Waspada, Kenaikan CDS Bisa Picu Badai Keuangan

0
124
Jika credit default swap Indonesia tidak terkelola dengan baik dikhawatirkan dapat memicu badai keuangan.

Nusantara.news, Jakarta – Selain melonjaknya utang, melemahnya nilai tukar rupiah, defisit transaksi perdagangan tiga bulan berturut-turut, belakangan (credit default swap—CDS) yang merefleksikan risiko keuangan Indonesia juga mulai merangkak naik.

Ini tercermin pada level CDS Indonesia bertenor lima tahun mencapai level tertinggi tujuh bulan. CDS Indonesia tenor 10 tahun juga cenderung naik. Diharapkan kenaikan CDS tersebut hanya berlangsung jangka pendek.

Krisis moneter 1998, krisis Subprime Mortgage 2008, dan krisis utang Eropa 2013, sebelumnya juga ditandai dengan kenaikan CDS di masing-masing negara yang terkena krisis.

Bloomberg mengungkapkan CDS tenor lima tahun bertengger di level 107,33, merupakan posisi tertinggi sejak akhir Agustus 2017. Level ini juga sudah naik 23% secara month on month (mom). Sementara, CDS tenor 10 tahun naik 14% ke level 174,86. Sebagai gambaran, semakin tinggi level CDS, maka tingkat risiko investasi juga semakin tinggi alias memburuk.

CDS Indonesia sempat menyentuh level terendah pada 9 Januari 2018 di level 76,92. Peningkatan CDS sepanjang 2018 sebesar 16,2% juga merupakan yang tertinggi di kawasan Asia setelah Pakistan 30,8%.

Sementara sejak Januari—Maret 2018, terjadi aliran total dana masuk dan keluar (capital infow dan capital flight) mencapai Rp61,75 triliun. Di Januari 2018 terdapat dana masuk sebesar Rp33,6 triliun, sementara Februari keluar lagi Rp21,55 triliun, kemudian sampai 20 Maret 2018 keluar lagi Rp6,6 triliun.

Ini menunjukkan dinamika dana investor asing di Surat Berhaga Negara (SBN). Sementara arahnya ke depan capital flight ke depan semakin meningkat karena investor asing merespon penguatan rupiah.

Ditambah pula utang Indonesia terus meningkat menjadi Rp4.965 triliun sampai Januari 2018. Sementara Indef mencatat utang Indonesia telah tembus Rp7.000 triliun. Lepas dari perbedaan data tersebut, yang jelas trend utang meningkat bakal menjadi faktor penekan rupiah ke depan.

Risiko keuangan

Kenaikan CDS sebesar 23% mom basis merefleksikan risiko keuangan Indonesia naik dengan cepat. Penyebabnya adalah capital outflow dari pasar saham yang sudah mencapai Rp21 trilliun dalam satu minggu  dan Defisit Transaksi Berjalan (current account defisit—CAD) yang disebabkan neraca pembayaran (balance of payment) yang negatif, dimana impor lebih besar dari ekspor, tiga bulan berturut-turut.

Defisit neraca perdagangan yang terjadi selama tiga bulan berturut-turut—Desember, Januari, Februari—secara berkelanjutan. Jika masih terjadi pada Maret 2018, maka sudah dipastikan kinerja pertumbuhan ekonomi pada 2018 akan tergerus.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto mengatakan pengaruh defisit neraca perdagangan terhadap pertumbuhan ekonomi semakin akut jika neraca perdagangan bulan Maret 2018 nanti tak kunjung surplus.

Karena itu dibutuhkan kinerja ekspor dan surplus yang baik agar pertumbuhan ekonomi kuartal I 2018 bisa membaik. Sebab, ekspor netto merupakan salah satu komponen pembentuk pertumbuhan ekonomi selain konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi.

“Defisit perdagangan Januari dan Februari mengoreksi (pertumbuhan ekonomi) ke bawah, tapi kami berharap bulan Maret bisa surplus sehingga bisa mengompensasi defisit di dua bulan ini,” kata Suhariyanto baru-baru ini.

BPS mencatat, neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2018 defisit US$120 juta lantaran dipicu oleh defisit sektor migas sebesar US$870 juta, meski di sektor nonmigas sempat mencatat surplus US$750 juta.

Defisit pada Februari 2018 merupakan defisit yang ketiga kali sejak Desember 2017. Menurut data BPS, pada Januari 2018 defisit neraca perdagangan tercatat sebesar US$680 juta dan defisit Desember 2017 sebesar US$270 juta. Ini menjadi peringatan buat kita semua.

