Waspada, Pasar Indonesia Mulai Dihindari Manajer Investasi Global

0
243
Menurut Sat Duhra, manajer investasi global dari Janus Henderson, pasar global cenderung menghindari tiga pasar, yakni India, Indonesia dan Filipina.

Nusantara.news, Jakarta – Presiden Jokowi sore tadi kabarnya memanggil Gubernur Bank Indoensia (BI) Agus DW Martowardojo, Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistiyo, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Untuk apa? Untuk apa lagi kalau bukan soal jatuhnya rupiah dan IHSG.

Kemarin, Rabu (25/4), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlog Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 2,4% ke level 6.079,85 pada perdagangan hari ini. Jika dibandingkan dengan bursa saham lainnya di kawasan Asia, pelemahan IHSG merupakan yang paling parah.

Indeks Nikkei turun 0,28%, indeks Shanghai turun 0,35%, indeks Hang Seng turun 1,01%, indeks Strait Times turun 0,54%, indeks Kospi turun 0,62%, indeks SET (Thailand) turun 0,54%, dan indeks KLCI (Malaysia) turun 0,72%.

Nilai transaksi IHSG tercatat sebesar Rp8,24 triliun dengan volume sebanyak 8,82 miliar saham. Frekuensi perdagangan adalah sebanyak 422.042 kali. Secara net, transaksi keluar di pasar modal mencapai Rp2 triliun lebih.

Pelemahan rupiah kembali menjadi momok bagi bursa saham domestik. Sampai akhir perdagangan IHSG, rupiah melemah 0,24% ke level Rp13.918 per dolar AS. Jika tekanan jual terhadap rupiah terus berlanjut, bukan tak mungkin level Rp 14.000/dolar AS akan tembus. Merespons pelemahan rupiah, investor asing melakukan aksi jual bersih di pasar valas sebesar Rp1,96 triliun.

Penguatan dolar AS dipicu oleh imbal hasil obligasi (treausry bills—T-Bils) AS yang kini menyentuh 3,0202%. Sebagai catatan, terakhir kali imbal hasil menyentuh angka 3% adalah pada tahun 2014 silam.

Melihat intensitas pelemahan rupiah dan IHSG merasa perlu memanggil para pejabat terkait guna memastikan dua tiga pekan ke depan, atau tepatnya di bulan Mei bagaimana agar rupiah dan IHSG stabil. Mengingat di bulan itu akan ada utang jatuh tempo dan Federal Reserve merealisasi kenaikan bunga acuan Fed Fund Rate.

Praktis, bulan Mei akan ada tekanan besar terhadap rupiah dan IHSG. Cadangan devisa BI sendiri sudah terkurang dari US$132 miliar menjadi US$125 miliar atau terpakai untuk mengguyur pasar sebesar US$7 miliar (sekira Rp97,30 triliun), namun rupiah terus melemah. BI ibarat sedang menggarami lautan.

Bayangkan, kalau saja BI tidak melakukan intervensi, maka tidak menutup kemungkinan dolar AS bisa menembus level Rp15.000 atau bahkan lebih. Itu sebabnya Jokowi merespon cepat situasi yang semakin tidak menentu. Itu artinya, BI harus menguras lebih dalam lagi cadangan devisa yang ada yang cukup untuk enam bulan impor. Memang masih di atas standar kecukupan internasional sebesar tiga bulan impor.

Tengok saja cadangan devisa Thailand yang mencapai US$215,62 miliar, Singapura US$376,29 miliar, Kamboja US$769,18 miliar, Malaysia US$128,21 miliar. Namun cadangan devisa Indonesia masih lebih besar dibandingkan Filipina US$80,13 miliar dan Vietnam US$28,62 miliar.

Namun jika dibandingkan dengan negara-negara utama di dunia seperti China yang memiliki US$3,14 triliun, Hong Kong US$440,30 miliar, India US$426,08 miliar, Jepang US$1,26 triliun, Saudi Arabia US$1,83 triliun, Korea Selatan US$396,75 miliar, Inggris US$164,21 miliar, dan Amerika Serikat US$125,73 miliar.

