Warning dari Hadramaut, Politik Praktis Bisa Pecah Belah Umat

0
94
MENYEJUKKAN: Wawasan yang diberikan Habib Umar bin Hafidz ketika hadiri sarasehan di Ponpes Banyuanyar Al Hamidy Pamekasan, Senin (23/10/2017), menjadi penyejuk di tengah dinamika politik yang membelit bangsa Indonesia kini.

Nusantara.news, Pamekasan – Dinamika politik di Indonesia ternyata tak luput dari perhatian ulama Timur Tengah. Ketika jadi pembicara dalam sarasehan bertema “Masalah Kekinian, Tantangan dan Pemecahannya” di Pondok Pesantren Banyuanyar Al Hamidy Pamekasan, Senin (23/10/2017), Habib Umar bin Hafidz dari Yaman memberi peringatan kepada ulama Indonesia agar tidak terlibat politik praktis.

Ulama asal Hadramaut tersebut menyarankan, ulama Indonesia harus fokus pada pengembangan dan upaya memajukan pendidikan Islam. “Ingat, ulama adalah pewaris para nabi. Jika terjun ke dunia politik praktis resikonya, pendidikan Islam bisa kurang terurus,” katanya di depan peserta sarasehan yang dihadiri ulama-ulama dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan dan Aceh itu.

Perkembangan Islam di Indonesia memang relatif lebih tertata, namun persoalan politik kerap menjadi pintu masuk umat terpecah belah. Di Yaman sendiri, konflik sektarian berkepanjangan yang sudah menelan ratusan ribu jiwa bahkan mulai meredupkan pendidikan Islam. Padahal di masa lalu, kawasan yang dikenal sebagai Hadramaut ini menjadi tempat penggodokan ulama-ulama Indonesia maupun kawasan Asia lainnya.

Kemajuan pendidikan Islam memang jadi penekanan misi dakwah Habib Umar ke Indonesia dan sejumlah negara Asia lainnya. Apalagi dunia Islam kini tengah dirundung beragam persoalan terutama sejak sel jaringan Al Qaeda sepeninggal Osamah bin Laden bertransformasi menjadi ISIS yang mengusung sistem khilafah global.

Sebagai salah satu ulama pengasuh pesantren yang jaringannya di Indonesia mencapai ratusan, wajar jika Habib Umar tidak ingin perkembangan pendidikan Islam mandek lantaran faktor perbedaan dalam menentukan sikap berpolitik.

Di depan ribuan santri yang memadati lokasi sarasehan, dia menjelaskan dampak negatif jika ulama terjun dalam politik praktis. “Jika tokoh yang didukungnya kalah, maka ia akan dijauhi oleh kelompok itu. Sebaliknya, jika menang, kelompok lain yang berbeda dukungan politik juga akan menjauhinya. Ulama pendukung bahkan bisa tertekan untuk tetap mempertahankan tokoh politik yang didukungnya. “Oleh karena itu, lebih baik ulama tetap fokus pada upaya pengembangan pendidikan sebagai upaya untuk menyiarkan agama Islam,” paparnya.

Terkait sikap politik dalam kepemimpinan, Habib Umar memberi sinyal bahwa contoh masa pemerintahan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, serta kepemimpinan tokoh Islam dunia selanjutnya bisa dipelajari agar tidak terjerumus pada kepentingan sesaat. “Mereka adalah teladan yang selalu bersemangat memperjuangkan ajaran agama Islam,” katanya.

Saran dari Habib Umar ini memang serasa mengena dengan kondisi di Indonesia saat ini. Kendati tidak menyebut nama, namun tokoh-tokoh Islam seperti diseret dalam kepentingan praktis. Tak heran, dalam beberapa permasalahan kepentingan umat yang harusnya diutamakan justru ditinggalkan. Di Jawa Timur sendiri, saran dan peringatan ini layak jadi acuan. Mengingat ada 18 agenda pemilihan kepala daerah dan pemilihan gubernur yang digelar serentak pada 2018.

Sebagai basis umat Nadlatul Ulama (NU), tentu sangat disayangkan jika agenda politik itu menggerus kekuatan ormas Islam terbesar di dunia ini. Apalagi Indonesia juga merupakan negara dengan populasi umat Islam terbanyak saat ini. “Kami berharap dengan tambahan wawasan dari Habib Umar, ada kesadaran untuk lebih meningkatkan ukhuwah Islamiyah,” kata juru bicara kegiatan Yoyok R Effendi kepada wartawan.

Di Indonesia, Habib Umar memang hanya mendatangi Surabaya dan Pamekasan dalam rangkaian tur dakwahnya. Namun dengan wawasan yang diberikan Habib Umar, umat Islam Indonesia harus menyadari perannya sebagai mayoritas. Termasuk mencari solusi permasalahan terkini seperti yang dikatakan pengasuh Pondok Pesantren Banyuanyar Al Hamidy KH Mohammad Rofi’ie Baidhawi.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here