Sedangkan dari sisi ekspor, BPS mencatat nilai ekspor Indonesia pada Februari 2018 secara bulanan turun tipis 3,14% menjadi sebesar US$14,10 miliar dibanding Januari 2018 yang mencapai US$14,53 miliar. Ekspor nonmigas secara bulanan turun 3,96%, sementara ekspor migas naik 5,08%.

Karena itu, semua otoritas keuangan perlu mencermati merangkaknya angka sensitif CDS seperti ini karena memiliki efek berantai yg amat panjang.

Beberapa efek lanjutan

Terkait dengan merangkaknya CDS Indonesia, paling tidak ada beberapa efek lanjutan yang bakal terjadi. Pertama, biaya lindung nilai (hedging) terhadap kegagalan bayar kreditur Indonesia meningkat. Analogi rule of thumb, bila CDS naik 25%, satu diantara empat hutang Indonesia berisiko gagal bayar (default), sehingga premi CDS yang dibayar merefleksikan resiko ini.

Kedua, biasanya secara perlahan dan pasti akan menyebabkan downgrade peringkat utang Indonesia dari BBB plus menuju BBB stabil atau negatif, yang kemudian mengakibatkan kenaikan suku bunga pinjaman Indonesia ke luar negeri, terutama hutang pemerintah Indonesia.

Ketiga, bila hutang Indonesia yang sudah naik tinggi ditambah kenaikan risiko, biaya hedging dan biaya pinjaman (cost of borrowing) meningkat, sudah pasti rupiah melemah dan fundamental ekonomi makro Indonesia menjadi lebih buruk walaupun cadangan devisa masih tinggi.

Cadangan devisa hanya satu dari sekian faktor yang dapat merefleksikan kekuatan ekonomi Indonesia, beberapa komponen yang disebut diatas turut menyumbang.

Untuk itu, Menko Perekonomian Darmin Nasution–Bukan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan–harus memanggil semua stakeholder keuangan dari Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga pengelola Bursa Efek Indonesia (BEI)) serta Kementrian BUMN untuk bekerja sama menjaga kemungkinan badai keuangan yang akan melanda Indonesia.

Diperlukan sebuah ekstra kerja keras untuk menjaga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak terperosok lebih dalam. Terutama bagaimana menjaga agar nilai tukar rupiah tetap kuat dan bila pemerintah meyakini fundamental ekonomi Indonesia kuat, bahkan boleh meminta agar BUMN ikut melakukan buy-back kecil-kecilan bila ada extra cash diperusahaan masing-masing untuk menjaga nilai kapitalisasi sahamnya masing-masing.

Kejatuhan kapitalisasi nilai saham perusahaan BUMN akan mengakibatkan outstanding kredit perusahaan BUMN yang bila dijamin menggunakan saham mengalami margin call.

Semua pelaku pasar dan pedagang saham di bursa IHSG juga harus diminta OJK untuk memperhatikan kredit yg dipakai para pemain dan pedagang saham untuk berjudi di pasar saham agar tidak melewati tiga kali modal mereka sendiri, bila ada yg hampir kena, perintahkan margin call, minta mereka menambah modal disetor.

Risiko perang dagang

Ahmad Mikail, ekonom Samuel Sekuritas Indonesia mengatakan, CDS cenderung naik karena pelaku pasar khawatir pada situasi geopolitik perang dagang antara AS dan China. Pelaku pasar menakutkan perang dagang bisa membawa suku bunga global naik.

“Kalau terjadi perang dagang, harga barang jadi lebih mahal karena tarif impor dinaikkan dan pertumbuhan ekonomi menjadi lebih rendah, maka menimbulkan kenaikan risiko pasar keuangan dan tercermin dalam CDS yang naik,” kata Mikail, kepada pers.

Saat ini, ada kecenderungan pelaku pasar berpindah dari instrumen saham ke pasar obligasi di AS. Perubahan kepemilikan investasi ini terjadi karena ketidakpastian kondisi di tengah polemik perang dagang AS dan China. Kondisi ini membuat investor beralih pada instrumen investasi yang lebih minim risiko seperti obligasi.

“Hal ini yang menyebabkan bursa AS turun, tetapi yield obligasi bergerak stagnan cenderung turun,” kata Mikail. Adanya, tekanan capital outflow membuat CDS Indonesia naik.

Sementara, faktor internal seperti defisit neraca perdagangan yang terjadi tiga bulan berturut-turut juga membawa CDS Indonesia naik. Mikail menjelaskan defisit neraca perdagangan membuat nilai tukar rupiah melemah. Dampaknya, investor asing takut untuk investasi di obligasi Indonesia, karena memiliki potensi return yang menurun.

CDS ini telah menjadi wake up call bersama para otoritas keuangan agar lebih berhati-hati dalam menyikapi situasi yang sedang berkembang.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here