Tampaknya ketersediaan cadangan devisa Indonesia yang moderat bakal terus terkuras dengan belum adanya solusi cespleng mengatasi depresiasi rupiah dan melemahnya IHSG. Belum lagi mulai masuknya spekulan dalam transaksi saham dan valas, sehingga beban pelemahan indikator inti itu makin berat.

Lantas apakah tekanan terhadap rupiah dan IHSG berhenti sampai di situ? Tidak juga.

Menkeu Sri Mulyani Indrawati mulai meminta masyarakat untuk tenang di tengah rupiah yang terus terdepresiasi dan IHSG terkoreksi sangat tajam. “Dalam hal ini, masyarakat diharapkan tenang karena pergerakan ini berasal dari AS dan pengaruhnya ke mata uang dunia,” kata dia di Gedung DPR tadi siang.

Sri Mulyani menjelaskan, pelemahan rupiah lebih kecil atau relatif sama dibanding mata uang negara maju dan emerging lain yang mencapai lebih dari 2%. Dalam dua hari terakhir, dibanding mata uang negara maju dan emerging, rupiah masih pada kisaran yang relatif sama atau lebih baik sedikit.

Beberapa mata uang negara maju terdepresiasi di atas 2%. Mata uang di kawasan kita (ASEAN) pun di atas itu. Bahkan, India terdepresiasi lebih dalam karena ingin memacu ekspor.

Penyebab kurs rupiah melemah, menurut Sri, lebih banyak dipengaruhi kebijakan ekonomi dari pemerintah AS seiring dengan perbaikan data ketenagakerjaan dan inflasi di Negeri Paman Sam.

Perekonomian AS, baik data employment maupun inflasi menunjukkan suatu recovery. Perubahan kebijakan fiskal, seperti pajak dan perdagangan, sehingga AS akan melakukan berbagai kebijakan meng-adjust.

Selain itu, The Fed juga akan menaikkan suku bunga acuan atau FFR tiga sampai empat kali dalam tahun 2018. Namun demikian, prediksi Sri Mulyani, The Fed akan mengerek suku bunga acuan secara hati-hati.

Pasar yang dihindari

Yang bisa memberi penjelasan mengapa rupiah dan IHSG melemah salah satunya adalah pandangan manajer investasi global bahwa Indonesia, bersama-sama India dan Filipina memang harus dihindari. Alasannya, ketiga negara cenderung menghindari kenaikan suku bunga.

Menurut Sat Duhra, manajer investasi global dari Janus Henderson, pasar global cenderung menghindari tiga pasar, yakni India, Indonesia dan Filipina. Ketiga negara itu, ditandai dengan defisit transaksi berjalan (current account deficit—CAD) yang lumayan besar, sehingga berpotensi akan terpukul keras jika investor menarik modalnya untuk mencari imbal hasil yang lebih baik di AS, kata Duhra.

“Kenaikan harga minyak baru-baru ini akan memperburuk defisit di negara-negara itu,” katanya.

Dengan tingkat suku bunga akan meningkat di AS, investor untuk sementara waktu harus menghindari memasukkan uang ke India, Indonesia dan Filipina, tiga macan ekonomi Asia yang paling rentan dalam lingkungan seperti itu, menurut Janus Henderson.

Ketiga negara itu juga sedang menuju pemilihan tahun 2018 dan 2019, dan ketiga pemerintah telah meningkatkan pengeluaran dengan cara yang “sedikit mengkhawatirkan,” katanya kepada “Capital Connection” seperti dikutip CNBC, tadi pagi.

Duhra berpendapat disiplin fiskal benar-benar hilang di tempat-tempat ini, terutama di India. “Jadi, saya pikir semua negara itu benar-benar harus dihindari untuk saat ini.”

