karena pertemuan tiga lempeng tektonik besar. Sehingga menimbulkan keragaman dan kelangkaan objek geologi yang bisa dikembangkan menjadi objek study dan wisata. Dan sesuai dengan Permen nomer 32 tahun 2016, Geopark adalah jenis benda geologi yang dilindungi atau perlu memperoleh perlindungan.

Sebelumnya Pemkab Bojonegoro sudah menggelar “forum group discussion” (FGD) dengan mengundang Badan Geologi dan berbagai pihak terkait dengan tujuh geosite pada 20-21 November. Setelah ditetapkan sebagai kawasan geopark, Pemkab Bojonegoro akan kembali melakukan FGD untuk mengetahui lebih lanjut kesiapan di lokasi Geoheritage tersebut.

Kawasan Bojonegoro yang berhak memperoleh sertifikat Geopark Nasional, di antaranya petroleum geoheritage Wonocolo di Kecamatan Kedewan, struktur “Antiklin” Kawengan bagian puncak antiklin, bagian sayap kanan dan sebagian sayap kiri, semuanya di Kecamatan Kedewan.

Selain itu, Kayangan Api di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Dung Lantung di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, juga masuk KCAG. Ada juga lokasi temuan fosil gigi hiu purba di Desa Jono, Kecamatan Temayang. “Nah, sesuai potensinya Geopark Bojonegoro masuk hamparan minyak bumi,” kata Jatmiko.

Kayangan Api atau api abadi di Desa Sendangharjo.

Sebelumnya dari 21 geosite yang diusulkan, tujuh geosite di antaranya memang diverifikasi untuk bisa ditetapkan sebagai KCAG. “Penetapan 14 geosite lainnya cukup dengan keputusan Bupati Bojonegoro,” tambah Jatmiko.

Mengembangkan Bojonegoro

Sejarah Geologi Bojonegoro memang tidak bisa terpisah dengan sejarah geologi  regional Jawa Timur yang dimulai pada periode umur Paleogen (66 – 23,03 juta tahun lalu). Saat itu Pulau Jawa mengalami peregangan ke arah Utara-Selatan.

Pada saat itu terbentuk busur magmatik (pegunungan-pegunungan purba di Jawa). Jawa Timur sendiri masih berupa lautan. Sehingga pada saat itu terbentuk endapan-endapan batuan ciri khas lautan. Batuan-batuan yang tersingkap dan terbentuk pada periode umur tersebut dicirikan dengan batuan-batuan lempung, pasir dan batuan gamping yang disertai dengan fosil-fosil khas lautan.

Sementara pada periode Neogen (23,03 – 2,58 juta tahun lalu) pulau Jawa mengalami kompresi (tekanan) dengan arah utara selatan, sehingga terjadi pengangkatan dan terbentuklah pulau Jawa yang ada saat ini.

Menurut European Geopark Network (EGN) dan Global Geopark Network (GGN), Geopark adalah wilayah dengan batas yang didefinisikan dengan baik yang terdiri dari wilayah luas yang memungkinkan pembangunan lokal berkelanjutan, baik pada aspek sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan.

Sedangkan menurut UNESCO, Geopark adalah wilayah yang didefinisikan sebagai kawasan lindung berskala nasional yang mengandung sejumlah situs warisan geologi penting yang memiliki daya tarik keindahan dan kelangkaan tertentu yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari konsep integrasi konservasi, pendidikan, dan pengembangan ekonomi lokal.

Berdasarkan beberapa definisi Geopark tersebut, secara singkat Geopark ini merupakan bentuk pemanfaatan ruang kawasan lindung yang juga merupakan sebuah kesempatan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan.

Dua hal penting dalam pengembangan Geopark adalah pengembangan ekonomi lokal dan perlindungan lingkungan. Selain itu, Geopark juga sebagai media pendidikan untuk menyampaikan pengetahuan tentang geologi dan mengenalkan masyarakat kepada geologi.

Salah satu hal yang penting dalam manajemen untuk kawasan lindung dan terciptanya geologi. Pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap pengetahuan merupakan hal penting untuk mencapai implementasi kebijakan pada kawasan lindung atau konservasi yang efektif. Oleh karena itu, selain konservasi dan pengembangan ekonomi lokal, pendidikan juga merupakan salah satu elemen dasar yang harus dimiliki sebuah Geopark.

Jadi, tujuan Geopark adalah untuk mengeksplor, mengembangkan, dan merayakan hubungan antara warisan geologi, dan semua aspek kawasan lindung, budaya, dan warisan tak berwujud. Oleh karena itu, dalam suatu geopark tidak hanya terdapat warisan geologi, tetapi juga warisan budaya, arkeologi, dan biodiversity.

Sementara Geoheritage mempunyai peran yang sangat penting bagi pendidikan maupun keilmuan. Geoheritage menjadi laboratorium alam tentu sangat bernilai dan bermanfaat sebagai sarana pemahaman mengenai proses-proses alam terbentuknya Pulau Jawa, khususnya di Kabupaten Bojonegoro. Geoheritage sendiri bisa berupa situs-situs yang sifatnya nyata, tentu sangat bernilai karena menjadi sumber informasi yang langsung atau orisinil. Untuk itu yang namanya Geowisata tidak selalu berkaitan dengan budaya, kuliner, panorama, dan lain-lain. Wisata kebumian ini tentu dapat menjadi alternatif yang sangat bagus yang dapat memberikan pencerahan atau menambah wawasan peduli lingkungan, bahkan wawasan sadar bencana.

Peta Petroleum Geopark di Bojonegoro.

Besarnya potensi untuk Geopark dan Geoheritage Bojonegoro, tentunya harus dimanfaatkan secara maksimal. Kerjasama Pemkab Bojonegoro dengan pihak Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral diharapkan bisa dikenal hingga masyarakat internasional.

Dalam pengembangan heritage nantinya bisa memiliki tiga fungsi yakni sebagai sarana konservasi, edukasi, dan menumbuhkan ekonomi lokal. Secara khusus, budaya maupun legenda bisa masuk dalam heritage apabila bisa dijelaskan secara geologi dan biologi. Oleh karenanya untuk mengembangan Geopark dan Geoheritage Bojonegoro ini adalah harus ada pembuktian secara geologi maupun biologi.

Kata Jatmiko, di Bojonegoro banyak ditemukan kekayaan sumber daya alam minyak dan gas bumi yang dikelola secara tradisional dan modern. Pengembangan Geopark dan Geoherritage Bojonegoro merupakan hal utama. Namun demikian, yang harus diperhatikan adalah tentang status tanah, apakah dimiliki perorangan atau pemerintah. Karena banyak kasus telah ditemui, pada saat mengembangkan heritage, status tanahnya milik perorangan.

Tidak bisa dipungkiri, kekayaan alam Bojonegoro saat ini sangat mempengaruhi sebesar apa kecintaan masyarakat terhadap tanah air. Dengan memahami kejadian alam yang terekam dalam Geopark dan Geoheritage, masyarakat luas akan sadar bahwa Bojonegoro memiliki sejarah kegeologian yang sangat dahsyat.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here