Waspada, Arus SDM Unicorn Asing Bakal Membanjiri Indonesia

0
274
Persaingan SDM unicorn ke depan makin ketat. Sebanyak 4 unicorn Indonesia seperti Gojek, Traveloka, Tokopedia, dan Bukalapak memelihara SDM handal di bidang provider data, analis data, software engineer, hingga programmer. (Sumber: Okezone)

Nusantara.news, Jakarta – Indonesia merupakan pasar yang besar, hukum pasar menyebut jumlah manusia adalah pasar yang empuk. Wajar kalau kemudian unicorn berbondong-bondong membanjiri pasar Indonesia. Sudah seberapa siap sumber daya manusia (SDM) Indonesia mengisi bisnis rintisan (star up) yang sedang naik daun ini?

Cukup beralasan debat calon presiden kedua yang memperdebatkan keberadaan unicorn. Dari 7 unicorn di ASEAN, 4 unicorn diantaranya ada di Indonesia. Mereka adalah Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak. Keempat bisnis star up digital itu sudah masuk dalam genre unicorn karena valuasi bisnisnya sudah di atas US$1 miliar.

Oleh karena valuasi yang begitu besar, otomatis kapasitas modal kita sangat terbatas, masuklah asing sebagai pemilik unicorn tersebut. Itu sebabnya banyak kekhawatiran, bahkan kecurigaan bahwa unicorn ini akan menjadi mesin sedot uang Indonesia untuk kemudian dibawa ke negeri asal si investor. Dari 4 unicorn yang ada, hanya Bukalapak konon yang sahamnya murni milik pribumi, yakni Achmad Zaky.

Menkominfo Rudiantara menyatakan bahwa kewaspadaan terhadap kepemilikan saham asing di unicorn wajar, tapi menurutnya itu tidak perlu berlebihan. “Jadi kalau ditanya unicorn milik siapa, untuk siapa, milik kita. Betul ada kekhawatiran ini kita juga harus senantiasa alert, senantiasa waspada, tapi jangan membuat diri kita paranoid,” katanya dalam Diskusi FMB9 tentang “Investasi Unicorn Untuk Siapa” di Kemenkominfo beberapa waktu lalu.

Menurutnya, sekalipun porsi saham asing di unicorn berjumlah besar, tidak otomatis membuat mereka menguasainya. Jadi bisnis ini berbeda dengan konvensional, di mana pemilik saham terbesar memegang kendali.

Hal tersebut, tak berlaku buat bisnis start up. Venture capital atau pemilik modal di start up hanya sebatas memberi pendanaan. “Nah, di startup nggak gitu. Founder itu nggak boleh keluar malah, meski suatu saat listed (terdaftar di pasar modal). Venture capitalnya? Ya mereka cuma uang saja,” Rudiantara.

Hal yang sama diungkap Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong. Meskipun pemilik modal mengucurkan dana yang signifikan, mereka tidak ingin terlibat dalam kegiatan usaha.

“Di dalam investasi ventura ada perbedaan besar soal jumlah modal dan kendali atas usaha. Justru investor seperti saya dulu, tidak mau pegang kendali atas yang kita modali. Kita mau jadi investor pasif,” tambahnya.

Thom Lembong mengungkapkan modal asing yang masuk ke Indonesia untuk start up di Indonesia termasuk unicorn antara US$2 miliar hingga US$2,5 miliar per tahun. Bila dikonversi ke rupiah Rp14.000 per dolar AS, angka tersebut mencapai Rp29 triliun hingga Rp35 triliun.

Kucuran modal asing ke startup tersebut, menurutnya masih akan berjalan secara konsisten untuk ke depannya.

Hanya saja, sejak beberapa tahun terakhir, investasi internasional ke Indonesia turun. Namun satu-satunya komponen dari investasi asing yang tidak turun adalah ke ekonomi e-commerce dan digital.

“Jadi, tren ini masih sangat sehat, kuat. Dan sejauh ini tidak ada indikasi investor mulai kapok, atau gelisah, atau kehilangan antusiasme, atas potensi ekonomi digital. Yang saya lihat malah, kok masih meningkat lagi,” tambahnya.

Lepas dari komplikasi maupun keunikan modal bagi bisnis unicorm, sebenarnya ada persoalan besar bagi arus deras masuknya modal asing di unicorn kita, yakni soal sulitnya mendapatkan SDM yang handal di bisnis unicorn tersebut.

Sayangnya perkembangan itu justru menjadi bumerang bagi pelaku industri e-commerce dan digital rintisan. Mereka kini sulit untuk mendapatkan tenaga kerja yang sesuai. Penyebabnya, kurangnya pasokan tenaga kerja digital, sementara kebutuhannya terus bertambah. Mereka bahkan harus saling berebut, saling membajak karyawan.

Kondisi itu membuat tarif gaji dari karyawan digital tak karuan. Bahkan ada disebut-sebut tenaga kerja digital yang sudah memiliki pengalaman kerja di luar negeri gajinya mencapai puluhan juta rupiah.