Yang memperburuk keadaan pasar di India, Indonesia, dan Filipina, adalah kenaikan harga minyak baru-baru ini. Ketiga negara itu adalah pengimpor minyak bersih dan mungkin melihat defisit akun mereka saat ini memburuk, menurut Duhra.

Pasar yang paling menarik di kawasan ini adalah ekonomi Asia Utara, Bank-bank China, melakukan investasi yang baik karena mereka membayar dividen lebih tinggi sekarang daripada yang mereka lakukan tahun lalu.

Sektor keuangan akan mendapat manfaat secara umum dari suku bunga yang lebih tinggi, kata Duhra. Bank-bank di Malaysia dan Singapura, misalnya, juga membayar peningkatan dividen dan telah melihat risiko surut.

“Asia Utara masih merupakan eksposur favorit bagi kami, tetapi pertumbuhan dividen datang melalui berbagai sektor dan negara,” katanya.

Pertanyaannya, apakah turbulensi yang melanda rupiah dan IHSG akan berhenti? Ini adalah pukulan kedua bagi Pemerintahan Jokowi, setelah September 2015. Pukulan tak hanya datang dari melemahnya rupiah, tapi juga IHSG dan kenaikan harga minyak. Tiga pukulan sekaligus telah membuat Presiden Jokowi segera mengambil langkah-langkah nyata di tengah segala keterbatasan yang ada.

Tekanan ekonomi semakin berat karena pemerintah harus menambah utang setiap hari, sehingga kompleksitas masalah ekonomi semakin rumit. Ini dasar dari semua sebab melemahnya rupiah yakni beban utang yang kebesaran. Sehingga sampai-sampai pemerintah membuka utang baru hanya untuk membayar bunga utang yang jatuh tempo, ini sinyal bahwa utang kita sudah seleher, alias berpotensi gagal bayar.

Situasi ini juga yang dibaca para investor global yang direalisasikan dengan keluar (pull-out) dari pasar Indonesia, termasuk India dan Filipina.

Ekonom senior dan mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Rizal Ramli mendesak pemerintah untuk membantu BI menyelamatkan rupiah yang saat ini melemah terhadap dolar AS.

Menurut dia, BI tak bisa terus menerus melakukan intervensi sendirian. Toh, intervensi BI yang dilakukan dengan menggelontorkan cadangan devisa ke pasar hanya akan membuat cadangan devisa terbuang di telan angin.

Pada awal Januari 2018, cadangan devisa masih tercatat sebesar US$132 miliar. Namun, per Maret 2018, posisi cadev berada di angka US$126 miliar dan memasui April turun lagi ke level US$125 miliar.. Menurutnya, penurunan cadangan devisa sebagian besar digunakan untuk intervensi rupiah dibandingkan pembayaran transaksi impor.

Untuk itu, Rizal minta pemerintah harus membantu BI menstabilkan rupiah dengan menjaga keseimbangan primer, defisit transaksi berjalan, hingga mengeluarkan kebijakan yang sesuai untuk merespon sentimen dari ekonomi global.

“Makanya, yang penting jaga ketahanan. Jadi, tugasnya adalah benahi yang itu tadi. Itu lebih banyak ke sektor fiskal,” katanya.

Ia menuturkan bahwa kondisi yang terjadi adalah keseimbangan primer minus Rp39 triliun dan transaksi berjalan yang defisit sekitar 2% hingga 2,5% pada tahun ini. Adapun transaksi berjalan defisit lantaran impor pemerintah yang cukup tinggi. Itu yang membuat Indonesia, semakin lama rupiahnya semakin melemah.

Akankah peristiwa 1998 (krisis moneter) terulang pada 2018 ini? Atau peristiwa 2008 (krisis subprime mortgage) atau lebih parah dari 2013 (krisis utang Eripa? Sepertinya 2018 mekanisme krisis yang terjadi relatif baru, sehingga Indonesia kembali yang akan menjadi korban. Semoga tidak terjadi.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here