Menurut Ketua Umum Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA) Ignatius Untung berkembangnya teknologi membuka peluang baru di dunia bisnis. salah satu yang muncul adalah bisnis toko online alias e-commerce dan bisnis unicorn. Sayang, perkembangan bisnis tersebut belum diimbangi dengan ketersediaan tenaga kerja di sektor industri digital ini.

“Dari sisi jumlah yang paling langka software engineer karena kebutuhannya tinggi,” kata katanya belum lama ini.

Untuk unicorn saja, menurut Untung, kebutuhan software engineer bisa mencapai 1.000 orang. Jumlah tersebut belum bisa diimbangi dengan kemampuan perguruan tinggi menghasilkan lulusan di bidang tersebut.

“Kalau dibandingkan lulusan satu angkatan 1 universitas saja, kayaknya nggak sampai 1.000,” tuturnya.

Katakanlah ITB, ITS, Gunadharma, Binus, STT Telkom, dan kampus yang melahirkan para software engineer, yang meluluskan ribuan sarjana tiap tahunnya, belum tentu cocok spesifikasinya dengan yang dibutuhkan. Akibatnya menimbulkan gap antara kebutuhan dan ketersediaan software engineer.

Selain software engineer, kata Untung, yang juga amat sangat langka dan mahal, tapi agak terpendam karena jumlahnya tidak tinggi yaitu product management. Tenaga ahli dengan spesifikasi keahlian seperti itu susah karena sekolahnya tidak ada. itu ilmu setengah teknik setengah bisnis.

Tenaga kerja sektor digital yang masih sulit ditemukan di Indonesia adalah tenaga analis data. Padahal, peran analis data dalam bisnis e-commerce dan unicornsangat penting dalam menentukan strategi dan kelangsungan bisnis itu sendiri di masa depan.

Spesifikasi lain yang tak kalah penting adalah analis data. Ahli analis data ini banyak sekolah statistik, tapi masih ada gap. Kalau ngomongin data sebagai data provider (penyedia data) tidak susah. Tapi data analytic yang lumayan susah.

Indonesia bisa dikatakan masih darurat tenaga kerja yang ahli di bidang digital. Tingginya kebutuhan tenaga kerja di sektor ini, belum bisa diimbangi oleh ketersediaan lulusan dari lembaga-lembaga pendidikan yang ada di Indonesia.

Akibat terbatasnya jumlah tenaga kerja di sektor tersebut, para pelaku usaha akhirnya saling ‘bajak’ tenaga kerja.

Ketua Dewan Pengawas Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA) Hendrik Tio berpendapat kelangkaan tenaga kerja sektor digital di Indonesia ternyata sudah tersebar ke mancanegara. Akibatnya, banyak lulusan perguruan tinggi di luar negeri yang akhirnya memilih pulang kampung.

Namun, tentu saja kondisi itu tak serta merta memuluskan langkah e-commerce untuk mendapatkan tenaga kerja yang dibutuhkan. ‘Ada harga ada rupa’, kira-kira demikian ungkapan yang bisa disematkan ke pada para tenaga kerja terampil sektor digital. Kemampuan yang memadai, selalu diikuti dengan standar upah yang tinggi.

Belum lagi kalau bisa yang qualified atau SDM digital yang berkuatas. Selain sumbangsih sari perguruan tinggi itu jadi populer banyak juga teman yang lulusan dari luar negeri kembali ke Indonesia menjadi SDM yang bagus. Tapi risikonya untuk membayar mereka terkadang jadi sangat mahal. Akibatnya perusahaan e-commerce maupun unicorn tak kuat membayarnya.

Salah satu SDM di industri digital yang paling mahal adalah bagi mereka yang sudah punya pengalaman bekerja di luar negeri. Hendrik mengakatakan bahkan gajinya bisa sampai Rp90 juta per bulan.

Risiko lain yang ada di hadapan, karena kelangkaan tenaga SDM yang mumpuni sehingga mau tidak mau mendatangkan tenaga kerja ahli asing. Celakanya jika tenaga kerja ahli asing itu datangnya dari China, mau tidak mau gajinya sangat bersaing, sampai di sini, tamatlah kita.

Itu sebabnya, menjadi sebuah tantangan besar bagi pemerintah untuk membuat strategi penciptaan tenaga kerja ahli bidang e-commerce dan unicorn. Presiden Jokowi dalam debat kedua menjanjikan akan menyiapkan 1.000 tenaga ahli tersebut dan dikoneksikan dengan sumber-sumber perekonomian riil yang bila disimbiosiskan bisa menjadi raksasa e-commerce dan unicorn ke depan.

Mampukah pemerintah merealisaikan janji-janji untuk mengadakan tenaga kerja ahli bidang ini? Sepertinya masih ada 65 janji Presiden Jokowi yang belum ditepati. Semoga saja ke depan ada yang mampu merealisasikan janji-janji kampanyenya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here